• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 10 Desember 2022

Opini

KH Abd Nashir Abd Fattah, Teladan bagi Kaum Muda NU

KH Abd Nashir Abd Fattah, Teladan bagi Kaum Muda NU
Kekuatan Kiai Nashir dalam memegang prinsip sudah semestinya menjadi spirit bagi pemimpin muda NU. (Foto: NOJ/NU Network)
Kekuatan Kiai Nashir dalam memegang prinsip sudah semestinya menjadi spirit bagi pemimpin muda NU. (Foto: NOJ/NU Network)

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Sampun wangsul ngersanipun Allah SWT ayahanda KH Abd Nashir Abd Fattah. Pukul 06.20 Wib Di RS Dr. sutomo Sby.


Saat masih rutinitas bersepeda pagi, telepon genggam penulis berbunyi, Ahad (28/08/2022). Itu adalah komentar yang dikirim ke group IKA PMII Jombang tepat pukul 06.43 WIB. Pengirimnya adalah Muhammad Muchlis, Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang masa khidmat 2017-2022. Informasi ini diperolehnya dari Gus Rif’an, putra almarhum.  


Berita itu menyebar begitu cepatnya di berbagai perangkat media sosial. Ya, mengonfirmasi wafatnya seorang kiai senior di Jombang. Tidak sekadar kiai, namun juga pengayom bagi kalangan muda NU di Jombang. Ini mengingat posisi Kiai Nashir sebagai Rais PCNU Jombang, di samping Pengasuh Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.


Saat mampir untuk sarapan di warung lodeh Keras, tidak sengaja penulis berjumpa dengan Cak Subandi, Komandan Satkorcab Banser NU Jombang Subandi. Darinya, penulis makin meyakini kebenaran berita yang beredar. Cak Subandi juga banyak bercerita hal ihwal keistimewaan Kiai Nashir. Terutama dalam memimpin PCNU Jombang.


Wawasan Luas
Penulis pertama kali mengenal sosok Kiai Nashir pada pertengahan tahun 2010. Saat itu, penulis bersama Ma’had Aly Tebuireng hendak menggelar bedah buku berjudul Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari terbitan Kompas. Kegiatan itu akan menghadirkan Zuhairi Misrawi selaku penulis. Nama ini salah satu tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) yang saat itu sedang naik daun.


Bersama seorang teman, penulis dipanggil Kiai Nashir ke ndalem beliau di Tambakberas. Tujuannya hanya satu, beliau ingin mendengarkan alasan mengundang Zuhairi Misrawi. Meskipun penulis ketika itu juga sudah klarifikasi kepada Prof. Djamaluddin Miri, Mudir Ma’had Aly Tebuireng. Dalam pertemuan bertiga itu, diskusi terasa gayeng dan penuh keilmuan. Penulis tetap memposisikan sebagai santri yang sedang sowan kepada kiai yang juga Rais PCNU Jombang. 


Saat itu, sambil mendengarkan paparan penulis, Kiai Nashir dengan santai menghisap berbatang-batang rokok sigaretnya. Kami bertiga saat itu disuguhi kopi. Sepulang dari Tambakberas, ternyata kopi itu yang menyebabkan penulis tidak bisa mengantuk hingga adzan subuh datang. 


Pada pertemuan itu, Kiai Nashir bertanya alasan panitia mengundang salah satu tokoh JIL dari Jakarta itu. Apakah tidak dimungkinkan mengundang narasumber lainnya. Kami menjelaskan bahwa forum yang akan digelar adalah bedah buku. Jadi sudah sewajarnya mengundang Zuhairi selaku penulis. 


Panitia juga mengundang dua pemateri pembanding. Yaitu KH A Mustain Syafi’i, Mudir Madrasatul Qur’an Tebuireng, dan A Muhibbin Zuhri, dosen pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya. Kedua pemateri itu merupakan ikhtiar panitia dalam membendung dan menetralisir paham liberal yang diusung Zuhairi. 


Pada konteks ini, Kiai Nashir memahami upaya yang akan dilakukan panitia. Kiai Nashir juga dengan gamblang memaparkan posisi liberal dalam memahami ajaran Islam. Secara detail, Kiai Nashir mengkaitkan paham liberal yang ekstrem melakukan kontekstualisasi doktrin Islam. Bahkan terkadang “lepas” dari teks awal, yaitu Al-Qur’an dan hadits. 


