• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 4 Desember 2022

Keislaman

Berikut Enam Kebiasaan Rasulullah saat Idul Fitri

Berikut Enam Kebiasaan Rasulullah saat Idul Fitri
Karena kondisi tidak memungkinkan, silaturahim Idul Fitri dilakukan secara online. (Foto: NO Online)
Karena kondisi tidak memungkinkan, silaturahim Idul Fitri dilakukan secara online. (Foto: NO Online)

Setelah melewati perjuangan yang tidak ringan, akhirnya umat Islam sampai di bulan Syawal. Ya, petang ini, kumandang takbir menggema di seluruh tempat. Tidak hanya di masjid dan mushala, juga lokasi lain.

 

Sebagai hari raya besar, umat Islam Indonesia menggelar berbagai macam perayaan, seperti takbir. Di samping itu, Idul Fitri juga telah membentuk tradisi dan budaya yaitu mudik atau pulang kampung untuk bersilaturahim dengan handai taulan. Kendati untuk tahun ini, agenda pulang kampung dilarang, namun nuansa Idul Fitri masih terasa.

 

Dalam suasana seperti ini, ada baiknya kita membayangkan bagaimana Rasulullah SAW merayakan hari raya yang jatuh pada satu Syawal itu. Apa saja yang dilakukan Rasulullah di hari kemenangan umat Islam itu?

 

Merujuk buku How Did the Prophet & His Companions Celebrate Eid?, Rasulullah dan umat Islam pertama kali menggelar perayaan hari raya Idul Fitri pada tahun kedua Hijriyah (624 M) atau usai Perang Badar.

 

 

Dari beberapa riwayat disebutkan bahwa ada beberapa hal yang dilakukan Rasulullah untuk menyambut dan merayakan hari Idul Fitri.

 

Pertama, Takbir

 

Diriwayatkan bahwa Rasulullah mengumandangkan takbir pada malam terakhir Ramadlan hingga pagi hari satu Syawal. Hal ini sesuai dengan apa yang difirmankan Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 185: Dan hendaklah kamu sempurnakan bilangan puasa serta bertakbir (membesarkan) nama Allah atas petunjuk yang telah diberikan-Nya kepadamu, semoga dengan demikian kamu menjadi umat yang bersyukur.

 

Kedua, Memakai Pakaian Terbaik

 

Pada hari raya Idul Fitri, Rasulullah mandi, memakai wangi-wangian, dan mengenakan pakaian terbaik yang dimiliki. Kisah ini terekam dalam hadist yang diriwayatkan Al-Hakim.

 

Ketiga, Makan sebelum Shalat Id

 

Salah satu hari yang diharamkan berpuasa adalah hari raya Idul Fitri. Bahkan, dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa berniat tidak puasa pada saat hari Idul Fitri itu pahalanya seperti orang yang sedang puasa di hari-hari yang tidak dilarang. 

 

Sebelum shalat Idul Fitri, Rasulullah biasa memakan kurma dengan jumlah yang ganjil; tiga, lima, atau tujuh. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa: Pada waktu Idul Fitri Rasulullah tidak berangkat ke tempat shalat sebelum memakan beberapa buah kurma dengan jumlah yang ganjil. (HR. Ahmad dan Bukhari) 

 

Keempat, Shalat Idul Fitri

Rasulullah menunaikan shalat Idul Fitri bersama dengan keluarga  dan sahabat-sahabatnya –baik laki-laki, perempuan, atau pun anak-anak. Rasulullah memilih rute jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang dari tempat dilangsungkannya shalat Idul Fitri.  Rasulullah juga mengakhirkan pelaksanaan shalat Idul Fitri, biasanya pada saat matahari sudah setinggi tombak atau sekitar dua meter. Hal ini dimaksudkan agar umat Islam memiliki waktu yang cukup untuk menunaikan zakat fitrah.

 

Kelima, Mendatangi Keramaian

Suatu ketika saat hari raya Idul Fitri, Rasulullah menemani Aisyah mendatangi sebuah pertunjukan atraksi tombak dan tameng. Bahkan saking asyiknya, sebagaimana hadist riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim, Aisyah sampai menjengukkan (memunculkan) kepala di atas bahu Rasulullah sehingga dia bisa menyaksikan permainan itu dari atas bahu Rasulullah dengan puas. 

 

Karena di negeri ini tengah merebaknya wabah Covid-19, maka kebiasaan ini dapat diganti dengan pertemuan virtual. Mendatangi kegiatan online yang diselenggarakan berbagai kalangan. Dari mulai takbir online, kajian online dan sejenisnya.  

 

Keenam, Mengunjungi Sahabat

 

Tradisi silaturahim saling mengunjungi saat hari raya Idul Fitri sudah ada sejak zaman Rasulullah. Ketika Idul Fitri tiba, Rasulullah mengunjungi rumah para sahabatnya. Begitu pun para sahabatnya. Pada kesempatan ini, Rasulullah dan sahabatnya saling mendoakan kebaikan satu sama lain. Sama seperti yang dilakukan umat Islam saat Syawal, ada baiknya mendatangi ke tempat sanak famili dengan saling mendoakan.

Sama seperti penjelasan untuk poin kelima, maka kebiasaan ini hendaknya juga tidak dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian dan menjaga diri dan keluarga dari penyebaran Covid-19.   

 


Editor:

Keislaman Terbaru