• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 29 September 2022

Tapal Kuda

Pesantren ‘Metal’ Pasuruan, Bina Santri Pengidap Narkoba Hingga Gangguan Jiwa

Pesantren ‘Metal’ Pasuruan, Bina Santri Pengidap Narkoba Hingga Gangguan Jiwa
Santri Pondok Pesantren Metal. (Foto: NOJ/JI)
Santri Pondok Pesantren Metal. (Foto: NOJ/JI)

Pasuruan, NU Online Jatim

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Menurut catatan sejarah, peran pesantren sudah terlihat saat zaman penjajahan. Terbukti kiai dan santri membentuk tentara Hizbullah untuk melawan penjajah.

 

Seiring berkembangnya waktu, jumlah pesantren berkembang pesat. Menurut data yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, ada 26.910 jumlah pesantren yang tersebar di seluruh pelosok negeri.

 

Di Jawa Timur ada salah satu pesantren unik yang fokus membina santri bermasalah, seperti narkoba, perempuan hamil di luar nikah, dan orang yang mengalami keterbelakangan mental. Pesantren ini dikenal dengan Pondok Pesantren Metal (Menghafal Tulisan al-Quran) yang terletak di Pasuruan.

 

Menurut KH Nurkholis yang merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Metal ini, sebagian besar santri yang diasuh adalah mantan pengguna narkoba.

 

“Santri di sini paling banyak adalah pengguna narkoba. Tiap tahun jumlahnya terus bertambah. Mereka berasal dari seluruh Indonesia, ada juga yang dari Malaysia,” kata KH Nurkholis, Ahad (18/10/2020).

 

Ia melanjutkan, selain santri dengan kasus narkoba, di pesantren ini juga banyak santri dengan kasus hamil di luar nikah.


“Sekarang jumlahnya mencapai 140 santri dengan kasus hamil di luar nikah. Kegiatan mereka sehari-hari selain ngaji juga sekolah formal di luar pondok,” ungkapnya.


KH Nurkholis bersyukur banyak santri yang akhirnya bisa sembuh setelah mendapatkan binaan dan diterima lagi di keluarga dan lingkungannya.

 

“Alhamdulillah mereka yang sudah sembuh bisa diterima di keluarga dan lingkungan masyarakat. Tapi banyak juga yang tidak mau pulang karena sudah merasa aman dan dilindungi di pesantren ini,” terang KH Nurkholis.

 

Dalam proses pembinaan, santri di pesantren ini dibedakan sesuai jenis, usia, dan masalah yang dihadapi. Ada kelompok khusus anak di bawah umur (10-12 tahun), orang dengan keterbelakangan mental, perempuan hamil di luar nikah, dan pengguna narkoba.

 

Pesantren Metal selain fokus dengan santri bermasalah, juga menggelar pengajian rutin yang selalu ramai dihadiri jamaah dari berbagai kota.


“Ngajinya setiap Ahad, diadakan di masjid kampung,” kata Agus salah satu santri Pesantren Metal.


Tapal Kuda Terbaru