• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 27 November 2022

Opini

Mengenang RKH Ahmad Idris Marzuki

Mengenang RKH Ahmad Idris Marzuki
Almaghfurlah RKH Ahmad Idris Marzuki. (Foto: NOJ/Lirboyo)
Almaghfurlah RKH Ahmad Idris Marzuki. (Foto: NOJ/Lirboyo)

Menjelang haul guru mulia almarhum RKH Ahmad Idris Marzuki yang wafat pada tanggal 10 Sya’ban 1435 Hijriah. Saya ingin menuliskan sebagian kenangan indah hidup bersama almarhum sejak pertama bertemu ketika di awal mondok di Lirboyo tahun 1986 dan berkhidmat melayani almaghfurlah hingga akhir hayatnya.

 

Bermula dari ketika saya usai menamatkan pendidikan di MTs Annur Bululawang Malang, ayah memutuskan agar saya melanjutkan mondok di pesantren diniyah salafiyah saja. Meskipun sesungguhnya saya ingin mondok dan sekolah formal di Pondok Pesantren Almunawwir Krapyak Yogjakarta, ayah saya memberikan pilihan hanya tiga pesantren; Lirboyo, Ploso dan Sidogiri Pasuruan.

 

Takdir ternyata menuntun saya memilih mondok di Lirboyo sesuai istikharah ibunda. Sehingga kemudian diputuskan untuk berangkat mondok ke Lirboyo Kediri dengan diantar oleh almarhum ayah dan kakek saya  sowan kepada RKH Ahmad Idris Marzuki, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo saat itu dan para pengasuh lain.

 

Pertama kali bertemu Kiai Idris di ndalem sepuh, saya melihat sosoknya sebagai kiai yang ramah, sederhana, khusu dan tawadlu. Almaghfurlah menggunakan bahasa Jawa halus dan sangat menghormati tamu. Ciri khas sederhana itulah penampakan Pesantren Lirboyo yang pertama saya lihat, sungguh di luar ekspektasi; ketika harus mandi menimba sendiri di sumur senggot, selalu memakai sarung, tidak pernah pakai celana atau bersepatu. Sekolah pun duduk di lantai tanpa meja dan bangku.

 

Ayah saya sangat memegang tradisi menghormati kiai. Saat kembali ke pondok di awal tahun ajaran baru, selalu menyempatkan diri untuk mengantar saya kembali ke pondok pesantren dan sowan kepada kiai. Pernah suatu ketika ayahanda sakit dan saya mohon izin untuk kembali ke pondok pesantren sendiri, tapi dilarang dengan berkata: “Jangan nak, kamu harus saya antar sendiri sowan kepada kiai. Saya pasrahkan agar di doakan oleh kiai.”

 

Karena itulah hubungan keluarga saya menjadi sangat dekat dengan kiai,  hingga kemudian bertakdir dijodohkan dengan salah satu keponakan kiai, dan adik kandung saya juga menjadi salah satu menantu keponakan.

 

Hubungan yang lebih dekat lagi ketika Muktamar NU di Lirboyo tahun 1999. Ketika itu saya berhasil membawa 15 unit mobil sedan baru untuk membantu akomodasi muktamar yang dipinjamkan oleh sebuah perusahaan otomotif kenalan dari Jakarta. Kala itu muktamar memilih KH A Hasyim Muzadi sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Kebetulan Kiai Hasyim adalah murid kesayangan almarhum kakek, RKH Anwar Nur, Pendiri Pondok Pesantren Annur Bululawang Malang. Dan hal ini membuat saya sering diperintah menjadi penghubung antara beliau selaku Ketum PBNU dengan guru saya alm RKH Ahmad Idris Marzuki dan para kiai sepuh pengasuh pesantren salaf lain.

 

Dulu, setelah dari tamat dari Pesantren Gontor, Kiai Hasyim dititipkan oleh KH Muchith Muzadi kepada Mbah Anwar kakek saya di Bululawang. Mbah Kiai Muchit Muzadi  pernah guyonan kepada saya: “Dulu kalau Hasyim ngga aku titipkan kepada kakekmu mungkin sudah menjadi Muhammadiyah.”

