• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 29 September 2022

Kediri Raya

Kompak, Pemuda Lintas Agama di Kediri Gelar Doa dan Kajian Kebangsaan

Kompak, Pemuda Lintas Agama di Kediri Gelar Doa dan Kajian Kebangsaan
Pemuda Lintas Agama di Kediri usai gelar doa bersama dan kajian kebangsaan. (Foto: NOJ/A Muwaffaq).
Pemuda Lintas Agama di Kediri usai gelar doa bersama dan kajian kebangsaan. (Foto: NOJ/A Muwaffaq).

Kediri, NU Online Jatim

Sekumpulan anak muda dengan agama berbeda-beda yang tergabung dalam Paguyuban Lintas Masyarakat (PaLM) mengadakan ‘Doa Bersama Pemuda Lintas Agama’. Acara terpusat di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Kediri, Jum'at (20/08/2021).

 

Ketua PaLM Hartono, mengajak kepada semua masyarakat untuk mendoakan bangsa Indonesia yang hampir dua tahun dilanda wabah Covid-19. "Semoga Covid-19 segera berlalu, khususnya di Kota dan Kabupaten Kediri," ujarnya.

 

Hartono menjelaskan, kegiatan tersebut digelar untuk merekatkan persaudaraan masyarakat lintas agama, khususnya pemuda. Karenanya, perwakilan tokoh semua agama dihadirkan dan umat agama juga bisa mengikutinya dari rumah masing-masing lewat akun youtube GKI Kediri.

 

Menurut Hartono, doa dilakukan secara bergiliran oleh masing-masing perwakilan tokoh pemuda lintas agama.

 

"Doa dari umat Islam diwakili oleh Gus Izat Sya'roni, Konghucu Halim Prayogo, Hindu Yasin Luis, Buddha Upc Daniel Chariestanto, Kristen Pdt Mario Gunawan, dan Katolik Romo Jauhari CM," pungkasnya.

 

Di sisi yang lain, Taufiq Al-Amien yang diminta untuk menyampaikan orasi kebangsaan membahas perihal sejarah masuknya dan kuatnya persatuan agama. Hingga kemudian dalam kontribusinya merembet pada pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

 

"Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-76 adalah kemerdekaan suatu bangsa yang dibangun atas sekumpulan manusia lintas suku, agama, etnis, dan lainnya. Oleh karenanya, kekayaan yang apik ini mesti terus kita rawat bersama,” terangnya.

 

Dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri ini menceritakan, bahwa sejarah peradaban agama di Indonesia telah lama muncul, bahkan sebelum negara mencapai kemerdekaannya.

 

Misalnya Kerajaan Kutai yang menjadi kerajaan pertama di nusantara dengan corak dan etikanya dari ajaran Hindu, Sriwijaya yang memiliki corak Buddha, hingga Majapahit dengan corak campuran Hindu-Buddha. Bahkan, di sela-sela itu Islam juga turut mewarnai corak keberagamaan masyarakat Nusantara. 

 

“Maka hal ini menjadi bukti bahwa perbedaan atau keberagaman agama atau paham di tanah nusantara bukanlah hal baru. Bahkan, menjadu pemantik persatuan dalam mencapai kemerdekaan Indonesia,” tegasnya.

 

Lebih lanjut, Taufiq Al-Amien mengatakan, jika untuk mencapai kemerdekaan saja bersatu, hal yang patut pula dilakukan saat mempertahankannya dari rongrongan kelompok tertentu. Menurutnya, dalam setiap tindakan hendaknya melihat pada fakta sejarah masa lalu.

 

 

“Karena, sejarah harus menjadi soko guru bagi sebuah haluan untuk menatap kedepan lebih baik," pungkasnya.

 

Editor: A Habiburrahman


Kediri Raya Terbaru