• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 23 Januari 2022

Keislaman

Aneka Makna di Balik Perintah Tawakal 

Aneka Makna di Balik Perintah Tawakal 
Tawakal memberikan banyak manfaat. (Foto: NOJ/BS)
Tawakal memberikan banyak manfaat. (Foto: NOJ/BS)

Tawakal merupakan bagian dari ajaran Islam yang sangat penting. Karenanya, tawakal sangat ditekankan di dalam Al-Qur’an. Kata disebut di dalam kitab suci tidak kurang diulang lebih dari 30 kali yang tersebar di dalam 19 surat berbeda, misalnya surat Ali Imran, ayat 122; Al-Maidah, ayat 11; Al-A’raf, ayat 89; dan sebagainya. 

 

Tawakal inilah yang merupakan salah satu pembeda antara orang beriman dengan orang tak beriman.  Menurut Imam Ahmad bin Hambal, atau yang lebih dikenal dengan Imam Hambali, tawakal merupakan perbuatan hati. Artinya, tawakal bukan sesuatu yang diucapkan oleh lisan, bukan pula sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Juga bukan merupakan sebuah wacana atau sekedar pengetahuan belaka. Tetapi sekali lagi, tawakal merupakan perbuatan hati sehingga tidak bisa diwujudkan dalam bentuk fisik, seperti berdiam diri tanpa melakukan suatu ikhtiar lahiriyah.  

 

Sikap pasrah yang ditunjukkan dengan tidak adanya usaha fisik atau ikhtiar lahiriyah seperti itu tidak bisa disebut sebagai tawakal, tetapi ibarat perang, merupakan sikap menyerah sebelum maju ke medan pertempuran. Rasulullah SAW telah memberikan gambaran tentang tawakal sebagaimana disabdakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Hibban:

 

 اِعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ 

 

Artinya: Ikatlah untamu dan bertawakkallah

 

Hadits tersebut memberikan pengertian bahwa tawakal tidak meniadakan usaha lahiriyah atau perbuatan fisik seperti mengikat seekor unta ketika seseorang menginginkan hewan ternaknya itu tidak meninggalkan dirinya alias hilang. 

 

Pertanyaan yang sering muncul terkait dengan tawakal adalah kapan seharusnya tawakal dilakukan; apakah sebelum, pada saat, atau setelah usaha atau ikhtiar lakukan?  

 

Kalau kita perhatikan hadits tersebut, maka jelas bahwa Rasulullah SAW memerintahkan agar seseorang berusaha atau berikhtiar terlebih dahulu baru kemudian bertawakal. Artinya, manusia tidak boleh berdiam diri, berpangku tangan, berenak-enakan, atau bermalas-malasan, sementara urusannya diserahkan begitu saja kepada Allah SWT.  

 

Tetapi kalau hadits di atas kita hubungankan dengan Surah Al Imran, ayat 159:

 

  فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ 

 

Artinya: Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. 

 

Maka, kita akan mengetahui bahwa ketika kita baru sampai pada tahapan niat saja untuk mencapai sesuatu, atau krentek dalam bahasa Jawa, pada tahapan itu pun kita sudah harus melakukan tawakal kepada Allah SWT. Dengan kata lain, tawakal harus dilakukan baik sebelum maupun sesudah berusaha untuk mencapai maksud tertentu.  

 

Kita tahu bahwa perbuatan atau usaha manusia terdiri dari 3 (tiga) tahap, yakni: (1) niat, (2) pelaksanaan, dan (3) hasil. Berdasar pada surat Ali Imran, ayat 159 dan hadits Rasulullah SAW itu, maka tawakal harus dilakukan pada akhir setiap tahap. Artinya, kita harus bertawakal kepada Allah SWT dalam keseluruhan tahap itu.  

