• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 6 Desember 2022

Tapal Kuda

Kawasan Jember Dikepung Banjir, LPBINU Jatim Beri Bantuan

Kawasan Jember Dikepung Banjir, LPBINU Jatim Beri Bantuan
Warga Jember di kawasan banjir tidak bisa berbuat apa. (Foto: NOJ/ROm)
Warga Jember di kawasan banjir tidak bisa berbuat apa. (Foto: NOJ/ROm)

Jember, NU Online Jatim

Banjir yang melanda sebagian kawasan Jember cukup memprihatinkan. Berdasarkan informasi yang beredar, setidaknya ada sejumlah desa yang terendam. Celakanya, perhatian dari pemerintah setempat jauh dari harapan. Alih-alih memberikan bantuan, pejabat justru terbelah karena kebijakan bupati yang akan lengser.

 

Tidak ingin larut dengan polemik tersebut, Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) Jawa Timur dan Forum Pengurangan Resiko Bencana (PRB) Jawa Timur, menggelar aksi sosial. Bantuan diberikan kepada warga terdampak banjir.

 

“Kawasan yang menjadi lokasi penanganan adalah di Kecamatan Bangsalsari,” kata Yoyok, Selasa (26/01/2021).

 

Dijelaskan Humas PW LPBINU Jatim tersebut bahwa puluhan bangunan di wilayah ini tergenang air. Bahkan ada dua pondok pesantren yang tergenang air cukup tinggi, yakni Arrosyid dan Mamba’ul Khoiriyatil Islamiyah di Desa Bangsalsari.

 

“Kegiatan sosial yang kami lakukan di antaranya bersih-bersih lingkungan khususnya di sekitar sungai karena masih banyak sampah yang berserakan dari sisa-sisa banjir,” terang dia.

 

Tidak berhenti sampai di situ, tim yang ada juga memberikan bantuan paket sembilan bahan pokok, masker, dan alat-alat kebersihan. “Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dorongan kepada pemerintah dan elemen masyarakat lainnya untuk ikut membantu,” harap Yoyok.

 

Ironi di Jember

Seperti dilansir editor.id, sungguh kasihan penduduk Jember karena kawasannya diterjang bencana angin puting beliung, banjir bandang, banjir genangan, dan tanah longsor. Musibah ini menerjang delapan kecamatan yang menyebabkan ribuan kepala keluarga terdampak akibat bencana yang terjadi pada pertengahan Januari 2021.

 

Tidak ada korban jiwa dalam bencana yang menerjang 18 desa tersebut. Namun warga terdampak di Dusun Bandealit sempat terisolasi akibat akses jalan satu-satunya tertimbun tanah longsor dan terjadi kerusakan di beberapa fasilitas umum.

 

Berdasarkan data Pusat Pengendali Operasional (Pusdalops) BPBD Jember tercatat bencana banjir dan tanah longsor tersebut tersebar di 18 desa/kelurahan dengan jumlah warga yang terdampak sebanyak 4.178 kepala keluarga (KK). Ribuan rumah warga terendam banjir, kemudian 12 fasilitas pendidikan, tiga fasilitas umum, dan 42 hektare lahan pertanian juga ikut terdampak bencana alam yang terjadi lebih dari sepekan. Belasan rumah dan puluhan lapak pedagang di Pasar Ambulu rusak akibat bencana angin puting beliung yang merobohkan puluhan pohon. Untungnya tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

 

Banjir bandang melanda Kecamatan Bangsalsari, kemudian banjir genangan meluas hingga Kecamatan Tanggul, Gumukmas, Puger, Tempurejo, Ambulu, dan Jenggawah. Sedangkan tanah longsor menerjang Kecamatan Patrang dan Tempurejo, serta angin puting beliung terjadi di Kecamatan Ambulu.

 

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember Satuki mengatakan banjir yang terjadi di beberapa kecamatan tersebut akibat tingginya curah hujan dan jebolnya tanggul. Hal itu mengakibatkan rumah warga terendam banjir.

 

Di Kecamatan Bangsalsari terdapat satu desa yang terdampak banjir bandang yakni Desa Bangsalsari dengan jumlah warga yang terdampak sebanyak 68 KK dan tiga pondok pesantren terendam banjir. Bahkan tembok salah satu pesantren tersebut jebol diterjang derasnya banjir bandang yang membawa material kayu dan lumpur.

 

Banjir juga melanda Desa Tanggul Kulon dan Desa Klatakan di Kecamatan Tanggul dengan jumlah warga yang terdampak sebanyak 86 KK, kemudian di Kecamatan Gumukmas terdapat tiga desa (Desa Karangrejo, Bagorejo, Menampu) dengan 229 KK yang terdampak banjir.

 

Di Kecamatan Puger terdapat tiga desa yang direndam banjir yakni Desa Mlokorejo, Grenden, Mojosari dengan jumlah warga terdampak 1.283 KK dan satu pesantren juga terendam banjir.

