• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 10 Agustus 2022

Rehat

Kiai Saifuddin ke Kiai Wahid: Bagaimana Caranya Membeli Mobil Fiat?

Kiai Saifuddin ke Kiai Wahid: Bagaimana Caranya Membeli Mobil Fiat?
Mobil Fiat (FiatIndonesia)
Mobil Fiat (FiatIndonesia)

Suatu hari, pada pertengahan tahun 1942, Kiai Saifuddin Zuhri mendapat panggilan dari KH Wahid Hasyim agar menemuinya di Jakarta. Kedua tokoh yang di kemudian hari sama-sama menjadi Menteri Agama ini bertemu di Hotel Des Indes, sebuah hotel kelas satu yang dibangun Belanda di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Hotel ini biasanya hanya ditempati oleh pembesar-pembesar Belanda.

 

Setelah diskusi cukup lama terkait tahapan baru perjuangan melawan Jepang, tiba-tiba berdering bunyi telepon di kamar hotel. Kiai Wahid bangun dari kursi, lalu mengangkat gagang telepon.

 

Wong Tebuireng?” tanya orang di seberang telepon.

 

Betul, saya sendiri,” jawab Kiai Wahid yang kemudian disambung tertawa terbahak-bahak, keras dan panjang. 

 

Setelah pembicaraan melalui telepon berakhir, Kiai Saifuddin Zuhri bertanya, “Dari siapa?” 

 

“Dari Mister Muhammad Yamin. Dia kecuali sahabatku, juga orang penting. Dia mau datang kemari, saya bilang lebih baik sayalah yang ke sana. Mari kita ke sana. Biar saudara berkenalan dengannya,” jawab KH Wahid Hasyim sebagaimana ditulis Kiai Saifuddin Zuhri dalam Guruku Orang-orang dari Pesantren (2007: 259).

 

Sementara KH Wahid Hasyim mengganti sarung dengan mengenakan celana dan kemejanya, Kiai Saifuddin duduk sendirian. Ia ingat tokoh penting Partindo (Patai Indonesia) itu ketika menyampaikan pidato di Yogya. Saat itu Yamin mengupas tentang “Perang Pacifik” yang bakal meletus, lalu tentang cita-cita Jepang menguasai seluruh Asia. Dikatakan di waktu itu akan bahayanya Imperialisme-Kuning, yang dimaksud tentulah Jepang.

 

Di kamar hotel Kiai Wahid bersiap-siap, bercermin sebentar membetulkan letak dasinya. Lalu mengambil peci hitamnya. Ditentengnya peci itu, lalu mengajak Kiai Saifuddin keluar dari kamar hotel. Di luar telah tersedia sebuah mobil Fiat hitam.


Malam itu kira-kira baru pukul 9, jalan-jalan di Jakarta tampak agak sepi. Beberapa delman dan orang naik sepeda. Mobil-mobil tidak begitu banyak, itu pun cuma dinaiki tuan-tuan Dai Nippon saja.

 

“Inikah mobil dinas, Gus?” Kiai Saifuddin bertanya.

 

“Bukan! Mobil dinas cuma di waktu kantor. Itu pun jarang aku pakai. Aku diberi mobil dinas pakai tanda militer Jepang. Aku tak mau pakai. Saya malu memakai mobil militer Jepang. Sebab itu, saya membeli sendiri mobil Fiat ini,” jawa Kiai Wahid.


“Bagaimana caranya bisa membeli mobil sendiri di zaman begini?” bertanya Kiai Saifuddin. Pertanyaan ini diajukan lantaran dia heran karena di zaman itu tidak ada orang sipil yang memiliki mobil. 

 

“Ya Allah....!" Respons Kiai Wahid heran dan setengah tak percaya pertanyaan itu meluncur dari kawan asal Banyumas ini.

 

"Kalau soal mobil saja tidak bisa memecahkanya, bagaimana bisa memecahkan persoalan rakyat?” jawab Kiai Wahid tegas.

 

“Mobil adalah suatu alat bepergian, juga alat berjuang. Banyak di antara kawan-kawan kita yang sudah tergolong pemimpin, kadang-kadang persoalan rumah tangga saja tidak bisa memecahkanya. Bagaimana bisa memecahkan masalah umat yang jauh lebih besar dari sekadar masalah rumah tangga?” kata Kiai Wahid meneruskan ucapanya.


Mendengar penjelasan Kiai Wahid, sahabatnya ini kemudian mengalihkan pembicaraan lain yang sempat terputus sewaktu di hotel. Sepertinya Kiai Saifuddin Zuhri tertohok oleh ujaran Kiai Wahid.
 


Rehat Terbaru