 

Maksud dari uraian tersebut adalah bahwa ketika baru menyelesaikan tahap niat, maka segera setelah itu harus bertawakal kepada Allah SWT dengan memasrahkan niat atau tekad kepada Allah SWT Yang Maha Tahu atas Segala Sesuatu.  Kemudian, ketika baru menyelesaikan tahap pelaksanaan, maka segera setelah itu harus bertawakal dengan memasrahkan usaha atau ikhtiar kepada Allah SWT, Yang Maha Kuasa atas Segala Sesuatu. Dan akhirnya, ketika telah sampai pada tahap terakhir, yakni tahap hasil, harus lebih bertawakal dengan memasrahkan apa pun hasilnya kepada Allah SWT Yang Maha Adil dan Bijaksana sebab tahap hasil adalah wilayah-Nya. 

 

Bagaimanapun Allah SWT lebih tahu apa yang terbaik buat kita. Jika hasilnya positif, yakni Allah memberi keberhasilan mencapai apa yang dimaksudkan, maka harus bersyukur kepada Allah SWT. Jika sebaliknya, harus bersabar dengan tetap introspeksi atau evaluasi diri dimana letak kekurangan atau kelemahan pada setiap tahap yang dilewati.  

 

Tawakal memiliki banyak sekali hikmah sebagaimana ditegaskan di dalam Al Quran; di antaranya adalah: 

 

1. Mendapat perlindungan, pertolongan dan bahkan anugerah

 

Hal ini sebagaimana ditegaskan di dalam surat Al-Anfal, ayat 49:


  وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَإِنَّ اللهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ 


Artinya: Barang siapa yang tawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. 

 

Orang-orang yang senantiasa bertawakal dalam setiap urusannya, Allah akan menunjukkan bukti keperkasaan dan kebijaksanaan-Nya. Tentu kita ingat bagaimana ketika Rasulullah hendak dibunuh dengan diacungi sebilah pedang terhusnus oleh seorang kafir Quraisy bernama Suraqah bin Malik. Dalam keadaan seperti itu, Rasulullah SAW yang hatinya selalu bertawakal kepada, mendapat perlindungan dari Allah SWT. Secara mendadak bumi yang ada di depan Suraqah yang sedang memacu kudanya, retak dan menelan kaki kudanya hingga Suraqah dan kudanya tak berdaya. Suraqah kemudian menyerah pada Rasululah dan meminta maaf dan mengajak berdamai.  


2. Mendapat kebaikan di dunia dan akhirat

Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam surat An-Nahl, ayat 41-42:

 

 وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلأَجْرُ الآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ 

 

Artinya: Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Allah saja mereka bertawakkal. 


Orang-orang yang selalu bertawakal kepada Allah SWT , akan selalu mendapat balasan, tidak hanya kebaikan di dunia tetapi terlebih balasan di akhirat.  Di dunia saja, mereka akan hidup dengan tenang dan tentram sehingga terhindar dari stres berat maupun depresi yang berkepanjangan. Terlebih di akhirat, mereka akan mendapat surga yang tinggi karena Allah mencintai orang-orang yang senantiasa bertawakal kepada-Nya. 

 

2.  Hidupnya akan dicukupi

 

Hal ini sebagai ditegaskan dalam surah Ath-Thlaaq, ayat 3:

 

  وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ 

 

Artinya: Dan barang siapa yang bertawak kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. 


Ayat tersebut merupakan jaminan dari Allah SWT bahwa orang-orang yang hatinya senantiasa bertawakal kepada-Nya, akan dicukupi seluruh keperluan hidupnya, baik secara material maupun spiritual. Orang-orang yang hidupnya dicukupi tidak mungkin mengalami kekurangan meskipun bisa saja hidup sederhana dan bukan orang kaya. 

 

Demikian pula, orang-orang kaya yang hatinya selalu tawakal kepada Allah tidak akan mengalami kekhawatiran akan bangkrut, sebab Allah akan selalu menyukupinya. Sebaliknya, orang-orang kaya yang masih suka serakah dengan berbuat curang atau korupsi demi memperoleh keuntungan besar bukanlah orang kaya yang senantiasa bertawakal kepada Allah SWT. Orang-orang seperti itu tidak akan pernah merasa cukup dalam hidupnya karena Allah membuatnya tidak cukup meski sekaya apapun. Karun adalah contoh orang kaya yang tidak pernah merasa cukup karena tidak pernah bertawakal kepada Allah SWT. 


Editor:

Keislaman Terbaru