• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 15 Agustus 2022

Tapal Kuda

LDNU Lumajang: Idul Qurban Momen Teladani Keluarga Nabi Ibrahim

LDNU Lumajang: Idul Qurban Momen Teladani Keluarga Nabi Ibrahim
Kiai Khoirul Huda saat menjelaskan hikmah dibalik idul qurban.
Kiai Khoirul Huda saat menjelaskan hikmah dibalik idul qurban.

Lumajang, NU Online Jatim
Banyak pelajaran yang terkandung yang bisa dipetik dalam Hari Raya Idul Qurban atau biasa disebut Idhul Adha. Hal itu seperti yang dijelaskan oleh Kiai Khoirul Huda, Pengurus Cabang (PC) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Lumajang saat ngaji selosoan di studio Media Center An-Nahdloh (MCN) Gedung NU 1 timur Alun-alun Lumajang, Senin (04/07/2022).

 

Kiai Khoirul Huda mengatakan, peristiwa besar saat Nabi Ibrahim mendapat perintah dari Allah melalui mimpi untuk mengorbankan putranya Ismail yang menjadi cikal bakal ibadah qurban adalah sebuah cobaan besar. Banyak ahli tafsir yang menyebutnya sebagai cobaan yang tidak bisa dinalar oleh akal pikiran.

 

"Meskipun cobaan tersebut berat, namun dengan tabah dan sabar, Nabi Ibrahim tetap menjalankannya. Walau harus mengorbankan seseorang yang sangat beliau sayangi," kata Kiai Huda.

 

Menurut Kiai Huda, hal itu mengajarkan seseorang agar tidak cinta dunia, dengan merelakan diri mengeluarkan apa yang ia miliki. Dan nilai cobaan yang diterima seseorang menurut Kiai Huda tergantung dari kadar keimanannya.

 

"Semakin tinggi derajat di sisi Allah, maka semakin besar pula ujian dan cobaan yang ia terima, maka yang paling besar cobaannya adalah para nabi. Dan Idul Qurban ini adalah salah satu media bagaimana seseorang melewati ujian lewat harta yang ia miliki," lanjut Kiai yang juga Rais Syuriah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Senduro ini.

 

Lebih detail Kiai Huda mengatakan, peristiwa asal muasal terjadinya ibadah kurban juga mengajarkan bagaimana seseorang mencetak, mendidik seorang anak yang soleh laksana Nabi Ismail dan istri solehah yang taat kepada suaminya laksana Siti Hajar Ibu Nabi Ismail.

 

"Sebagai seorang ayah, Nabi Ibrahim tidak egois. Ia masih meminta pendapat Nabi Ismail mengenai mimpi yang dialami. Nabi Ismail dengan umur yang tergolong masih anak-anak menjawab dengan bijak penuh ketaatan dan kesabaran agar ayahnya melaksanakan perintah tersebut," imbuh Kiai Huda.

 

Dalam prosesnya, Nabi Ibrahim pada tanggal 8 Dzulhijjah saat mimpi pertama perintah Allah turun sebenarnya ragu akan mimpi tersebut. Namun keesokan harinya pada tanggal 9 saat mimpi itu terjadi lagi baru meyakinkan jika itu benar-benar perintah Allah.

 

"Maka di hari ke-8 ini dinamakan Hari Tarwiyah yang artinya ragu, dan hari ke-9 dinamakan Hari Arafah yang artinya mengetahui dan yakin. Kita disunahkan puasa di hari tersebut," jelasnya.

 

Kiai Huda menuturkan, hikmah dan pelajaran dari peristiwa lainnya masih sangat banyak. Dan yang sangat penting diingat adalah sebuah pelajaran bagaimana tradisi dan peninggalan-peninggalan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dirawat dan dilestarikan oleh Nabi Muhammad SAW.

 

"Hampir semua ritual haji termasuk ibadah kurban adalah menjadi pengingat akan pentingnya menjaga warisan dan tradisi para pendahulu. Karena hal itu menjadikan generasi penerus dapat menghargai dan mencontohnya," tegas Kiai Huda.


Tapal Kuda Terbaru