• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 8 Agustus 2022

Opini

Pancaran Kiprah 122 Tahun Perjalanan Pesantren Tebuireng

Pancaran Kiprah 122 Tahun Perjalanan Pesantren Tebuireng
Suasana gerbang Pesantren Tebuireng, Jombang saat malam. (Foto: NOJ/LKo)
Suasana gerbang Pesantren Tebuireng, Jombang saat malam. (Foto: NOJ/LKo)

Pada akun Instagram Tebuireng.online disebutkan bahwa pada 28 Rabiul Awal 1317 H yang bertepatan dengan tanggal 3 Agustus 1899 M, KH Hasyim Asy'ari mendirikan Asy'ari secara resmi mendirikan tempat belajar dan mengaji para santri dengan diberi nama Pesantren Tebuireng yang hingga sekarang ini telah mencetak para ulama.

Bahkan santrinya juga tak hanya menjadi tokoh agamawan, namun juga di bidang lainnya. Ikut serta mengubah peradaban masyarakat berbasis santri. Kehadiran Pesantren di tengah masyarakat sempat mendapatkan respons kurang baik. Seiring berjalannya waktu, masyarakat justru bangga akan kehadiran Pesantren Tebuireng.
 

Pesantren Tebuireng Jombang terus mengembangkan diri. Kini, banyak cabang pesantren ini yang didirikan di luar kota, bahkan di luar pulau. Unit pendidikan yang dulunya bisa dihitung dengan jari, kini juga makin bertambah. Mulai Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy). Bahkan unit-unit tersebut kini ditambah lagi dengan Madrasah Diniyah, Madrasah Mu’allimin, dan Ma’had Aly.

 

Di samping itu juga hadir unit-unit penunjang lainnya seperti Unit Penerbitan Buku dan Majalah, Unit Koperasi, Unit Pengolahan Sampah, Poliklinik, Unit Penjamin Mutu, unit perpustakaan, dan lain sebagainya. Semua unit tersebut (selain Unhasy), merupakan ikon dari eksistensi Pesantren Tebuireng sekarang.

 

Dikutip dari Tebuireng online, secara geografis letak Pesantren Tebuireng cukup strategis, karena berada di tepi jalan raya Jombang-Malang dan Jombang-Kediri. Lalu lintas yang melewati Desa Cukir terbagi dalam tiga jalur. Pertama, jalur utara-barat daya yang merupakan lintasan dari kota Jombang menuju Kediri-Tulungagung-Trenggalek melewati Pare. Kedua adalah jalur utara-tenggara yang merupakan lintasan dari Kota Jombang menuju Malang melalui Kota Batu.

 

Pada awal tahun 1900-an, penduduk Tebuireng rata-rata berprofesi sebagai petani dan pedagang. Namun sekarang keadaannya sudah berbeda. Mayoritas penduduk Tebuireng kini bekerja sebagai pedagang, pegawai pemerintah dan swasta, dan sebagian lagi berprofesi sebagai guru. Jarang sekali yang berprofesi sebagai petani.

 

Semaraknya suasana Tebuireng dan sekitarnya, ditopang oleh keberadaan sejumlah pesantren yang tersebar di hampir setiap sudut desa. Suasana kahidupan pesantren sangat terasa di kawasan ini. Setiap hari, orang-orang bersarung, berpeci, dan berjilbab, berlalu-lalang di sekitar jalan raya.

 

Bila lebaran tiba, kawasan Tebuireng dan sekitarnya menjadi sepi karena para santri/siswa pulang kampung (mudik). Ini membuktikan bahwa keberadaan santri/siswa merupakan faktor utama yang membuat semarak kehidupan di Tebuireng dan sekitarnya.

 

Bermula dari Sarang Maksiat
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, nama Tebuireng berasal dari kata ‘kebo ireng’ (kerbau hitam). Konon, ada seorang penduduk yang memiliki kerbau berkulit kuning (kebo bule). Suatu hari, kerbau tersebut menghilang dan setelah dicari kian kemari, kerbau itu ditemukan dalam keadaan hampir mati karena terperosok di rawa-rawa yang banyak dihuni lintah. Sekujur tubuhnya penuh lintah, sehingga kulit kerbau yang semula berwarna kuning kini berubah menjadi hitam. Peristiwa ini menyebabkan pemilik kerbau berteriak “kebo ireng …! kebo ireng …!” Sejak saat itu, dusun tempat ditemukannya kerbau itu dikenal dengan nama Kebo Ireng.

 

Pada perkembangan selanjutnya, ketika penduduk dusun tersebut mulai ramai, nama Kebo Ireng berubah menjadi Tebuireng. Tidak diketahui dengan pasti kapan perubahan itu terjadi dan apakah hal itu ada kaitannya dengan munculnya pabrik gula di selatan dusun tersebut, yang banyak mendorong masyarakat untuk menanam tebu? Karena ada kemungkinan, karena tebu yang ditanam berwarna hitam, maka dusun tersebut berubah nama menjadi Tebuireng.

