• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 26 Juni 2022

Opini

Menata Langkah IPNU dalam Momentum Kongres XX

Menata Langkah IPNU dalam Momentum Kongres XX
Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

Oleh: Wahyu Ilahi)*

Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) telah menetapkan tanggal pelaksanaan Kongres XX pada tanggal 14–17 Juli 2022 di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tentunya pelaksanaan Kongres jangan hanya dijadikan momentum pergantian kepemimpinan, namun juga kesempatan pengembangan dan pemantapan langkah progressif organisasi dalam menyoal eksistensi peran pelajar untuk umat. 


Melihat perkembangan nasional serta dinamika saat ini, IPNU menghadapi tantangan yang berat dalam menunjukkan kapasitasnya untuk mewujudkan pelajar berkualitas yang nantinya dapat ikut bersaing dalam kancah nasional maupun internasional. Keberadaan IPNU yang semakin "diremehkan" karena dirasa tidak mampu untuk menjalankan fokus segmentasinya dalam ranah keterpelajaran, menjadikan Kongres tahun ini sangat krusial untuk keberlangsungan organisasi kedepannya.


Arah organisasi
Sejak berdiri pada tahun 1954 banyak dinamika perubahan terjadi di dalam tubuh IPNU, salah satunya yang hingga saat ini masih dipersoalkan adalah arah organisasi IPNU yang dirasa keluar dari lingkup pelajar dengan adanya ekspansi pada ranah perguruan tinggi juga tingkatan organisasi di atasnya. Sehingga muncul pernyataan bahwa IPNU harus kembali ke khittah yaitu hanya mengurusi pelajar seperti pernyataan Gus Nusron Wahid saat Debat Kandidat Ketua Umum IPNU 14 April lalu.


Nyatanya IPNU memiliki cita-cita yang lebih dari pada sekedar kaderisasi pelajar, mengingat dawuh Ketua Umum pertama IPNU KH Tolchah Mansoer bahwa cita-cita IPNU ialah membentuk orang yang berilmu dan dekat dengan masyarakat. Dalam artian bahwa IPNU memiliki peran serta ikut mewujudkan kemaslahatan umat dengan menjadi bagian dari umat itu sendiri. Serta mendorong tumbuh kembang pondasi yang telah ditanamkan oleh para masyaikh dan pendiri NU.


Maka dari itu, tidak salah jika IPNU mulai mengepakkan sayapnya ke ranah krusial seperti perguruan tinggi. Tentunya hal ini diperlukan untuk menumbuhkan jaringan di berbagai tempat sehingga tujuan organisasi dapat terlaksana lebih efektif.


Jika IPNU hanya dibatasi pada ranah pengembangan pelajar, hal ini tentunya akan mematahkan pondasi yang telah dibangun sebelumnya. Serta menciptakan kekosongan pengaruh dari NU di ranah usia muda para pelajar dan akan berdampak buruk ke depannya.


IPNU back to komisariat

Harus diakui bahwa saat ini eksistensi IPNU di ranah tingkatan komisariat mulai terjadi penurunan. Tanpa mengurangi rasa ta'dzim kepada jajaran PBNU dan tanpa maksud menyudutkan pihak manapun, kita juga tidak dapat menyalahkan IPNU sepenuhnya dengan melihat kondisi yang sebenarnya terjadi di lapangan.


Masuknya IPNU di sekolah memang sangat penting menimbang ranah utamanya yang berada dalam segmentasi pelajar. Namun, hal ini tentunya tidak mudah melihat adanya kekhawatiran dari lembaga pendidikan terkait beberapa regulasi yang ada, sehingga mempersulit masuknya IPNU. 


Hal ini semakin sulit dengan kurangnya pendampingan dari Lembaga Pendidikan (LP) Ma'arif NU dan Rabitah Ma'ahid Islamiyah (RMI) NU untuk menyelasaikan pekerjaan rumah bersama ini. Walaupun terdapat arahan di pusat, namun tidak merata sampai ke bawah. 


