• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 3 Oktober 2022

Kediri Raya

Kekerasan Seksual Jadi Fokus Sekolah Kader Kopri Tulungagung

Kekerasan Seksual Jadi Fokus Sekolah Kader Kopri Tulungagung
Pembukaan Sekolah Kader Kopri IV oleh Ketua Bidang Kaderisasi Nasional Kopri dan Pengurus Kopri PB PMII, Ummu Sholihah. (Foto: NOJ/SA)
Pembukaan Sekolah Kader Kopri IV oleh Ketua Bidang Kaderisasi Nasional Kopri dan Pengurus Kopri PB PMII, Ummu Sholihah. (Foto: NOJ/SA)

Tulungagung, NU Online Jatim
Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) Pimpinan Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Tulungagung menggelar Sekolah Kader Kopri (SKK) IV. Kegiatan dipusatkan di kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Boyolangu, Tulungagung sejak Kamis hingga Ahad (17-20/02/2022).
 

Kegiatan yang mengusung tema ‘Let’s End Sexual Violence: Perempuan dalam Teror Kekerasan Seksual’ ini harus digelar di setiap tahunnya oleh Kopri PC PMII. 
 

“SKK sebagai jenjang kaderisasi formal yang wajib diikuti kader Kopri setelah melakukan Pelatihan Kader Dasar atau PKD,” kata Syarifah Annajiyah saat dihubungi NU Online Jatim
 

Dijelaskannya bahwa setelah Masa Penerimaan Anggota (Mapaba), Sekolah Islam Gender (SIG), PKD dan kemudian SKK ini wajib diikuti kader Kopri PMII. 
 

Syarifah menerangkan, pesertanya pastinya mengutamakan dari internal. Untuk SKK ini jumlah peserta ada 10, 2 eksternal dari Nganjuk dan Trenggalek yang lainnya internal PMII Tulungagung. 
 

“Kami adakan materi tambahan advokasi kekerasan seksual yang diisi langsung oleh Majelis Pembina Daerah Kopri PKC Jawa Timur. Kemarin ada dialog materi dan juga sosialisasi kesehatan reproduksi dari RSUD Tulungagung,” jelasnya.
 

Dirinya berharap, peserta akan lebih fokus kepada implementasi, analisis sosial, advokasi dan tidak akan mendapatkan teori saja. Tetapi juga bisa mempraktikkan ilmu selama terlibat dalam SKK.
 

“Kita sebagai mahasiswa apalagi di PMII dan kita jadi suatu keistimewaan jadi Badan Semi Otonom (BSO) nya PMII yang mana isinya adalah perempuan semua. Maka saya rasa kita butuh pemberdayaan terkait dengan ilmu-ilmu gender atau pergerakan feminisme,” terang Ketua Umum Forum Senat Ushuluddin Indonesia itu.
 

Sementara itu, Ketua Kopri PC PMII Tulungagung, Alfi Nurcahyanti menambahkan, SKK merupakan bentuk kaderisasi formal kedua di tubuh Kopri. SKK adalah agenda wajib yang harus dilaksanakan oleh kepengurusan Kopri tingkat cabang sebagai bentuk kaderisasi.
 

“Tema tersebut diusung karena kegelisahan kami sebagai kader Kopri dan perempuan, yang mana tidak sedikit kasus kekerasan seksual yang terjadi pada diri perempuan,” katanya.
 

Menurutnya, kasus yang mampu di blow up ke media massa masih belum berbanding lurus dengan fakta di lapangan. Hal tersebut berdasarkan hasil diskusi bersama Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak (KBPPPA) Kabupaten Tulungagung beberapa waktu lalu. Bahwa masih banyak perempuan yang belum berani melaporkan kasus kekerasan seksual yang dialami.
 

“Dengan berbagai alasan salah satunya mereka takut jika nanti dihakimi oleh lingkungan sekitar. Hal inilah yang mendorong kader Kopri untuk mengangkat grand tema tersebut,” ucapnya.
 

Alfi menerangkan, SKK IV ini bertujuan menambah wawasan kader putri terkait advokasi, menumbuhkan kepekaan sosial terhadap diri mereka dan lingkungan sekitar. Termasuk menjadikan kader Kopri sebagai sosok representatif dari seorang perempuan yang militan, memiliki jiwa dan semangat terus menebar kebaikan. 
 

“Ibaratnya, perempuan adalah tiang dalam sebuah bangunan. Jika tidak ada tiang bangunan, tidak akan mampu berdiri. Sama halnya dengan negara, tanpa perempuan, juga tidak akan harus mampu berdiri dengan megah,” tandasnya. 


Editor:

Kediri Raya Terbaru