 

Sedangkan di Kecamatan Ambulu terdapat dua desa yang diterjang banjir yakni Desa Sabrang dan Andongsari dengan jumlah warga terdampak sebanyak 337 KK, selanjutnya Desa Cangkring di Kecamatan Jenggawah dengan jumlah warga yang terdampak 106 KK.

 

Banjir terparah berada di Kecamatan Tempurejo dengan lima desa yang terendam yakni Desa Andongrejo, Curahnongko, Sidodari, Curahtakir, dan Desa Wonoasri. Setidaknya  ada 2069 KK warga terdampak, delapan fasilitas pendidikan dan satu fasilitas umum terendam banjir, juga satu jembatan rusak berat.

 

“Untuk longsor di Dusun Bandealit, Desa Andongrejo di Kecamatan Tempurejo berdampak pada akses jalan terputus karena tertutup material longsor hingga menyebabkan 500 KK terdampak banjir terisolir,” katanya.

 

Kemudian longsor di Kelurahan Bintoro, Kecamatan Patrang menyebabkan tiga rumah warga terancam dampak longsor susulan karena kontur tanah di wilayah setempat sangat labil.

 

Tidak Ada Anggaran

Di tengah bencana alam yang membutuhkan bantuan logistik untuk para korban terdampak dan anggaran operasional penanganan bencana, musibah lain menimpa. Karena Kabupaten Jember justru tidak memiliki peraturan bupati atau peraturan daerah tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2021.

 

Ironi memang, banjir yang melanda Kabupaten Jember di tengah polemik tidak adanya APBD. Itu diperparah dengan habisnya bantuan bencana, belum cairnya gaji ASN, serta uang lelah untuk Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

 

ASN dan honorer Pemkab Jember yang berjibaku membantu warga terdampak korban banjir bekerja tanpa gaji dan anggaran operasional sepeserpun. Untungnya mereka tetap semangat bekerja secara maksimal tanpa kenal lelah.

 

Stok bantuan habis dan terbatasnya petugas di lapangan membuat pihak BPBD Jember meminta bantuan logistik dan personel ke BPBD Jawa Timur untuk membantu bencana yang melanda di delapan kecamatan itu.

 

Permintaan bantuan tersebut cepat direspon oleh BPBD Jatim, sehingga kebutuhan logistik dan perlengkapan warga terdampak bencana dapat teratasi untuk sementara waktu.

 

Saat stok bahan pokok melimpah, justru tim dapur umum kekurangan elpiji karena ketiadaan anggaran, sehingga berbagai kalangan bahu membahu mulai dari komunitas warga, pengusaha, pejabat, mantan pejabat, hingga tokoh masyarakat patungan untuk menyuplai kebutuhan elpiji.

 

Koordinator Tagana Jember Rudi Dwi Wanto mengatakan kekurangan elpiji di dapur umum Desa Wonoasri terjadi sejak Sabtu (16/1) karena setiap hari membutuhkan 10 tabung elpiji 12,5 kg untuk memasak kebutuhan makanan bagi warga terdampak bencana banjir dengan menyediakan sebanyak 7.500 hingga 9.000 bungkus untuk setiap harinya.

 

Ia mengaku bersyukur atas bantuan banyak pihak yang telah mendukung kebutuhan dapur umum, agar tetap beroperasi untuk mendistribusikan makanan kepada warga korban banjir.

 

Tidak hanya itu, TNI dan Polri pun ikut membantu dalam penanganan banjir dengan membantu BPBD dalam mengevakuasi korban banjir, kerja bakti membantu membersihkan rumah warga yang terdampak banjir dan memperbaiki tangkis sungai yang rusak akibat banjir, serta mendistribusikan bantuan.

 

Polres Jember juga mengerahkan water canon untuk mendistribusikan air bersih kepada warga yang terdampak banjir di Desa Wonoasri. Karena sumur warga terendam banjir sehingga tidak bisa digunakan untuk kebutuhan memasak.

 

TNI dan Polri juga membantu BPBD bersama warga untuk memperbaiki tangkis Sungai Curahrejo yang rusak akibat banjir hingga menyebabkan ribuan rumah terendam. Diharapkan perbaikan tangkis tersebut dapat mencegah meluapnya kembali air sungai ke permukiman warga.

 

Dengan ketiadaan anggaran penanganan bencana, Palang Merah Indonesia (PMI) Jember juga membantu mendirikan dapur umum di Desa Andongrejo. Hal itu untuk memasok makanan bagi warga terdampak banjir di dua desa, bahkan di Dusun Bandealit di kawasan Taman Nasional Meru Betiri yang sulit dijangkau. Tim Wash PMI juga membantu menguras sumur warga yang terdampak banjir di Desa Wonoasri seiring dengan kondisi banjir yang sudah surut.

 

Bencana banjir tentu menyisakan sedikit trauma bagi anak-anak, sehingga Polres Jember menggelar panggung boneka Srikandi untuk membantu pemulihan trauma anak-anak korban banjir. 


Editor:

Tapal Kuda Terbaru