 

Alhamdulillah, sejak setelah muktamar itu saya sering diutus menyertai berbagai perjalanan Kiai Idris baik di dalam maupun luar negeri. Saat almarhum Mbah Kiai  Idris menjadi Rais PBNU, Wakil Ketua Dewan Syuro Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan terakhir sebagai Musytasyar PBNU, saya dengan senang hati sering menjadi khadim perjalanannya. Seringkali kami tinggal menginap sekamar bersama berhari-hari bahkan kadang beberapa pekan. Dalam perjalanan rutin tugas di Jakarta dan juga di berbagai kota dan negara lain di antaranya Malaysia, Singapura, Thailand, China, Hongkong, Mesir, Saudi Arabia, Yaman, Maroko, Dubai, Yordania dan Palestina.

 

Saya sungguh bersyukur telah diberi kesempatan belajar langsung kepada almarhum dalam praktik kehidupan sehari-hari. Di mana saya dapat melihat, mendengar dan berdiskusi bersama almarhum dalam berbagai hal. Saya sering didawuhi tentang beberapa hal bahkan yang bersifat pribadi sekalipun. Almarhum  terasa begitu dekat, saya merasakan bahkan lebih dekat dari ayah kandung sendiri.

 

Almarhum adalah kiai yang alim  dan zuhud, tidak sibuk mempersoalkan urusan duniawi. Saya yang selalu membawakan tasnya pergi ke mana-mana, ketika ada sowanan langsung dimasukkan begitu saja,  dan tidak pernah dihitung uang yang ada di dalamnya sama sekali. Bahkan pernah almarhum diberi amplop berisi uang pecahan dolar AS dalam jumlah sangat besar, ditaruh begitu saja di almari hingga lupa tidak dibuka sampai lima tahun! Hingga suatu saat almarhum menelpon saya ketika membuka amplop itu dan bermaksud mentasharrufkannya sambil tertawa.

 

Saya sangat mengagumi almarhum, sebagai guru dan orang tua yang bijak, sabar dan welas asih. Sosok yang sangat sederhana dan bersahaja, tulus ikhlas dan tanpa pamrih dalam keseharian. Mempunyai selera humor yang bagus, memberi nasihat dengan halus, tidak pernah berucap kasar bahkan selalu berbahasa Jawa halus kepada murid seperti saya.

 

Saya belajar tentang disiplin istikamah dalam keseharian, melihat berbagai lelaku wirid dan amalan sunnah yang dilakukan. Saya terkagum dengan keberaniannya menyatakan pendapat secara ikhlas, berdiri tegak melawan arus dalam kebenaran. Saya mengagumi keteguhan hatinya memegang prinsip, kesabaran menghadapi gangguan dan rintangan. Selalu tabah dan tenang memecahkan permasalahan serta murah hati dalam kebaikan.

 

RKH Ahmad Idris Marzuki adalah pribadi yang sangat tawadlu dan tidak suka pujian. Suka bermusyawarah dan tidak memaksakan kehendak, gemar bersilaturahim dan sangat memperhatikan hubungan kekerabatan. Dikenal berjiwa pemaaf dan lebih suka mengalah terutama pada sanak saudara. Termasuk menghormati habaib dan ulama, baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal.

 

Sungguh saya sangat merasa berutang budi kepada almarhum. Atas jasanyalah saya mendapatkan banyak sekali kebaikan dan keberkahan dalam hidup. Almarhum  adalah orang tua dan guru panutan sempurna bagi hidup saya selamanya. Saya sungguh mencintainya, semoga kelak disatukan dengan almarhum di surga-Nya, amin.

 

H Ahmad Fahrur Rozi  adalah khadim Pondok Pesantren Annur 1 Bululawang Malang.


Editor:

Opini Terbaru