• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 3 Desember 2022

Tokoh

Kesaksian Keluarga tentang Sikap Wira’i Kiai Jamal Tambakberas

Kesaksian Keluarga tentang Sikap Wira’i Kiai Jamal Tambakberas
Gus Arif selaku keponakan Kiai Jamal di Gondanglegi Nganjuk. (Foto : NOJ/ Afandi)
Gus Arif selaku keponakan Kiai Jamal di Gondanglegi Nganjuk. (Foto : NOJ/ Afandi)

Nganjuk, NU Online Jatim
Berbagai tulisan tentang Almarhum KH Mohammad Djamaluddin Ahmad, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Bumi Damai Al-Muhibbin Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang terus dibagikan di sejumlah grup WhatsApp.
 

Seperti diberitakan NU Online Jatim sebelumnya, Kiai Jamal telah wafat Kamis (24/02/2022) lalu.
 

Kiai Jamal merupakan anak dari Ahmad bin Hasan Mustajab dan ibunya bernama Hj Mahmudah atau Djumini (nama sebelum haji) binti Abdurrahman bin Irsyad bin Rifa’i di Dusun Kedungcankring, Desa Gondanglegi, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk.
 

Kiai Jamal adalah anak nomor tiga dari empat bersaudara, yaitu Imam Ghozali, Jawahir, Mohammad Djamaluddin dan Zainal Abidin.
 

Kiai Jamal menantu KH Abdul Fatah Hasyim selaku guru saat jadi santri di Ponpes Tambakberas.
 

Ada beberapa kenangan Kiai Jamal saat di Desa Gondanglegi, Nganjuk yang bisa diketahui. Di desa ini, Kiai Jamal punya beberapa guru ngaji.
 

“Kiai Jamal dulu ngaji ke Mbah Abu Amar kaleh Mbah Kiai Saiful Huda atau yang dikenal Kiai Ghofur,” ujar Muhammad Arif Setiawan (44) keponakan Kiai Jamal, Kamis (03/03/2022).
 

Gus Arif mengungkapkan, Kiai Jamal sejak kecil punya sikap Wira’i yang kuat. Sikap itu pernah disaksikan oleh teman kecilnya dan anak dari Mbah Abu Amar.
 

“Waktu kecil, dari konco-konco termasuk putro-putro Mbah Abu Amar sama-sama menyaksikan bahwa Mbah Jamal niku kawit alit, sejak kecil sudah terlihat wira’i (sangat menjaga dari hal-hal yang belum jelas hukumnya) nya,” kata Gus Arif anak dari Kiai Zainal Abidin ini.
 

Ia menerangkan, sikap Kiai Jamal yang mudah diingat masa kecil itu adalah tentang menjaga pakaian dalam batas aurat. Hal itu diketahui oleh para teman Kiai Jamal saat mengaji di tempat Mbah Abu Amar dan bermain di Sungai Brantas.
 

Kiai Jamal semasa kecil sangat tidak suka, apabila betis kaki-nya terlihat. "Itu teman-temannya main di brantas cari ikan pakai celana pendek. Kiai Jamal ndak mau, ndak pernah pakai celana pendek. Mesti pakai sarung panjang, jaga aurat,” ungkapnya.
 

Selain itu, ia mengatakan bahwa Kiai Jamal juga menjaga sesuatu makanan yang haram atau syubhat, agar tak sampai masuk ke dalam perutnya.
 

Ia menceritakan hal itu diketahui para teman yang sama-sama mengaji kepada Mbah Abu Amar. Saat Bulan Ramadhan, santri Mbah Abu Amar membawa makanan sahur dan buka bersama untuk dicampur satu wadah serupa lengser.
 

 

Nah dalam momen itulah, Kiai Jamal selalu pamit kepada pemilik makanan. “Beliau akan makan makanannya sendiri. Meskipun makanan tercampur, beliau selalu pamit kepada pemiliknya. Bilang iki (ini) tahu ne sopo (tahunya siapa), aku jaluk (aku minta) halal e ya, iki segone sopo kimeng yo (ini tadi nasinya siapa), diridhokne yo (diridhakan ya),” katanya.
 

“Jadi hal yang masuk ke perut (Kiai Jamal) itu sangat dijaga,” imbuhnya.


Editor:

Tokoh Terbaru