• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 26 Mei 2022

Tokoh

KH Wahid Hasyim Pelopor Perpustakaan Pesantren

KH Wahid Hasyim Pelopor Perpustakaan Pesantren
Kiai Wahid juga menjadi pelopor perpustakaan di dalam Pesantren Tebuireng yang menyediakan kira-kira seribu judul. Buku dan majalah koleksi Kiai Wahid juga ditempatkan dalam perpustakaan dan para santri dianjurkan untuk membacanya. (Foto: NOJ/Kajian Islami)
Kiai Wahid juga menjadi pelopor perpustakaan di dalam Pesantren Tebuireng yang menyediakan kira-kira seribu judul. Buku dan majalah koleksi Kiai Wahid juga ditempatkan dalam perpustakaan dan para santri dianjurkan untuk membacanya. (Foto: NOJ/Kajian Islami)

Membincangkan KH Wahid Hasyim (1914-1953) tentu tidak bisa dilupakan begitu saja perannya di dunia pendidikan pesantren. Sosok ini dikenal cerdas dan gemar membaca buku. Bahkan dari ayah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) inilah perpustakaan Pesantren Tebuireng, Jombang memiliki literatur yang bisa dibilang lengkap; buku keagamaan (kitab) dan buku umum.
 

Kiai yang memiliki nama lengkap Abdul Wahid Hasyim ini mahir di bidang kepenulisan seperti menulis huruf latin (mengingat pada waktu itu di pesantren lebih dikenalkan Arab-Pegon), bahasa Inggris, bahasa Belanda. Uniknya kesemua itu dipelajari secara otodidak dengan jalan berlangganan majalah dan buku-buku umum yang ditulis menggunakan huruf latin maupun berbahasa Arab, seperti Pandji Poestaka, Panjebar Semangat, Ummul Qurra dan Shautul Hijaz.
 

Dari kegemarannya membaca, Kiai yang akrab dipanggil Kiai Wahid ini mengalami gangguan penglihatan di usia 15 tahun dan  diharuskan menggunakan kacamata. Namun hal ini tidak menyurutkan minat bacanya, bahkan ia semakin bertambah semangat, yang kemudian kegemaran ini juga menurun kepada putra sulung yang bernama Gus Dur. Tak pelak Wahid Hasyim muda memiliki wawasan keilmuan yang luas dibandingkan teman sebayanya.
 

Kiai Wahid tergolong kiai yang mampu mengkombinasikan dua kutub ilmu dalam sebuah lembaga pesantren tradisional; ilmu agama dan ilmu umum. Misalnya, Kiai Wahid bersama Kiai Ilyas mendirikan madrasah Nizamiyah yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, akan tetapi ilmu umum seperti bahasa Inggris, Bahasa Belanda juga diajarkan. Padahal saat itu ilmu umum dalam pesantren merupakan hal yang tabu, ditentang, sebab dianggap berasal dari Barat yang notabene penjajah. 
 

Rasa sentimen berlebihan yang ditumpahkan kepada penjajah membuat kalangan pesantren mengharamkan segala hal yang identik kebarat- baratan seperti memakai jas dasi dan topi. Langkah ini mengakibatkan Kiai Wahid dikritik oleh sejumlah kiai pesantren. Akan tetapi Kiai Wahid bersikukuh melanjutkannya. Salah satu alumni madrasah Nizamiyyah yang menjadi tokoh penting negeri ini adalah KH Achmad Siddiq (Rais Aam PBNU 1984-1991).
 

Bagi Kiai Wahid tidak semua yang berasal dari Barat adalah tercela, negatif. Apalagi dalam Konteks pengembangan keilmuan selaras dengan pepatah "ambil yang bersih, buang yang kotor". Prinsip Kiai Wahid ini kemudian diikuti oleh beberapa pesantren Jombang seperti Pondok Peterongan yang pada masa Kiai Mustain Romli dikenal memiliki motto "Berhati Makkah berotak London". 
 

Tidak cukup dengan penataan sistem pendidikan pesantren, Kiai Wahid juga menjadi pelopor perpustakaan di dalam Pesantren Tebuireng yang menyediakan kira-kira seribu judul. Buku dan majalah koleksi Kiai Wahid juga ditempatkan dalam perpustakaan dan para santri dianjurkan untuk membacanya. Inisiasi ini tentu bertujuan meningkatkan wawasan keilmuan pesantren. Terlebih pada waktu itu masih belum ada perpustakaan pesantren layaknya perpustakaan Tebuireng.
 

Dari tradisi baca tulis dan mendirikan perpustakaan inilah para santri diharapkan mampu berkiprah menjawab tantangan zaman sesuai adagium "al-muhafazoh alaI Qadim al-salih wa al-akhdzu bil Jadid al-aslah."


Tokoh Terbaru