• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 26 Juni 2022

Keislaman

Bagi Jamaah Haji, Jangan Lupa Menata Niat dengan Benar

Bagi Jamaah Haji, Jangan Lupa Menata Niat dengan Benar
Jamaah haji ibadah shalat berjamaah mengelilingi Ka'bah (Foto:NOJ/kemenko PMK)
Jamaah haji ibadah shalat berjamaah mengelilingi Ka'bah (Foto:NOJ/kemenko PMK)

Melakukan kebaikan, hendaknya didasarkan pada niat yang baik pula. Seperti halnya dengan makan, minum, tidur, kegiatan sehari-hari bisa mendapatkan pahala dengan niatan untuk mencari ridho Allah.


Menata niat itu memang sangat sulit, terlebih bila kegiatan tersebut memiliki potensi untuk dipamerkan seperti bersedekah, haji. Maka dari itu mempertahankan niat tulus karena Allah harus diprioritaskan dan dipertahankan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Umar, bahwa Rasulullah bersabda:


عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ


Artinya : Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang terukur sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasulnya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasulnya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai dengan apa yang ia tuju (HR. Bukhari dan Muslim)


Hadits ini menjelaskan bahwa niat memiliki arti penting dalam setiap ibadah. Begitu pula dengan pahalanya, diterima atau tidak itu juga berkelindan dengan niat. Namun apabila kita mempunyai niat kebaikan namun tidak bisa melakukan maka akan tetap mendapatkan pahala


Sebagaimana dijelaskan dalam hadits dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad bersabda


إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ


Artinya: Sesungguhnya Allah mencatat berbagai kebaikan dan kejelekan kemudian Allah menjelaskannya; Barangsiapa yang bertekad untuk melakukan kebaikan lantas tidak bisa terlaksana, maka Allah catat baginya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia bertekad  dan  melaksanakannya, maka Allah mencatat baginya 10 kebaikan hingga 700 kali lipatnya sampai lipatan yang banyak (HR. Bukhari dan Muslim 130)


Sedangkan niat dalam konteks ihram atau ibadah haji, mengutip pendapat Imam Nawawi:


فالإحرام هو النية بالقلب وهي قصد الدخول في الحج أو العمرة


Artinya: Ihram ialah niat dalam hati, yaitu niat untuk melaksanakan ibadah haji atau umrah.


Menurut Imam An-Nawawi, niat haji harus dimantapkan di dalam hati, dilafalkan, dan diiringi dengan lafal talbiyah. Ia menjelaskan


ينبغي لمريد الاحرام أن ينويه بقلبه ويتلفظ بذلك بلسانه فَيَقُولُ بِقَلْبِهِ وَلِسَانِهِ نَوَيْتُ الْحَجَّ وَأَحْرَمْت بِهِ لِلَّهِ تَعَالَى لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ إلى آخر التلبية فهذا أكمل ما ينبغي له


Artinya: Orang yang ingin ihram harus berniat dalam hati, melafalkan niat, dan bertalbiyah. Hendaklah ia mengatakan dalam hatinya sembari dilafalkan, ‘nawaitul hajja wa ahramtu bihi lillahi ta’ala, labbaik allahumma labbaik, aku niat haji dan berihram karena Allah SWT, aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah’, hingga akhir lafal talbiyah. Ini termasuk niat yang paling sempurna.

 

Dari uraian beberapa redaksi di atas ini menjadi dasar bahwa niat menjadi rukun dalam kebanyakan ibadah, seperti shalat, zakat, puasa, haji. Kesemuanya harus berdasarkan lillahi taa'ala. Mengapa demikian?


Karena kadang dalam ibadah apapun, termasuk ibadah haji masih ada oknum yang berniat untuk meningkatkan status sosial belaka, sehingga melupakan inti dari ibadah. Ini yang perlu diwaspadai dan ditata kembali niatnya.


Posisi niat, mayoritas ulama memposisikan berada dalam hati. Sementara lisan hanya bukti atau penguat apa yang ada di dalam hati. Oleh karena itu menata niat sebelum melakukan sesuatu sangat penting, karena dengan niat yang baik kita akan mendapatkan pahala asalkan niatnya karena Allah. 


Keislaman Terbaru