 

Pamor Pesantren Tebuireng tentulah tak bisa dilepaskan dari karisma legendaris pendirinya, KH M Hasyim Asy’ari. Sejak muda Hasyim Asy’ari, yang lahir di Dusun Gedang, Desa Tambakrejo, Kecamatan/Kabupaten Jombang, 14 Februari 1871, dikenal sebagai sosok yang cerdas, ulet, dan mampu melihat jauh ke depan. Pada usia 15 tahun, putra ketiga KH Asy’ari itu sudah mengembara, belajar dari satu pesantren ke pesantren lain.

 

Misalnya, Hasyim muda pernah berguru di Pondok Pesantren Wonokoyo, Pasuruan; Pondok Pesantren Langitan, Tuban; Pondok Pesantren Tenggilis, Surabaya; Pondok Pesantren Demangan, Bangkalan; dan Pondok Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo -semuanya di Jawa Timur.

 

Setelah itu berangkat ke Makah al-Mukarramah, dan belajar secara tekun selama tujuh tahun kepada beberapa ulama besar – satu di antaranya Syekh Akhmad Khatib (sepupu Haji Agus Salim), yang pernah menjadi imam besar Masjidil Haram di masa itu.

 

Setelah kembali ke kampung halaman, Hasyim Asy’ari muda mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng. Ketika hendak membangun pesantren di Tebuireng, kawan-kawannya menertawakan Hasyim Asy’ari. Tak bisa disalahkan, Dusun Tebuireng ketika itu terkenal sebagai tempat plesiran. Hanya sekitar 300 meter dari lokasi pesantren, terdapat pabrik gula yang didirikan Belanda pada 1884. Kehadiran pabrik gula ini membawa sejumlah perubahan nilai bagi masyarakat Tebuireng dan sekitarnya.

 

Para buruh pabrik umumnya berasal dari kota, dan mondok di rumah penduduk. Uang cukup, ya mereka perlu tempat hiburan. Maka dalam waktu singkat Dusun Tebuireng menjelma jadi tempat maksiat.
Muncul warung-warung minuman keras, rumah-rumah bordil, dan tempat judi. Sering pula digelar pasar malam yang mengundang penjambret. Begitulah, Tebuireng beken sebagai kawasan hitam di Jombang.
Karena itu, kawan-kawannya sesama ulama sempat mengingatkan agar Hasyim Asy’ari tidak meneruskan niatnya. “Ibarat masuk ke sarang harimau,” kata mereka ketika itu, seperti dikutip dari Gatra, 3 Mei 1999, dalam edisi Satu Abad Pesantren Tebuireng.

 

Tapi Hasyim Asy’ari tak gentar. Ia menjawab cibiran kawan-kawannya dengan ucapan: “Menyiarkan agama Islam itu artinya memperbaiki manusia. Jika manusia itu sudah baik, apanya yang mau diperbaiki. Berjihad itu artinya berani menghadapi kesukaran dan sedia berkorban. Contoh-contoh ini telah ditunjukkan Nabi dalam perjuangannya,” katanya, sebagaimana dikutip dalam buku Kiai Hasjim Asy’ari, Bapak Umat Islam Indonesia, karangan KH Abdul Karim Hasyim, 1949.

 

Ia lantas membeli dua bilik yang terbuat dari anyaman bambu. Satu bilik dipakai untuk keluarganya, bilik lain untuk para santri. Mula-mula pesantren ini cuma dihuni 28 santri. Selama dua tahun Hasyim Asy’ari harus menghadapi berbagai teror, karena masyarakat sekitar tidak suka kehadiran pesantrennya. Mereka bahkan tidak segan mengancam hendak membunuh para santri.

 

Bila malam tiba, para peneror itu siap dengan senjata terhunus. Karena itu, para santri harus mengambil posisi tidur menjauh dari dinding, yang hanya terbuat dari tepas, alias bambu anyaman. Mereka tidur bergerombol di tengah, sebab khawatir ditembus parang. Sampai harus diadakan piket bergiliran.

 

Menghadapi teror itu Hasyim Asy’ari sempat putus asa. Ia lalu minta bantuan sejumlah kiai dari Cirebon, Jawa Barat. Para santrinya kemudian dilatih ilmu bela diri. Pesantren mulai aman, dan lambat laun terus berkembang. Dalam tempo 10 tahun, santrinya mencapai jumlah 200 orang. Bersamaan dengan itu, praktik-praktik maksiat yang dulu subur berangsur-angsur luntur.

 

Kiai Hasyim mendidik santri dengan sabar dan telaten dengan memusatkan perhatian pada usaha mendidik santri sampai sempurna menyeleseaikan pelajarannya. Kemudian mereka mendirikan pesantren di daerah masing-masing.