Namun Kiai Nashir juga mengkritisi pemahaman yang tekstual-sentris dalam memahami Islam. Menurutnya, Islam tidak kaku seperti pemahaman dari para kaum tekstualis. Pada konteks ini, Kiai Nashir lalu memaparkan posisi ideologi NU di antara kedua kutub tersebut. Sehingga pertemuan itu berhasil menambah wawasan penulis tentang modernisasi Islam yang diusung NU. 


Setelah pertemuan malam hari hingga pukul 23.45 WIB itu, penulis masih sering bertemu Kiai Nashir. Meskipun forumnya lebih bersifat formalitas terkait dengan dunia pendidikan. Terutama saat pelaksanaan ujian nasional (UN). Di mana penulis ditugaskan dari SMAN 1 Jombang menjadi pengawas UN di Madrasah Mu’alimin Tambakberas. 


Muhammad Yahya Fuady, kolega penulis di Pengurus Wilayah Lembaga (PW) Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Jawa Timur, pernah bercerita kelebihan Kiai Nashir. Jauh hari sebelum terkenal seperti sekarang. 
Kisahnya, di tahun 2007, digelar forum bahtsul masail. Lokasinya di Tebuireng. Yang dibahas tentang hukum penggunaan formalin dalam pembuatan tahu.


Saat itu, Kiai Nashir sudah akrab dengan flashdisk dan maktabah syamilah. Padahal para peserta forum yang rata-rata masih muda, belum akrab dengan kedua hal tersebut. Ini menandakan bahwa Kiai Nashir merupakan sosok kiai yang sangat adaptif dalam merespons kemajuan teknologi. 


Total Berkhidmah
Awal bulan Januari 2022 kemarin, Maghfuri Ridwan, Wakil Sekretaris PCNU Jombang menghubungi penulis melalui media sosial. Pada intinya, penulis diharap kesediaannya untuk menjadi anggota Tim Evaluasi Konfercab NU Jombang 2022.


Pada awalnya, penulis menolak secara halus karena belum pernah menjadi pengurus NU di Jombang. Meski di tingkat ranting. Namun Maghfuri meyakinkan penulis bahwa hasil bahasan tim evaluasi akan diterbitkan menjadi sebuah buku. Pada poin ini, penulis akhirnya bersedia menjadi salah satu panitia. Tepatnya menjadi notula bagi tim evaluasi. Posisi ketua tim dipegang Muhammad Muchlis, Sekretaris PCNU Jombang.


Tugas pun dilaksanakan sesuai alur kerja tim. Mulai dari pertemuan bersama para pimpinan badan otonom, ketua lembaga, jajaran syuriyah dan tanfidziyah. Termasuk bertemu para pengurus dari Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) dan pengurus ranting. Mulai dari Kecamatan Kabuh hingga Wonosalam.


Di kepanitiaan ini, penulis sering bertemu kembali dengan Kiai Nashir dalam forum diskusi dan rapat formal. Dalam pandangan penulis, berbagai argumen yang disampaikan Kiai Nashir masih khas seperti dulu. Logis, detail, ilmiah dan objektif. Murni bagi kepentingan kemajuan organisasi NU. 


Memang banyak hal yang patut diteladani dari sosok Kiai Nashir. Pemahaman yang luas tentang ajaran Islam sudah selayaknya ditiru para generasi muda NU. Tidak sekadar ilmu agama, wawasan ilmu sosial yang juga luas dari sosok Kiai Nashir, harus diteladani saat ber-khidmah di NU. Dengan keduanya, keseimbangan dalam menjalankan roda organisasi akan terjaga.


Kekuatan Kiai Nashir dalam memegang prinsip juga sudah semestinya menjadi spirit bagi pemimpin. Berbagai pemikiran antisipatif dan preventif dalam membentengi NU dari kepentingan politik praktis juga menjadi teladan yang harus diteruskan. 


Tentu, berbagai keteladanan dari Kiai Nashir akan bermuara dari keikhlasannya untuk mengabdikan diri di NU. Pada poin ini, semua pihak mengakui dan angkat topi. Bahkan di saat fisik yang mulai melemah karena faktor usia, semangat dari Kiai Nashir dalam memimpin PCNU Jombang tetap tidak kendor.


Kini, kiai kharismatik yang mandataris Konfercab NU Jombang 2022 itu sudah tiada. Harus mengikuti garis takdir menghadap Sang Khaliq. Dengan meninggalkan warga NU Jombang di tengah polemik Konfercab NU yang belum usai. Semoga ujung dari itu semua akan segera ditemukan.  Selamat jalan Kiai Nasir. 

 

Mukani adalah Kepala Literacy Center PW LTNNU Jawa Timur dan Dosen STAI Darussalam Nganjuk


Editor:

Opini Terbaru