Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Penjual Cimol Ini Rela Tinggalkan Dagangan saat Kumandang Adzan

Penjual Cimol Ini Rela Tinggalkan Dagangan saat Kumandang Adzan
Muhammad Hadi, pedagang cimol yang selalu menjaga shalat. (Foto: NOJ/Hilyatul Maknunah)
Muhammad Hadi, pedagang cimol yang selalu menjaga shalat. (Foto: NOJ/Hilyatul Maknunah)

Malang, NU Online Jatim

Setiap hari kecuali Selasa dan Jumat, Muhammad Hadi berjualan cimol sebagai ikhtiar menyambung kehidupan keluarga. Biasanya ia berjualan di jalanan sekitar gerbang masuk Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dengan beberapa penjual lain.

 

“Saya baru dua tahun berjualan di sini, sebelumnya ikut orang jualan kopi dan gula di Pasar Wajak,” kata pria kelahiran Pamekasan ini saat berjualan.

 

Pukul 9 pagi, Hadi sudah memarkir motor bebek sederhananya yang memuat etalase dagangan di depan kampus. Kemudian ia duduk sembari menunggu pembeli datang dan sesekali menggoreng cimol untuk persediaan.

 

Semenjak pandemi Covid-19 melanda, ia merasakan dampak penurunan pendapatannya hingga lebih dari 50 persen. “Biasanya sore dagangan sudah habis, semenjak pandemi begini bisa sampai malam juga,” terang ayah dua anak itu.

 

Yang menari dari sosoknya adalah saat terdengar suara adzan. Hadi rela meninggalkan jualan dengan mengunci etalase dagangan, kemudian menuju mushala di seberang jalan dan melaksanakan shalat berjamaah.

 

“Saya kan jualan  sampai malam, jadi biasanya shalat Dluhur, Ashar dan Maghrib di mushala gang depan,” akunya. Tapi ketika ada pembeli, maka dilayani dulu, asalkan tetap shalat, lanjutnya.

 

Pria yang pernah mengadu nasib di Semarang tersebut tidak khawatir saat meninggalkan dagangan, sebab sudah berusaha mengamankan. Apalagi dalam perkiraannya, ke mushala untuk keperluan shalat paling lama 20 menit. Setelah itu kembali berjualan.

 

“Kadang pulang dari mushala ada pembeli yang menunggu, tapi banyak juga yang tidak jadi membeli,” akunya. Namun hal tersebut tidak disesali karena rezeki sudah diatur, dan dirinya sudah berusaha.

 

Hadi tidak berjualan pada Hari Selasa dan Jumat sebab harus melakukan rutinitas cuci darah karena penyakit gagal ginjal yang diderita sejak 9 tahun lalu. Meski demikian tidak menyurutkan semangat untuk tetap mencari nafkah. Ia juga tetap menjaga kewajiban sebagai seorang hamba yaitu melaksanakan shalat lima waktu.

 

Hadi mengisahkan bahwa ketaatan menjaga shalat karena teringat pesan sang guru ngaji di kampung. Bahwa ustadznya di Pamekasan senantiasa mengingat pesan agar tidak meninggalkan shalat. “Karena shalat lima waktu adalah kewajiban seorang muslim,” katanya menirukan pesan sang guru.

 

Dijelaskan bahwa mengerjakan shalat paling lama 10 menit. Kalau semua diakumulasikan berarti 50 menit atau 1 jam.

 

“Saya malu kalau 24 jam yang dikasih Allah kok tidak menyempatkan shalat. Saya ingat kata guru saya dulu, shalat itu kewajiban yang diperintahkan Allah,” tutur Hadi.

 

Saat kecil, dirinya sudah ditinggal wafat ayahnya. Ada sebuah keinginan yang belum tersampaikan. Dirinya ingin melanjutkan pendidikan formal sambil masuk pesantren.

 

“Waktu kelas 4 SD, bapak meninggal, sehingga saya bantu cari uang. Sebenarnya ingin masuk pesantren, tapi kasihan sama ibu,” ujar bungsu dari 9 bersaudara itu.

 

Dirinya berniat untuk mendaftarkan putra pertamanya ke pondok pesantren melanjutkan cita-cita masa kecilnya. Saat ini putra pertamanya masih di bangku SD kelas 4.

 

“Alhamdulillah, dia mau dipondokkan, saya ingin anak-anak saya itu jadi orang yang baik, rajin shalat dan bermanfaat. Kalau di al-Quran itu seperti doa Nabi Ibrahim rabbij’alni muqimas shalati wa min dzurriyati rabbana wa taqabbal du’a,” harapnya.

 

Hadi memiliki keyakinan bahwa ketika seorang muslim memperbaiki shalat, artinya dia juga memperbaiki kehidupannya. “Dunia dan akhirat,” pungkas dia.

 

Editor: Syaifullah

F1 Promosi Iklan