• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 29 September 2022

Opini

Mengenang Kepergian Kiai Muda Visioner, RKH M Thohir

Mengenang Kepergian Kiai Muda Visioner, RKH M Thohir
Almarhum RKH Muhammad Thohir. (Foto: NOJ/YTe)
Almarhum RKH Muhammad Thohir. (Foto: NOJ/YTe)

Selesai mengerjakan sejumlah laporan untuk kampus Al-Fithrah Surabaya di senja hari pada Sabtu (04/07/2021), tetiba mendapat kabar bahwa guru penulis dalam keilmuan dan sahabat dalam berdiskusi; RKH Muhammad Thohir, kiai muda Pondok Pesantren Mambaul Ulum, Bata-bata, Pamekasan, wafat. Sempat tidak percaya karena memang saat pelantikan pengurus ikatan alumni pesantren di Surabaya tahun lalu, masih berjumpa dan mengobrol tentang umat Islam.

 

Saat itu Ra Thohir, sapaan keseharian bercerita tentang cita-citanya akan kemandirian umat, oleh karena itu membangun beberapa jenis bisnis. Tapi setelah memastikan kabar duka tersebut ke beberapa pengajar di Bata-bata, barulah penulis tertegun tidak bisa berkata apa.

 

Kenangan sangat banyak bagi para santri terutama penulis karena almarhum seumuran dan sering berdiskusi tentang banyak hal.

 

Penulis tidak menyangka bahwa perbincangan di atas adalah kesempatan terakhir. Sebelum itu, penulis sering berbincang tentang agama, pendidikan, masyarakat Madura, struktur sosial masyarakat, bahkan tentang kritik sosial terhadap para kiai sekaligus santri.

 

Ra Thohir adalah seorang kiai muda yang berani menatap ke depan, bervisi besar. Dalam dirinya terdapat pemberontakan atas sesuatu yang menurutnya tidak seharusnya begitu, juga tidak terlalu suka jika orang menghormatinya hanya karena seorang anak kiai besar. Dia selalu ingin membuktikan bahwa dirinya adalah seorang Muhammad Thohir. Walaupun mengakui bahwa dalam dirinya mengalir apa yang disebut sebagai ‘darah langit’. Sebuah sebutan yang kemudian memperoleh hak priviledge atas statusnya tersebut. Walau begitu, dirinya tidak segan makan nasi bungkus bersama santri ataupun alumni, juga tak canggung duduk di lesehan bersama mereka.

 

Dalam konteks pendidikan, Ra Thohir ingin agar anak-anak kurang mampu secara ekonomi tidak minder untuk bercita-cita besar. Karena itulah sebenarnya hakikat kemerdekaan. Itu juga mengapa dirinya mensponsori dan mengagitasi santri untuk berani melanjutkan studi ke luar negeri. Bukan saja ke Mesir, tapi juga negara lain. Usaha itu dimulai dengan memberikan apresiasi serta pembekalan berbagai bahasa asing  dari mulai Arab, Inggris, Turki, Prancis, Tionghoa, dan lainnya kepada santri. Beberapa tahun terakhir usaha tersebut mulai membuahkan hasil, santri kemudian berani belajar ke Mesir, Yaman, Turki, China, Malaysia, dan tempat lain. Sejak enam tahun terakhir, Ra Thohir juga tidak lelah mendatangkan orang hebat baik dari tokoh nasional hingga internasional.  Harapannya tentu santri dapat melangkah tegap berani mengepakkan mimpi.

 

Pesantren Bata-bata memang terletak di sebuah kecamatan di pedesaan Kabupaten Pamekasan. Para santrinya juga banyak berasal dari sejumlah desa di Madura yang tak terlalu tersentuh pembangunan. Tapi dengan visinya, Ra Thohir membuat anak-anak udik itu menjadi manusia berani bersaing secara nasional ataupun global. Visi yang diperjuangkan berhasil melampaui batas geografisnya.

 

Dalam sebuah kesempatan di pertengahan 2009, Ra Thohir pernah berkata kepada penulis bahwa para santri tidak mungkin akan jadi kiai semua. Sektor-sektor lain juga harus diisi, untuk itulah mereka harus dipersiapkan agar kapabel meraihnya. Visi inilah yang kemudian melahirkan banyak badan otonom berbasis keilmuan di Bata-bata; mulai dari bahasa sampai dengan eksakta. Kalau dalam masalah kitab kuning, Bata-bata tak perlu diragukan lagi, bahkan sebagai master.

 

Selamat jalan, Ra Tohir. Semangat dan visi-visi masih membara di diri santri. Kami kehilangan sosok muda yang berani berpikir visioner dan mau meretas batas-batas tembok tradisi.

 

Iksan Kamil Sahri adalah Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum, Bata-bata, Pamekasan


Editor:

Opini Terbaru