• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 15 Agustus 2022

Pantura

Ketua DPD RI Prihatin, Negara Krisis Akhlak dan Adab

Ketua DPD RI Prihatin, Negara Krisis Akhlak dan Adab
Ketua DPD RI (baju putih) saat meresmikan gedung Yayasan DHMS di Lamongan. (Foto: NOJ/Pan)
Ketua DPD RI (baju putih) saat meresmikan gedung Yayasan DHMS di Lamongan. (Foto: NOJ/Pan)

Lamongan, NU Online Jatim
Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, mengatakan negara kekurangan orang beretika dan bermoral. Oleh sebab itu, ia menekankan pentingnya lembaga pendidikan mencetak generasi yang berakhlak dan beradab. Bukan sekadar mencetak siswa atau santri yang cerdas.


"Negara ini krisis orang-orang yang memiliki etika, moral dan adab," katanya saat meresmikan gedung Yayasan DR Haji Maruf Syafii atau DHMS di Lamongan, Jumat (01/07/2022).


Ditegaskannya bahwa esensi dari tujuan pendidikan nasional adalah menghasilkan kaum terdidik atau intelektual yang beretika. Juga bermoral dan berbudi pekerti luhur seperti para pendiri bangsa.


"Makanya saat memberi kata pengantar buku 1 Abad Tamansiswa, saya sampaikan pentingnya membumikan kembali semboyan yang digagas Ki Hajar Dewantoro,” katanya. Yaitu Ing ngarso sung tulodo; Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani. Karena menurutnya, itulah etika, moral, budi pekerti atau akhlak yang seharusnya menjadi esensi dari tujuan pendidikan nasional bangsa, lanjutnya. 


Menurut LaNyalla, mereka yang bermoral, beretika dan memiliki akhlak inilah yang harus menjadi pemimpin bangsa. Juga para hikmat yang memiliki kebijaksanaan dan yang harus ditimbang pendapatnya dalam musyawarah untuk menentukan arah perjalanan bangsa.


"Bukan mereka yang lahir dari pencitraan dan survei-survei yang dibuat untuk mempengaruhi persepsi publik. Karena popularitas sama sekali tidak ada hubungannya dengan etika, moral dan akhlak," tegasnya.


Menurut LaNyalla, akhlak dan adab adalah fondasi dari generasi bangsa. Tanpa akhlak dan adab, generasi bangsa ini tidak akan memiliki karakter dan ketahanan di tengah kondisi negara Indonesia yang semakin sekuler, liberal dan kapitalistik.


Karena terus terang saja, negara telah meninggalkan Pancasila sebagai grondslag bangsa. Di mana kedaulatan rakyat di dalam sistem demokrasi perwakilan yang didesain oleh para pendiri bangsa sudah terkikis dan hilang.


Puncaknya dari semua itu adalah saat dilakukannya Amandemen Konstitusi pada tahun 1999 hingga 2002 silam dengan cara yang ugal-ugalan dan tidak menganut pola addendum. Sehingga menjadi bangsa yang lain dan tercerabut dari akar sejarah.


"Karena itulah dengan menghasilkan generasi bangsa yang berakhlak dan beradab, Insyaallah kita akan dapat mengembalikan Indonesia kepada Pancasila sebagai negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Kembali kepada demokrasi asli bangsa ini yang pendekatannya konsensus. Bukan dengan pendekatan mayoritas," tukasnya.


Dirinya berharap siswa dan santri yang dididik di Yayasan DHMS menjadi salah satu dari generasi yang berakhlak dan beradab tersebut. Sehingga perjuangan untuk mengembalikan Indonesia kepada nilai-nilai luhur yang digagas oleh para pendiri bangsa semakin cepat terwujud. 


“Sehingga Indonesia ke depan akan menjadi bangsa yang berdaulat, berdikari dan mandiri," tutupnya.


Hadir dalam acara tersebut Ketua PWNU Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar, Ketua Dewan Pembina Yayasan DHMS, H Makruf Syah, Ketua Pengurus Yayasan DHMS, Ahmad Anas Faqih, sejumlah tokoh masyarakat, ustadz, wali dan santri.


Editor:

Pantura Terbaru