• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 2 Juli 2022

Opini

Adakah Kata Selain Percaya dan Pasrah? Catatan untuk Pelaku Isoman

Adakah Kata Selain Percaya dan Pasrah? Catatan untuk Pelaku Isoman
Sejumlah kawasan memberikan perhatian lebih kepada warga yang isoman. (Foto: NOJ/KHu)
Sejumlah kawasan memberikan perhatian lebih kepada warga yang isoman. (Foto: NOJ/KHu)

Pagi itu, Sabtu, 3 Juli 2021. Badan tiba-tiba menggigil, demam. Tak seperti biasanya. Besoknya, mulai terasa flu. Lusa, disusul batuk. Hari keempat memutuskan rapid antigen. Hasilnya positif. Lalu, keesokan harinya PCR. Fixed positif. 


Sejak saat itu saya melakukan isolasi mandiri atau isoman. Seperti yang dialami kebanyakan orang gejalanya hampir sama. Hanya saja Covid-19 yang ini ada gejala diare. Selama isoman, saya tidak begitu bernafsu mengkonsumsi obat. Ya, paling sedikit-sedikit saja. Tapi kalau soal makan. Mau tidak mau. Enak tidak enak. Selera tidak selera. Pokoknya harus makan. Bila perlu set-up diri kita menjadi gragas. Sebut saja 'gragas temporer'. 


Setelah negatif dan melewati fase 14 hari, saya akhirnya resmi mendapat gelar LC atau lulusan covid. Tetapi kepada publik, media massa lebih akrab menggunakan diksi 'penyintas' terhadap orang-orang yang bergelar LC itu. Setelah menjadi penyintas Covid-19, saya pikir benar-benar sembuh. Ternyata yang saya pikirkan salah. Saat itu masih ada satu fase lagi yang harus dilalui. Istilahnya 'long Covid'. Semacam kondisi tidak normal yang bisa terjadi pasca sembuh dari Covid-19. Hampir semua penyintas Covid-19 mengalaminya. Meski sudah negatif, bisa merasakan sejumlah gejala dalam jangka waktu tertentu. Bahkan, mungkin bisa lebih lama.


Setelah saya benar-benar sembuh dalam waktu 25 hari dengan beragam treatment, akhirnya saya menyadari. Mungkin saya bisa salah. Tetapi saya melihat ada sebagian orang yang sengaja dipilih Allah untuk tidak melewati badai pandemi (wafat). Lalu, sebagian besar lagi dipilih untuk melewatinya. 


Kata teman saya, virus ini dianalogikan seperti arisan ibu-ibu. Yang setiap orang pasti akan kena kalau sudah jatahnya. Tinggal bagaimana takdir kita berjalan. Innallaha ala kulli syaiin qadir. Sebab, ada banyak hal yang sulit dinalar. Misalnya, dari segi mortalitas atau angka kematian akibat Covid-19 ini. Kata pakar, kebanyakan yang meninggal adalah mereka yang sudah berumur disertai komorbid. Namun, ada fakta yang tidak bisa dibantah. Di depan mata saya sosok anak muda masih sehat tanpa komorbid. Ia harus meninggal karena Covid-19. Itulah teman saya yang wafat tempo hari. 

 

Tetapi setelah saya menemui keluarganya, ternyata almarhum belum vaksin. Pun dengan ibunya, belum sempat daftar vaksinasi. Padahal ibunya ada komorbid diabet. Apalagi umurnya sudah uzur. Seharusnya ibunya adalah orang yang paling berisiko dekat dengan kematian. 

 

Namun, fakta hari ini ibunya masih sehat. Saat itu ibunya cukup isoman di rumah. Tidak seperti anak semata wayangnya itu. Hampir sebulan isoman di rumah sakit. Inilah yang kemudian menimbulkan 'asumsi sesat' bagi orang awam bahwa kalau di rumah sakit pasti mati. Lagi-lagi kita dibuat bingung dengan sederet fakta Covid-19 hingga detik ini. Pikiran kita kacau karena banyak kejadian yang sulit dinalar. Sementara kecerdasan intelektual (IQ) kita hanya mampu menjangkau sesuatu yang rasional. Apalagi soal Covid-19 kita ini cukup awam. Sebab, yang tahu banyak tentang Covid-19 adalah pakar atau ahli di bidangnya. Sedangkan kita, mungkin tahu sedikit-sedikit karena ada sumber referensinya. Lebih bahaya lagi, kalau tahu sedikit-sedikit berdasar katanya yang bukan ahlinya.

 

Oleh karena itu, sebagai orang awam dalam hal ini agaknya kita berpedoman saja pada filsuf asal Persia. Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i atau kita lebih familier dengan sebutan Imam al-Ghazali. Sang penulis kitab Ihya Ulumuddin itu adalah ahli di bidang teologi, filsafat Islam, fiqih, sufisme, mistisisme, psikologi, logika, dan kosmologi. Sumbangsih pemikirannya untuk dunia, telah diakui lintas generasi dari abad ke abad. 

 

Seluruh pikiran genuinnya itu diwariskan ke belbagai literatur untuk seluruh umat di dunia. Terlebih kitab berjudul Iljamul Awam an Ilmi al-Kalam. Sebuah kitab yang sangat relevan sebagai pedoman manusia awam. Seperti saya ini yang sangat awam dalam menghadapi pandemi. Dalam kitab yang menarik perhatian saya adalah kalimat al-taqdis dan al-Iman wa tasdiq. Menghadapi masalah global yang kita sendiri awam, sebaiknya kita al-taqdis. Menyucikan diri dan pasrah kepada Allah. Kemudian al-Iman wa tasdiq atau beriman dan percaya. Dalam maqam awam, sebaiknya kita juga percaya dengan apa yang dikatakan orang yang mengerti (ahli). Sebab, mereka para ahli itu memiliki landasan teori berdasarkan fakta empiris.

 

Seperti hukum gerak Newton merupakan teori yang bersumber dari fakta empiris. Misalnya, mengapa apel jatuh ke tanah? Karena berkaitan dengan teori gravitasi. Sejak dulu, apel jatuh ke tanah. Nah dari fakta empiris ini, sehingga terciptalah hukum Newton. Tetapi hukum gerak Newton salah di era Albert Einstein. Menurut Einstein tidak begitu. Lalu, Apakah Isac Newton berbohong? Mungkin ilmuwan bisa salah, namun ilmuwan tidak boleh berbohong. 

 

Sehingga, dalam hal ini kita harus percaya yang dikatakan ahli. Para ahli bersepakat, kompak, kolektif kolegial bahwa virus ini obatnya hanyalah imunitas. Maka tingkatkan imun, makan yang bergizi, olahraga dan konsumsi vitamin sekadarnya. Serta jangan takut untuk vaksinasi. Selebihnya adalah pasrah. Wa ma tasquṭu miw waraqatin illa ya'lamuha.
 

 

Angga Purwancara adalah Humas Lembaga Falakiyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Gresik, Tim IT & Cyber Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Gresik.


Editor:

Opini Terbaru