• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 24 Juni 2024

Keislaman

Hukum Adzan dan Iqamah Mengiringi Keberangkatan Haji

Hukum Adzan dan Iqamah Mengiringi Keberangkatan Haji
Ilustrasi Adzan. (Foto: NOJ/NU Online)
Ilustrasi Adzan. (Foto: NOJ/NU Online)

Haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan oleh setiap umat Islam yang mempunyai kemampuan atau istitha'ah. Kewajiban ini tentunya berlaku sekali seumur hidup bagi mereka yang mempunyai kemampuan untuk melaksanakannya.

 

Di Indonesia, keberangkatan jamaah haji terasa begitu meriah, tradisi walimatus safar dengan mengundang para tetangga menambah kesakralan hal itu. Belum lagi saat keberangkatan, tetangga dan sanak saudara mengantarkannya dengan iringan adzan dan iqamah.

 

Bagaimana hukum adzan dan iqamah yang dikumandangkan mengiringi keberangkatan jamaah haji? Apakah ada dalilnya?

 

Mengumandangkan adzan dan iqamah mengiringi keberangkatan jamaah haji atau umroh, hukumnya sunah. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam kitab Shahih Ibnu Hibban, juz II, hal 36 yakni hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Imam Al Qarafi dan Imam Al Baihaqi. 

 

من طريق ابو بكر والرُّذبارى عن ابن داسّة قال: حدثنا ابن محزوم قال حدثنى الامام على ابن ابى طالب كرم الله وجهه وسيدتنا عائشة رضي الله عنهم كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا استودع منه حاجٌ او مسافر أذّن وأقام. وقال ابن السنّى متواتر معنوى ورواه أبو داود والقرافى والبيهقى

 

Artinya: "Diriwayatkan dari jalur sanad Abu Bakr dan Rudzbari dari Ibu Dassah, berkata, Ibnu Makhzum menceritakan kepada kita, berkata, Imam Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Aisyah menceritakan kepadaku, bahwa Rasulullah SAW ketika ada seorang yang berhaji atau bepergian meminta izin kepada beliau, maka beliau adzan dan iqamah. Imam Ibnu Sunni berpendapat hadits tersebut adalah mutawatir secara ma'na dan diriwayatkan oleh Abu Daud, Al Qarafi dan Al Baihaqi."

 

Hadits tersebut secara gamblang menjelaskan bahwa prosesi adzan dan iqamah mengiringi orang yang akan berangkat haji atau berangkat bepergian pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Sehingga menyebut hal ini sebagi bid'ah tentu sangat tidak berdasar meskipun secara fungsi utamanya adzan dan iqamah memang untuk shalat.

 

Dalam Kitab I'natut Tholibin juz 1, halaman 23, lebih detail dijelaskan, bahwa kesunahan adzan dan iqamah untuk mengiringi seseorang yang bepergian ada batasannya, sebagaimana disebutkan:

 

 (قوله خلف المسافر) أي ويسن الآذن والاقامة أيضاً خلف المسافر لورود حديث صحيح فيه قال أبو يعلى فى مسنده وابن ابى شيبة؛ أقول وينبغى ان محلّ ذلك مالم يكن سفر معصية.

 

Artinya: "Kalimat 'menjelang bepergian bagi musafir' maksudnya yaitu disunahkan adzan dan iqamah bagi seseorang yang hendak bepergian berdasarkan adanya hadits shahih tentang hal itu. Abu Ya’la dalam Musnadnya dan Ibnu Abi Syaibah mengatakan, sebaiknya dipahami kesunahan adzan dan iqamah tersebut selama bepergiannya bukan bepergian maksiat "

 

Sementara itu, dalam Kitab Tuhfah Al-Habiib Juz 1 halaman 893 ada tambahan, adzan dan iqamah juga disunahkan dikumandangkan di telinga binatang dan orang yang jelek perangainya dan di telinga seseorang yang sedang ketakutan.

 

ويسن الأذان والإقامة أيضاً خلف المسافر، ويسن الأذان في أذن دابة شرسة وفي أذن من ساء خلقه وفي أذن المصروع اهــــ ق ل

 

Artinya: "Dan disunahkan juga adzan dan iqamah bagi seseorang yang hendak bepergian, ditelinga binatang yang jelek perangainya, orang yang jelek akhlaknya dan ditelinga orang yang ketakutan."


Keislaman Terbaru