• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 29 Mei 2024

Keislaman

Bolehkah Puasa Syawal 6 Hari Dikerjakan Tak Berurutan, Ini Penjelasannya

Bolehkah Puasa Syawal 6 Hari Dikerjakan Tak Berurutan, Ini Penjelasannya
Ilustrasi puasa Syawal 6 hari. (Foto: NU Online)
Ilustrasi puasa Syawal 6 hari. (Foto: NU Online)

Umat Islam dianjurkan untuk mengerjakan puasa 6 hari di bulan Syawal, setelah menunaikan puasa Ramadhan. Puasa Syawal memiliki banyak keutamaan, salah satunya pahalanya setara dengan pahala puasa selama satu tahun sebagaimana hadits Rasulullah.

 

Namun demikian, bagaimana bila dalam praktiknya puasa Syawal selama 6 hari tersebut dikerjakan tidak berurutan, tetapi dilaksanakan secara terpisah dan bahkan dikerjakan di akhir bulan Syawal? Hal demikian banyak terjadi dalam laku masyarakat Muslim, mengingat pasca Idul Fitri mereka melakukan silaturahim yang tentu dihidangi sejumlah makanan.

 

Berkaitan hal ini, Sayyid Abdullah Al-Hadrami menjelaskan bahwa puasa sunnah Syawal tidak harus dilakukan secara tersambung. Enam hari puasa sunnah Syawal boleh dikerjakan secara terpisah-pisah sepanjang masih berada di bulan Syawal.

 

“Apakah disyaratkan dalam puasa Syawal untuk terus-menerus? Jawaban: sesungguhnya tidak disyaratkan dalam puasa Syawal untuk terus-menerus, dan cukup bagimu untuk puasa enam hari dari bulan Syawal sekalipun terpisah-pisah, sepanjang semua puasa tersebut dilakukan di dalam bulan ini (Syawal).”

 

Dengan demikian, praktik umat Islam yang melaksanakan puasa Syawal secara terpisah dapat dibenarkan. Kendati demikian, yang lebih utama adalah dilakukan terus-menerus tanpa dipisah-pisah.

 

Pendapat yang menegaskan praktik puasa Syawal yang lebih dianjurkan itu sebagaimana ditulis oleh Imam Abu Al-Husain Yahya bin Abil Khair bin Salim Al-Umrani Al-Yamani dalam salah satu karyanya.

 

 يُسْتَحَبُّ لِمَنْ صَامَ رَمَضَانَ أَنْ يَتَّبِعَهُ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ. وَالْمُسْتَحَبُّ: أَنْ يَصُوْمَهَا مُتَتَابِعَةً، فَإِنْ صَامَهَا مُتَفَرِّقَةً جَازَ

 

Artinya: “Disunnahkan bagi orang yang puasa di bulan Ramadhan untuk meneruskan dengan puasa enam hari dari bulan Syawal. Dan (praktik) yang dianjurkan, yaitu dengan berpuasa Syawal secara terus-menerus, dan jika puasa dengan cara terpisah, maka diperbolehkan.”

 

Dari pendapat tersebut, hendaknya umat Islam mengerjakan puasa Syawal dengan cara tak terputus selama enam hari. Namun, bila memang tidak bisa, dilakukan secara tidak berurutan pun masih dapat dibenarkan dan dianjurkan.

 

Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa puasa Syawal boleh dilakukan secara terus-menerus maupun terpisah-pisah. Catatannya ialah puasa tersebut sepanjang dilaksanakan di dalam bulan Syawal.

  

Dua cara ini sama-sama mendapatkan kesunnahan puasa pada bulan tersebut. Hanya saja, yang lebih utama adalah dengan cara puasa terus-menerus selama enam hari. Wallahu a’lam.


Keislaman Terbaru