• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 26 Juni 2022

Keislaman

Mengapa Kalimat Talbiyah Dibaca Lantang?

Mengapa Kalimat Talbiyah Dibaca Lantang?
Suasana jamaah haji sedang tawaf sambil melantunkan doa (Foto:NOJ/lampungnuonline)
Suasana jamaah haji sedang tawaf sambil melantunkan doa (Foto:NOJ/lampungnuonline)

Talbiyah merupakan bacaan khas dilafalkan saat seseorang telah berniat untuk beribadah haji atau umrah. Bukan sekedar bacaan, melainkan talbiyah merupakan pernyataan sakral dan penting bahwa seseorang telah bertauhid kepada Allah.


Kalimat talbiyah dilafalkan oleh jamaah haji sejak pasang niat ihram atau haji di tanah halal hingga memasuki Masjidil Haram. Kalimat talbiyah dibaca lantang dan terus menerus oleh jamaah haji hingga melempar jumrah aqabah pada 10 Dzulhijjah.


Kalimat talbiyah yang masyhur dilafalkan oleh Rasulullah dan para sahabat adalah:


 لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ 


Artinya : Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sungguh, segala puji, nikmat, dan segala kekuasaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.


Bagi jamaah haji atau umrah membaca talbiyah dilakukan dengan keras dan lantang sebagaimana yang diriwayatkan Abdullah bin Abu Bakar bin Muhammad bin 'Amru bin Hazm dari Abdul Malik bin Abu Bakar bin Al Harits bin Hisyam dari Khallad bin As Sa`ib Al Anshari dari Bapaknya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda


حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ هِشَامٍ عَنْ خَلَّادِ بْنِ السَّائِبِ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَمَرَنِي أَنْ آمُرَ أَصْحَابِي أَوْ مَنْ مَعِي أَنْ يَرْفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالتَّلْبِيَةِ أَوْ بِالْإِهْلَالِ يُرِيدُ أَحَدَهُمَا


Artinya: Jibril mendatangiku dan menyuruhku agar memerintahkan kepada para sahabatku, atau siapa saja yang bersamaku untuk meninggikan suaranya saat talbiyah atau berihram." Yang dimaksud oleh perawi adalah salah satunya (HR Imam Malik)


Hadits lain yang diriwayatkan Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami hamad bin Zaid dari Ayyub dari Abu Qilabah dari Anas radhiyallahu' Rasulullah SAW bersabda


حَدَّ ثَناَ سُلَيْماَ نُ بْنُ حَرْ بٍ حَدَّ ثَناَ حَمَّا دُ بِنْ زَيْدٍ أَيُّو بَ عَنْ أَبِي قِلاَ بَةَ عَنْ أَنَسٍ رَ ضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَلَ صَلَّي النَّبِيُّ صَلَّي اللّٰهُ عَلَيّهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ اَ لْظُّهْرَ أََرْبَعًا وَا لْعَصْرَ بِذِي الْحُلَيْفَةِ رَ كْعَتَيْنِ وَسَمِعْتُهُمْ يَصْرُ خُوْنَ بِهِمَا جَمِيْعاً


Artinya : Nabi melaksanakan shalat duhur di Madinah empat rakaat dan shalat asar di Dzul Hulafiah dua rokaat. Dan aku mendengar mereka melakukan talbiyah dengan mengeraskan suara mereka pada keduanya haji dan umrah (HR Bukhari)


Dari kedua redaksi ini kita dapat menyimpulkan bahwasanya membaca talbiyah pada saat melaksanakan haji dan umrah harus dikeraskan sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah. Sebab dalam kalimat talbiyah berisi pemurnian peribadatan hanya kepada Allah dan membuang kemusyrikan. Hal ini juga membuktikan bahwa kalimat-kalimat talbiyah itu bukan semata lafal-lafal kosong, tetapi mengandung makna agung yang merupakan ruh dan asas agama, yaitu tauhidullah.


Oleh karena itu, setiap orang yang mengumandangkan kalimat-kalimat talbiyah di atas wajib menghayati makna yang terkandung di dalamnya sehingga ia menjadi orang yang benar dalam bertalbiyah, kata-katanya cocok dengan kenyataannya, ia benar-benar berpegang pada ajaran tauhid dan menjaga hak-hak tauhid.


Keislaman Terbaru