Home Metropolis Warta Pendidikan Malang Raya Pemerintahan Madura Parlemen Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Mitra Pustaka

Mengembalikan Makna NU dalam Menyambut Muktamar ke-34

Mengembalikan Makna NU dalam Menyambut Muktamar ke-34
Logo Mukatamar ke-34 NU. (Foto: NOJ/NO)
Logo Mukatamar ke-34 NU. (Foto: NOJ/NO)

Muktamar NU identik dengan laporan pertanggungjawaban, hingga pemilihan Ketua Tanfidziyah dan Rois 'Aam. Selain hal tersebut, kita sering mendengarkan semboyan manut kiai yang terdengar oleh sumber sekunder alias Nahdliyin. Menjadi perhatian khusus sebenarnya bagi para pengamat mengenai bagaimana peran sentral NU dalam menentukan pemilihan Ketua Tanfidziyah maupun Rois 'Aam. Demikian ini perlu melihat beberapa fakta, antara lain, bagaimana struktural pada tingkatan provinsi yang secara tiba-tiba mengunggahkan surat resmi melalui dunia maya hingga whatsapp grup terkait pernyataan dukungan dari salah satu calon. Hal tersebut juga menyebabkan banyak dari kalangan pengurus cabang (tingkat kota) hingga majelis wakil cabang (tingkat kecamatan) terkesan untuk mengikuti arahan pengurus wilayah (tingkat provinsi) dengan dalih manut dawuh kiai. Kedua, posisi NU sangat strategis di Indonesia. Sebab karena strategisnya posisi ormas Islam terbesar pada saat ini, juga terdapat banyak para oknum, kelompok hingga pribadi yang menjadikan NU sebagai kendaraan kepentingannya.

Ditinjau dari hal tersebut, sehingga dalam rangka pemilihan dan penempatan struktur pada tubuh NU seakan karena hubungan kekerabatan, atau bahkan karena memiliki maksud dan tujuan yang sama dalam meraih visi misi pribadinya. Ditinjau dari fenomena tersebut, penulis menemukan beberapa makna dari NU yang lebih kami spesifikkan dari kata Nahdlah atau bangkit. Apabila ditinjau dari kitab Qamus al-Mustalahat al-Sufiyah membeberkan mengenai al-Nahdlah sendiri memiliki makna:

هي القيام لله بالله بلا ممازجة هوى

"Berdiri untuk Allah SWT, demi Allah SWT, tanpa mencampur adukkan keinginan (hawa nafsu)"

 

Apabila kita mengilhami hal tersebut, maka sudah semestinya pemilihan Rais 'Aam hingga Ketua Tanfidziyah dan bahkan secara hierarki ke bawah ketika pemilihan pimpinan struktural pada tingkatan Badan Otonomi seperti Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor, IPNU dan IPPNU hingga beberapa lembaga seperti LAZISNU, LKKNU, LPNU, dan lain sebagainya perlu juga mengikuti metode para ulama terdahulu sebagaimana makna dari al-Nahdlah tersebut. Yaitu melalui istikhoroh, membersihkan hati, hingga benar-benar mendedikasikan amaliyah spiritual untuk kepentingan organisasi NU.

 

Bolehlah di dalam sistem pemilihan NU terdapat ahl al-Halli wa al-'Aqdi yang terdiri dari banyak kiai khos, beliau para kiai tersebut menentukan siapa yang akan didapuk menjadi Rais ‘Aam. Namun juga perlu menjadi panutan bagi setiap insan Nahdliyin secara hening juga melakukan riyadlah dan istikhoroh alias mengedepankan spiritualitas dalam menjaga marwah NU. Sehingga dengan tulisan ini, dapat dijadikan evaluasi bagi setiap insan yang nantinya berperan pada Muktamar NU, perlu semuanya melakukan riyadlah dalam menjalankan proses kesuksesan Muktamar NU. Bukan hanya mengandalkan kiai saja, namun juga meniru dan bersama-sama bersinergi dalam rohani untuk melanjutkan trah amaliyah Ahlussunnah wal Jama'ah.

 

Penulis adalah Alaika M Bagus Kurnia PS, Sekretaris MWCNU Wonocolo Surabaya

Terkait

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

Terkini