Hal ini tentunya menjadi evaluasi bagi kita bersama untuk tidak 'mengkambing hitamkan' salah satu pihak, namun memperkuat kerja sama di antara banom NU.


Hadirnya IPNU di sekolah tidak harus dilihat dengan adanya komisariat, namun yang harus kita prioritaskan adalah bagaimana dapat menanam bibit kader di setiap sekolah. Seperti PC IPNU Jombang yang aktif mengadakan kegiatan Jum'at berkah pada tiap sekolah, sehingga hal ini akan menumbuhkan kader yang diharapkan nantinya dapat menjadi penggerak IPNU di lingkungannya.


Keberadaan IPNU di pesantren juga menjadi amat krusial, mengingat sejarah lahirnya NU yang tidak lepas dari pesantren. Sehingga terdapat pengibaratan NU adalah pesantren besar dan pesantren adalah NU kecil. 


Dalam rangka mengoptimalkan peran IPNU di pesantren, perlu adanya aturan yang jelas terhadap pengembangan IPNU di pesantren. Bagaimana sekiranya hal tersebut juga memperhatikan aspek dan kultur pesantren, sehingga kader IPNU di pesantren dapat menentukan arah geraknya dalam lingkup pesantren.


Mengacu pada trilogi dan panca kesadaran santri yang dibuat oleh KH Zaini Mun'im Pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, selain memiliki ilmu yang mumpuni, seorang santri juga diharuskan agar dapat memberikan kontribusinya pada masyarakat dalam mewujudkan kemaslahatan umat. 


Tentunya hal ini selaras dengan cita-cita IPNU. Pesantren dengan ribuan santri dari berbagai daerah juga lembaga pendidikan di bawahnya, jika bisa memaksimalkan hal ini, secara tidak langsung IPNU telah menumbuhkan bibit kader di daerah asal santri. 


Harus ada langkah yang tegas dalam memperkuat jaringan pesantren dan sekolah seperti menentukan nilai apa yang harus mereka terapkan dalam ruang lingkup pelajar serta memperkuat kembali jaringan dengan pihak terkait seperti dinas pendidikan.


Demikian pula hadirnya komisariat perguruan tinggi harus dimaksimalkan untuk memperkuat basis intelektual IPNU dan pendampingan bagi komisariat lainnya. Dengan memantapkan langkah di komisariat akan menjadi pondasi yang kuat untuk tingkatan di atasnya. Hal ini harus menjadi sinergi yang utuh dan erat bagi organisasi.


Salah satu hal yang juga harus mulai kita perhatikan adalah pengembangan kualitas kader. Alih-alih terus melakukan pembentukan komisariat. Saat ini kita terus menggalakkan pembentukan komisariat namun lupa untuk terus mengayomi mereka yang telah terbentuk sehingga pada akhirnya banyak komisariat yang mati.


Mengawal kongres
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa perhelatan forum musyawarah tertinggi IPNU yaitu Kongres pada tahun ini menjadi sangat krusial untuk keberlangsungan organisasi ke depannya. Momentum saat ini, harus kita maksimalkan untuk kembali menumbuhkan kepercayaan, serta memantapkan arah organisasi. Dengan kata lain, marilah kita kesampingkan sejenak kepentingan dan ego kita masing-masing sebagai wujud cinta kita pada ikatan.


14 April lalu, kita telah bersama menyaksikan Debat Kandidat Calon Ketua Umum IPNU. Setiap kandidat telah menyampaikan visi-misinya untuk kemajuan organisasi. Jika diperhatikan lagi, ada hal yang sama dalam tiap kandidat yaitu mewujudkan IPNU yang inovatif serta kolaboratif dalam menyongsong peradaban dunia. Maka harapannya, apapun hasil dari kongres dapat kita terima dan dilaksanakan dengan baik.


*Penulis merupakan Santri Aktif PP Nurul Jadid Paiton dan Ketua PKPP IPNU Nurul Jadid dan Wakil Sekretaris Departemen Jaringan Pesantren dan Sekolah PC IPNU Kota Kraksaan.


Editor:

Opini Terbaru