• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 26 Juni 2022

Rehat

Cerita Nyata, Warga Berangkat Haji Bermodalkan Shalawat

Cerita Nyata, Warga Berangkat Haji Bermodalkan Shalawat
Dengan mengamalkan shalawat, warga bisa menunaikan ibadah haji. (Foto: NOJ/NU Network)
Dengan mengamalkan shalawat, warga bisa menunaikan ibadah haji. (Foto: NOJ/NU Network)

Surabaya, NU Online Jatim
Antrian haji di Tanah Air demikian lama dan panjang. Bahkan kalau dikalkulasi dan menggunakan logika, akan sangat berat bagi umat Islam di Indonesia untuk menunaikan rukun Islam kelima tersebut. Akan tetapi ada yang diberikan kemudahan dengan bermodalkan shalawat. 


Setidaknya hal itulah yang dialami Yazid dan istri, warga Todipan, Solo, Jawa Tengah. Kisahnya terjadi beberapa tahun silam, tepatnya 2017. 


Saat itu Yazid berusaha menjual tanah yang ia miliki sebagai sarana untuk membayar ongkos naik haji (ONH). Berbagai macam usaha telah ditempuh, namun belum kunjung berhasil. Tanah yang ditawarkan belum kunjung laku. Sehingga timbul inisiatif menawarkan tanahnya kepada KH Abdul Muid Ahmad, Pesantren Al Muayyad, Mangkuyudan, Solo. 


Sebetulnya, tanah yang ditawarkan Yazid tidak begitu mahal. Ia hanya butuh uang 70 juta. Sejumlah uang yang sekira cukup untuk membayar ONH dirinya sendiri bersama istri tercinta. Meski hanya ditawarkan di angka 70 juta, karena Kiai Muid waktu itu sedang banyak kebutuhan, termasuk di antaranya juga ingin membayarkan biaya haji anaknya sendiri, Kiai Muid tidak bisa mengabulkan penawaran Yazid. 


Karena keinginan Yazid yang tampak kuat untuk menunaikan ibadah haji, Kiai Muid kemudian memberikan amalan supaya Yazid dan istri mengamalkan bacaan shalawat yang telah diterima sanadnya dari KH Ahmad Baedlowie Syamsuri, Brabo, Grobogan. Dengan syarat shalawat ini dibaca satu kali setiap habis shalat isya dan dibaca 40 kali setiap malam Jumat. 


Shalawat dimaksud adalah sebagai berikut: 


   اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُبَلِّغُنَا بِهَا حَجَّ بَيْتِكَ الْحَرَامِ، وَزِيَارَةَ حَبِيْبِكَ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ اَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَالسَّلاَمِ، فِي صِحَّةٍ وَعَافِيَةٍ وَبُلُوْغِ الْمَرَامِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. 


Sepulang Yazid dari Kiai Muid, ia lalu ditanya oleh sang ibunda. 


“Dari mana tadi, Zid?” 


“Ini bu, dari sowan Mbah Muid, mau jual tanah tapi beliau nggak bisa bantu. Aku dikasih amalan shalawat haji,” begitu kira-kira sahut Yazid. 


“Oh.... coba aku ikut mengamalkan, barang kali bisa ikut membantu kamu.” 


Yazid kemudian turut memberikan. Hingga, ijazah shalawat tersebut diamalkan oleh Yazid, istrinya beserta sang ibunda. Justru ibunya yang tidak mendapat ijazah dari Kiai Muid langsung ini, malah yang paling rajin mengamalkan daripada Yazid sendiri yang tak begitu rajin. 


Tidak sampai jeda waktu yang lama, setelah mereka mengamalkan shalawat, Yazid ditakdirkan Allah bertemu dengan kakaknya yang berprofesi sebagai makelar tanah atau bisnis properti. Ia meminta tolong kakaknya ini untuk dijualkan tanah dengan sebuah ikat janji bahwa yang dibutuhkan Yazid hanya uang 70 juta saja. Selebihnya ia tak mau tahu, silakan kalau mau ambil untung. Untung berapa pun di atas 70 juta, ia serahkan menjadi hak milik sang kakak. Tanah, yang semula ia tawarkan ke berbagai macam orang dengan patokan harga 70 juta tidak kunjung terjual itu sekarang berubah justru laku pada kisaran angka 100 juta melalui tangan kakaknya. 


Sesuai dengan janji yang telah ia sampaikan, Yazid tidak berkenan menerima kelebihan dari harga yang ia butuhkan. Bagaimanapun pula, ia sudah mengikat janji. Begitu pula kakaknya, sebagai saudara, ia ikhlas tak menginginkan balasan apa pun dalam hal ini. Ia hanya ingin membantu kelancaran cita-cita sang adik yaitu menunaikan rukun Islam kelima berupa ibadah haji. 


Akhirnya uang sisa dari 70 juta yang ditolak masing-masing kedua belah pihak. Sang kakak mengusulkan bagaimana kalau kelebihan uang 30 juta ini dibuat membiayai sang ibunda menunaikan ibadah haji sekalian. Sehingga akhirnya mereka telah mencapai kata sepakat. 

 


Jadi, karena keberkahan shalawat itu setelah dibaca, ketiga orang itu pula dipanggil oleh Allah Ta'ala untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah.


Editor:

Rehat Terbaru