• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 25 Juni 2022

Tapal Kuda

Wakil Rais NU Lumajang Ungkap Melestarikan Budaya adalah Sunah Rasul

Wakil Rais NU Lumajang Ungkap Melestarikan Budaya adalah Sunah Rasul
KH Mahrus Ali, Wakil Rais PCNU Lumajang. (Foto: NOJ/Sufyan)
KH Mahrus Ali, Wakil Rais PCNU Lumajang. (Foto: NOJ/Sufyan)

Lumajang, NU Online Jatim

KH Mahrus Ali, Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lumajang menuturkan jika memakai pakaian batik hukumnya sunah. Hal itu dilandasi dengan apa yang pernah dilakukan Rasulullah SAW mengenai penegasan kesunahan jubah yang merupakan tradisi orang arab sejak dulu.

 

Kiai Mahrus menjelaskan saat berceramah di acara Halal bi Halal Pimpinan Cabang (PC) Jam'iyyatul Qurra' Wal Huffadz Nahdlatul Ulama (JQHNU) Kabupaten Lumajang pada Ahad, (15/05/2022) yang digelar di MI Nurul Islam 02 Sememu Pasirian Lumajang. Menurutnya, apa yang dilakukan Rasulullah mengenai jubah adalah salah satu bentuk menjaga tradisi yang dianggap baik. Sehingga pengakuan jubah yang awalnya pakaian budaya menjadi pakaian agama menjadi teladan bagaimana seseorang menjaga sebuah tradisi budaya yang berlaku dimana saja.

 

"Gus Dur pernah menjelaskan hal itu. Melihat sudut pandang bagaimana Nabi mempertahankan budaya pakaian jubah yang dianggap baik, maka dipertahankan oleh Rasulullah sebagai pakaian agama. Batik juga begitu, maka mempertahankan budaya batik itu termasuk mencontoh apa yang dilakukan Rasulullah," tegas Kiai Pengasuh Pondok Pesantren Al Ishlah Lumajang ini.

 

Menurut Kiai Mahrus, dakwah model seperti itulah yang tentunya harus dilestarikan, dan ini terbukti berhasil dipraktekkan oleh Walisongo. Walisongo datang dengan mempertahankan tradisi budaya yang dianggap baik masyarakat jawa dengan menyisipkan nilai keislaman.

 

"Walisongo tidak mudah mengkafirkan orang, malah orang yang kafir diislamkan. Memasukkan ajaran agama tanpa harus menghilangkan tradisi yang ada, contoh dakwah Sunan Kalijaga dengan wayang kulitnya dan lain-lain," imbuh Kiai yang juga penasehat PC JQHNU Lumajang ini.

 

Lebih lanjut Kiai Mahrus menganggap menjadi Islam tidak harus kehilangan jati diri dari mana dia berasal. Selama budaya dan tradisi itu tidak bertentangan dengan syariat Islam maka apapun itu perlu dilestarikan.

 

"Maka Jadilah orang Islam Indonesia tanpa harus kehilangan Indonesianya. Jadilah orang Jawa Islam tanpa harus kehilangan Jawanya. Yang suka udengan ya silakan, yang suka blangkonan ya blangkonan, yang penting jadilah orang Islam yang baik," tandasnya.


Tapal Kuda Terbaru