 

Kiai Hasyim juga ikut aktif membantu pendirian pesantren-pesantren yang didirikan oleh murid-muridnya, seperti Pesantren Lasem (Rembang, Jawa Tengah), Darul Ulum (Peterongan, Jombang), Mambaul Ma’arif (Denanyar, Jombang), Lirboyo (Kediri), Salafiyah-Syafi’iyah (Sukorejo, Situbondo), Nurul Jadid (Paiton, Probolinggo), dan lain sebagainya.

 

Berkat polesan dan kebesaran KH Hasyim Asy’ari, Tebuireng bersalin rupa menjadi desa yang agamis, dan nama pesantren ini pun mulai terkenal ke seluruh pelosok Nusantara. Nama Tebuireng makin berkibar ketika Hasjim Asy’ari, bersama sejumlah kiai, memelopori berdirinya Nahdlatul Ulama di Surabaya, 31 Januari 1926.

 

KH Hasyim Asy'ari terpilih menjadi rais akbar pertama organisasi ini. Patut dicatat, gelar  tersebut hanya melekat pada diri Hasjim Asy’ari. Pimpinan tertingga di organisasi ini sesudahnya cuma berpredikat rais am. Sejarah mencatat, dengan NU-nya inilah Hasjim Asy’ari memainkan peran penting pada masa menjelang dan setelah kemerdekaan.

 

Resolusi Jihad
Salah satu sikap nonkooperatifnya terhadap penjajah, Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa: umat Islam haram memakai dasi. ‘Gempuran’ pada simbol yang mewakili kultur penjajah ini ternyata ampuh dalam mengobarkan semangat heroik dan perlawanan rakyat. Dan setelah kemerdekaan Indonesia, Hasyim Asy’ari kembali merepotkan penjajah Belanda yang hendak melakukan agresi. Pada 22 Oktober 1945, ia mengeluarkan ‘resolusi jihad’.


Ia menyerukan kepada umat Islam untuk berjihad melawan penjajah Belanda pada radius sekitar 90 kilimeter dari basisnya. Ketika itu, serdadu Belanda ikut masuk ke Surabaya dengan membonceng tentara Sekutu. Getaran resolusi jihad itulah, antara lain, kelak mengguncangkan dunia dengan lahirnya peristiwa bersejarah 10 November, yang kini dikenal sebagai Hari Pahlawan.

 

Masih dalam kaitan menghadapi agresi Belanda, tahun 1947, sebelum wafat, Hasyim Asy’ari memelopori pembentukan milisi. Siang hari pesantren dipakai sebagai tempat belajar agama. Malamnya disulap jadi pusat latihan militer, sehingga terbentuk laskar Hizbullah, yang berlangsung sampai 1949. Setelah Hasyim Asy’ari wafat, laskar ini dikendalikan oleh putranya, Yusuf Hasyim (setelah Belanda hengkang, Yusuf Hasjim mengundurkan diri dari militer, dengan pangkat letnan satu).

 

Tongkat Estafet Tebuireng

Ketika Hasyim Asy’ari wafat, 1947, ia sudah menyiapkan penggantinya, yaitu putranya sendiri, Wahid Hasjim -yang dikenal cerdas sejak muda. Pada 1950, dalam usia baru 39 tahun, ia sudah menjadi Menteri Agama Republik Indonesia.

 

Karena kesibukannya di Jakarta, kepemimpinan pesantren Tebuireng diserahkan kepada KH Karim Hasyim. Setelah Karim wafat, 1951, tongkat kepemimpinan diserahkan kepada KH Achmad Baidhawi, yang memimpin cuma setahun, karena meninggal dunia. Setelah itu, sejak 1952 sampai 1965, Tebuireng dipimpin KH Kholik Hasyim. Dan sejak 1965 sampai 2006, dikendalikan oleh KH Yusuf Hasyim.

 

Di bawah Yusuf Hasyim atau Pak Ud, pesantren ini tak lagi mengajarkan ilmu-ilmu agama, melainkan juga mendirikan SMP dan SMU. Mulai tahun 2006 sampai 2019, pengasuh Tebuireng dipegang cucu Hadratusyaikh KH Hasyim Asyari, KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah. Pada masa inilah cabang Tebuireng berdiri di luar kota dan luar pulau. Lembaga pendidikan baru juga banya didirikan semisal SMA Trenseins dan SDI Tebuireng Ir Soedigno.

 

Setelah Gus Sholah wafat, kepemimpinan pesantren Tebuireng mulai 2020 sampai sekarang dipegang oleh KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. Siapapun pengasuhnya, cahaya ilmu dari Pesantren Tebuireng terus memancar ke pelosok negeri di usianya yang telah memasuki 122 tahun.  

 

Yusuf Wibisono adalah Pewarta di Berita Jatim.Com, dan Tinggal di Jombang.


Editor:

Opini Terbaru