• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 23 April 2024

Rehat

Mengenang Wafatnya KH M Hasyim Asy’ari pada 7 Ramadhan

Mengenang Wafatnya KH M Hasyim Asy’ari pada 7 Ramadhan
Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari. (Foto: Dok. Istimewa)
Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari. (Foto: Dok. Istimewa)

Tanggal 7 Ramadhan merupakan waktu wafatnya Rais Akbar NU Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari. Mbah Hasyim, demikian familiar diucapkan, wafat pada 7 Ramadhan 1366 H silam. Dan hari ini, 7 Ramadhan 1445 H, peristiwa wafatnya Mbah Hasyim telah berjalan 79 tahun.

 

Namun, warga Nahdlatul Ulama (NU) atau Nahdliyin sebagian melupakan momentum tersebut. Justru, yang lebih diingat ialah wafatnya cucu Mbah Hasyim, yakni KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang tak lain Presiden ke-4 RI. Bahkan, dalam setiap memperingati wafatnya (Haul) Gus Dur digelar acara meriah.

 

Lantas, mengapa saat hari wafatnya Mbah Hasyim serasa sepi tanpa acara yang spesial? Sebagian orang berspekulasi bahwa hal ini merupakan buah dari pandangan Mbah Hasyim yang menolak hari wafatnya diperingati secara khusus agar tidak ada kultus individu.

 

Seperti diketahui, Mbah Hasyim terlahir pada Selasa Kliwon 24 Dzul Qa’dah 1287 H yang juga bertepatan dengan 14 Februari 1871 M di Pesantren Gedang, Tambakrejo, Jombang, Jawa Timur. Mbah Hasyim merupakan putra ketiga dari 11 bersaudara dari pasangan Kiai Asy’ari dan Nyai Halimah.

 

Dari jalur ayah, nasabnya bersambung kepada Maulana Ishak hingga Imam Ja’far Shadiq bin Muhammad al-Baqir. Sedang dari jalur ibu, nasabnya bersambung kepada Raja Brawijaya VI (Lembu Peteng) yang berputera Karebet atau Jaka Tingkir, raja Pajang pertama (1568) dengan gelar Sultan Pajang atau pangeran Adiwijaya.

 

Diceritakan dalam buku Profil Pesantren Tebuireng, bahwa pada 3 Ramadhan 1366 H yang bertepatan dengan tanggal 21 Juli 1947 M, jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. Seperti biasa Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari baru saja selesai mengimami shalat tarawih. Mbah Hasyim duduk di kursi untuk memberikan pengajian kepada ibu-ibu muslimat. Tak lama kemudian datang seorang utusan Jenderal Sudirman dan Bung Tomo.

 

Mbah Hasyim menemui utusan tersebut didampingi Kiai Ghufron yang juga pimpinan Laskar Sabilillah Surabaya. Sang utusan menyampaikan surat dari Jenderal Sudirman yang berisi tiga pesan pokok. Kepada utusan kepercayaan dua tokoh penting tersebut Mbah Hasyim meminta waktu semalam untuk berpikir dan selanjutnya memberikan jawaban.

 

Isi pesan tersebut adalah, pertama bahwa di wilayah Jawa Timur, Belanda melakukan serangan militer besar-besaran untuk merebut kota-kota di wilayah Karesidenan Malang, Besuki, Surabaya, Madura, Bojonegoro, dan Madiun.

 

Kedua, Mbah Hasyim dimohon berkenan untuk mengungsi ke Sarangan, Magetan, agar tidak tertangkap oleh Belanda. Sebab, jika tertangkap, ia akan dipaksa membuat statemen mendukung Belanda. Jika hal itu terjadi, maka moral para pejuang akan runtuh.

 

Pesan ketiga adalah jajaran TNI di sekitar Jombang diperintahkan untuk membantu proses pengungsian Mbah Hasyim. Keesokan harinya, Mbah Hasyim memberikan jawaban bahwa beliau tidak berkenan menerima tawaran yang disampaikan. Empat hari kemudian, tepatnya pada tanggal 7 Ramadhan 1366 M, sekitar pukul 21.00 WIB datang lagi utusan Jenderal Sudirman dan Bung Tomo.

 

Kedatangan utusan tersebut dengan membawa surat untuk disampaikan kepada Mbah Hasyim. Secara khusus Bung Tomo memohon kepada Mbah Hasyim mengeluarkan komando jihad fi sabilillah bagi umat Islam Indonesia, karena saat itu Belanda telah menguasai wilayah Karesidenan Malang dan banyak anggota Laskar Hizbullah dan Sabilillah yang menjadi korban. Mbah Hasyim pun kembali meminta waktu semalam untuk memberi jawaban.

 

Tidak lama berselang, Mbah Hasyim mendapat laporan dari Kiai Ghufron selaku pimpinan Sabilillah Surabaya bersama dua orang utusan Bung Tomo, bahwa kota Singosari Malang yang juga merupakan basis pertahanan Hizbullah dan Sabilillah telah jatuh ke tangan Belanda. Kondisi para pejuang semakin tersudut, dan korban rakyat sipil kian meningkat. Mendengar laporan itu, Mbah Hasyim berujar: “Masya Allah, masya Allah…..” sambil memegang kepalanya.

 

Lalu, Mbah Hasyim tidak sadarkan diri. Kala itu putra-putrinya sedang tidak berada di Tebuireng. Tapi tidak lama kemudian mereka mulai berdatangan setelah mendengar sang ayahanda tidak sadarkan diri.

 

Menurut hasil pemeriksaan dokter, Kiai Hasyim mengalami pendarahan otak (asemblonding) yang sangat serius. Pada pukul 03.00, bertepatan dengan tanggal 25 Juli 1947 atau 7 Ramadhan 1366, Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari dipanggil Sang Maha Kuasa. Inna lillahi wa inna ilahi raji’un.

 

Atas jasa-jasa beliau selama perang kemerdekaan melawan Belanda (1945-1947), terutama yang berkaitan dengan tiga fatwanya yang sangat penting: Pertama, perang melawan Belanda adalah jihad yang wajib dilaksanakan oleh semua umat Islam Indonesia. Kedua, kaum muslimin diharamkan melakukan perjalanan haji dengan kapal Belanda. Ketiga, kaum muslimin diharamkan memakai dasi dan atribut-atribut lain yang menjadi ciri khas penjajah, maka Presiden Soekarno lewat Keputusan Presiden (Kepres) No. 249/1964 menetapkan bahwa KH Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai pahlawan nasional.

 

Kepergian Kiai Hasyim menjadi duka mendalam di awal bulan Ramadhan. Tidak hanya bagi keluarga besar Pesantren Tebuireng, tapi juga warga Nahdlatul Ulama (NU), masyarakat sekitar bahkan bangsa Indonesia. Karena itu, sudah pada tempatnya bila malam ini kita menghadiahkan tahlil dan kalimat thayyibah kepada hadratussyaikh.

  

Semoga amal baiknya diterima oleh-Nya dan besar harapan agar kita diberikan kekuatan meneruskan jariyah, yakni eksistensi pesantren dan khidmat NU agar sesuai dengan cita-cita di masa awal pendirian NU.


Rehat Terbaru