• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 15 Agustus 2022

Rehat

Bisakah Umat Islam (Indonesia) Dipersatukan?

Bisakah Umat Islam (Indonesia) Dipersatukan?
Almaghfurlah KH Abdul Wahid Hasyim. (Foto: NOJ/Tir)
Almaghfurlah KH Abdul Wahid Hasyim. (Foto: NOJ/Tir)

Ikhtiar agar umat Islam dapat bersatu telah dilakukan secara nyata oleh para pendahulu negeri. Usai keluar dari Masyumi, Nahdlatul Ulama (NU) bersama Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) dan Partai Sarekat Islm Indonesia (PSII) membentuk sebuah badan federasi antarorganisasi dan partai Islam yang diberi nama Liga Muslimin Indonesia.

 

Kala itu kalender menunjukkan 30 Agustus 1952 atau bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah 1371 H. Di antara penggagas yakni KH Abdul Wahid Hasyim, putra Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari yang mengingatkan pentingnya persatuan bangsa, khususnya di kalangan umat Islam. Karena kala itu terkotak-kotak perbedaan pemahaman, bahkan pilihan politik.

 

“... Pada hari Arafah seperti pada hari Arafah sekarang, 1360 tahun yang lalu, junjungan besar kita, Nabi Muhammad SAW, berdiri di Padang Arafah, di dalam pertemuan sedunia oleh umat Islam kala itu ...”

 

“... Maka sesungguhnya, merupakan nikmat dan rahmat dari Allah SWT yang besar sekali bagi kita, bahwa pada hari yang bersejarah seperti hari Arafah ini, kita sekalian berkumpul di sini mengeratkan persaudaraan Islam yang telah ada dalam jiwa kita, dengan ikatan lahir berupa organisasi, ialah Liga Muslimin Indonesia!” tegas Kiai Wahid.

 

“... Dalam keadaan hidup perseorangan yang tidak mempunyai ikatan sesama jamaahnya demikian itu, tidaklah heran apabila tiap-tiap orang Islam lalu tenggelam dan terseret oleh aliran-aliran dan golongan-golongan lain dengan tidak sadar dan insaf ...“

 

“... dan bukanlah pada suatu hal yang tidak masuk di akal, kalau propaganda penjajahan yang pada suatu masa pernah dijalankan oleh golongan yang berkepentingan, kadang-kadang masih mendapatkan telinga yang suka mendengarkannya, disebabkan hilangnya ikatan sesama jamaah itu,” lanjut Kiai Wahid.

 

Kemudian, setelah Kiai Wahid selesai berpidato, menyusul pidato selanjutnya yang disampaikan perwakilan dari Perti, KH Sirajuddin Abbas dan PSII Abikusno Tjokrosuroso, yang keduanya juga kembali menegaskan pentingnya untuk mempererat persatuan antarumat Islam. (Sumber: Abu Bakar Aceh, Sejarah Hidup KH A Wahid Hasyim, Pustaka Tebuireng; Jombang, 2015).

 

Siapa hari ini, yang bisa dan mampu melakukan ikhtiar seperti Kiai Wahid Hasyim? Mengajak umat tak porak-parik lantaran perbedaan pilihan calon pemimpin. Bahkan di media sosial sekalipun, suasana tak lagi damai. Pertemanan hanya semu, dibalut kecurigaan dan tebar fitnah demi menjatuhkan pasangan musuh.

 

Karenanya mari sempatkan untuk menyampaikan bacaan Alfatihah kepada KH Abdul Wahid Hasyim bin KH M Hasyim Asy’ari secara tulus.


Editor:

Rehat Terbaru