• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 10 Desember 2022

Keislaman

Cara Rasulullah Memperingati Hari Kelahirannya

Cara Rasulullah Memperingati Hari Kelahirannya
Maulid Nabi Muhammad (Foto:NOJ/Shofnews)
Maulid Nabi Muhammad (Foto:NOJ/Shofnews)

Memasuki bulan Rabiul Awal tentu tidak bisa dilepaskan dari peristiwa agung yaitu kelahiran Nabi atau maulid Nabi. Pada bulan tersebut umat Islam bersuka cita, bersyukur atas lahirnya Nabi Muhammad. Bahkan ragam kegiatan digelar di bulan maulid, seperti pembacaan Tarikh Rasulullah, maulid barzanji, khataman al-Quran, dan lain sebagainya.


Lantas bagaimanakah Rasulullah memperingati hari kelahirannya?


Sebagai makhluk termulia, Rasulullah memiliki kekhasan tersendiri dalam mengungkapkan rasa syukur atas kelahirannya. Dalam shahih Muslim dari hadits Abu Qatadah:


عَنْ أبِي قَتادَةَ الأنْصارِيِّ،  أنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الِاثْنَيْنِ؟ فَقالَ: فِيهِ وُلِدْتُ وفِيهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ


Artinya: Diriwayatkan dari Abi Qatadah al-Ansari, sesungguhnya Rasulullah pernah ditanya tentang puasa hari Senin, beliau menjawab : Pada hari itu aku dilahirkan, dan pada hari itu diturunkannya Al-Qur’an kepadaku (HR.Muslim).


Dalam beberapa kitab syarah dijelaskan bahwa hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah lahir di hari Senin dan di hari Senin al-Quran diturunkan kepadanya. Sebagian riwayat menyebutkan redaksi “buitstu” atau hari Senin beliau diangkat menjadi Nabi.


Alasan sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad karena memang beliau adalah tempat bertanya, panutan dan sosok ideal dalam menjalankan ajaran agama Islam. Meskipun kebiasaan Nabi sendiri adakalanya untuk pribadi beliau, bukan untuk umum.


Puasa Senin yang dilakukan Rasulullah sebagaimana termaktub dalam hadis sejatinya merupakan cara Rasulullah memperingati kelahirannya. Beliau bersyukur atas kelahiran di hari Senin, terlebih pada hari Senin merupakan hari diangkatnya amal seorang hamba.


Hadis di atas bila dipahami secara kontekstual, maka memberikan arti bahwa siapapun yang memperingati hari kelahirannya sebaiknya diisi dengan kebiasaan baik berupa ibadah puasa sunnah, membaca al-Quran, bersedekah dan seterusnya. 


Oleh karena itu, dari hadis ini pula akhirnya berkembang sebuah tradisi puasa weton alias puasa pada hari seseorang dilahirkan sebagai bentuk syukur kepada Allah atas karunianya sesuai dengan apa yang telah Rasulullah contohkan tatkala memperingati hari kelahirannya.


Editor:

Keislaman Terbaru