• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 26 Juni 2022

Tapal Kuda

Bahaya Sifat Kikir dan Pelit dalam Kitab Risalatul Muhlikat Wal Munjiat

Bahaya Sifat Kikir dan Pelit dalam Kitab Risalatul Muhlikat Wal Munjiat
Kiai Hasbulloh Huda  pada kajianj kitab Risalatul Muhlikat Wal Munjiat. (Foto: NOJ/ Sufyan)
Kiai Hasbulloh Huda  pada kajianj kitab Risalatul Muhlikat Wal Munjiat. (Foto: NOJ/ Sufyan)

Lumajang, NU Online Jatim
Pengajian rutin kitab Risalatul Muhlikat Wal Munjiat pada Selasa (11/01/2022) kali ini menjelaskan mengenai bahayanya sifat kikir (شُح) dan pelit (بُخْلٌ). Dua sifat tercela ini termasuk sifat yang dapat merusak hati orang yang terjangkiti, sehingga dengan sekuat tenaga perlu dihindari.
 

Pada kajian yang digelar di gedung NU I Lumajang ini, Kiai Hasbulloh Huda dari Pengurus Cabang (PC) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) setempat menjelaskan sifat kikir dan pelit. Bahwa sifat itu mempunyai kesamaan dan perbedaan dalam satu sisi. Semuanya tertera dalam Al-Qur'an sebagai salah satu sifat tercela. Allah berfirman dalam surat at-Taghabun potongan ayat 16:
 

 وَمَن یُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

Artinya: Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung Dapatkan.
 

Juga disebutkan dalam surat Ali Imran ayat 180, Allah berfirman:
 

 وَلَا یَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِینَ یَبۡخَلُونَ بِمَاۤ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ هُوَ خَیۡرࣰا لَّهُمۖ بَلۡ هُوَ شَرࣱّ لَّهُمۡۖ سَیُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا۟ بِهِۦ یَوۡمَ ٱلۡقِیَـٰمَةِۗ وَلِلَّهِ مِیرَ ٰ⁠ثُ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِیرࣱ
 


Artinya: Dan janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunianya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah lah segala warisan (yang ada) di langit dan bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
 

"Misal orang yang enggan berzakat katakanlah satu ton gabah, bayangkan itu dikalungkan di hari kiamat. Jangankan satu ton, satu karung saja itu berat tidak akan kuat. Disamping itu nanti dia akan dililit ular besar yang menelannya. Selain dia dimurkai Allah, di dunia dia banyak yang tidak suka," jelas Kiai Huda mengenai dua ayat di atas.
 

Letak perbedaan kedua sifat di atas menurut Kiai Huda adalah sifat kikir lebih kepada orang yang enggan mengeluarkan kewajiban berzakat. Sedangkan pelit adalah orang yang berat hati hartanya disedekahkan untuk kebaikan semisal membangun masjid atau yang biasa disebut shadaqah sunah, padahal dia mampu.
 

"Namun sifat pelit ini jika dibiarkan juga akan menjadi kikir, ini sering terjadi di masyarakat. Jika ada tarikan iuran untuk hal-hal baik semisal pengajian atau pembangunan masjid, dia sulit mengeluarkan hartanya, tapi jika ada iuran hal-hal lain semisal konser musik dangdut dan hal lainnya yang tidak ada hubungannya ibadah mereka berbondong-bondong mau nyumbang," imbuh Kiai yang juga Rais Syuriyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Sukodono Lumajang ini.
 

Maka, menurut Kiai Huda ini perlu dilatih agar hati seseorang tidak cinta dunia sehingga menjadi kikir dan pelit. Dalam praktik zakat pun tidak boleh ngawur, karena zakat sudah ditentukan kadar ukurannya dalam syariat Islam.
 

"Jika dia tidak tahu caranya zakat, maka bertanya kepada ahlinya. Jangan khawatir, harta jika dizakatkan atau disedekahkan akan bertambah, tidak akan habis," pungkasnya.


Tapal Kuda Terbaru