• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 15 Agustus 2022

Keislaman

Ini Tanda Orang Meraih Lailatul Qadar

Ini Tanda Orang Meraih Lailatul Qadar
Terdapat sejumlah tanda mereka yang meraih lailatul qadar. (Foto: NOJ/MCs)
Terdapat sejumlah tanda mereka yang meraih lailatul qadar. (Foto: NOJ/MCs)

Sejumlah ikhtiar dilakukan kaum muslimin dan muslimat dalam upaya meraih lailatul qadar. Di sepuluh akhir Ramadlan menjadi pertaruhan, sehingga tidak sedikit yang menyambutnya dengan aneka ibadah.

 

Meraih lailatul qadar merupakan harapan semua umat Islam pada bulan Ramadlan. Salah satu saluran untuk memperoleh predikat takwa peristiwa malam qadar. Malam agung dan istimewa yang kebaikannya berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.

 

Datangnya malam qadar tidak seorang pun yang mengetahui tepatnya kapan. Selama ini umat Islam hanya membaca tanda-tanda malam yang menurut Al-Qur’an lebih baik dari 1.000 bulan ini.

 

Betapa mulianya lailatul qadar karena mampu membawa seorang hamba pada ketakwaan yang hakiki. Untuk bertemu dengan malam qadar, seorang hamba sesungguhnya bisa mempersiapkan diri sedari awal Ramadlan tiba.

 

Ini menunjukkan bahwa kebaikan harus bersifat kontinu sebagaimana kemuliaan yang ditunjukkan pada malam lailatul qadar dan dampaknya terhadap kehidupan di masa-masa yang akan datang.

 

Muhammad Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an (1999) mengungkapkan amalan-amalan agar seorang hamba bisa bertemu malam tersebut. Namun, yang harus diperhatikan ialah selain bertemu lailatul qadar, manusia juga mendapatkannya sehingga amalan-amalan baik harus dilakukan untuk mendapatkan kemuliaan malam tersebut.

 

Di titik tersebut lailatul qadar dapat diraih dengan upaya yang bersifat aktif, bukan pasif dari setiap muslim. Bahkan ikhtiar kebaikan itu dapat diusahakan sejak awal Ramadlan. Pertanda seseorang mendapatkan lailatul qadar yang disampaikan Quraish Shihab dapat dijelaskan sebagai berikut:

 

Pertama, Al-Qur’an menyatakan, bahwa dalam lailatul qadar, malaikat turun (QS Al-Qadr: 4). Ketika turun dan mengunjungi seseorang, malaikat senang dengan kebaikan, melingkupi kebaikan apa saja.

 

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ

 

Artinya: Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. (QS Al-Qadr: 4)

 

Malaikat mendukung manusia yang berbuat baik. Dengan demikian, melakukan kebaikan secara terus-menerus bisa mengantarkan manusia mendapatkan malam qadar.

 

Lalu kebaikan yang seperti apa? Berbuat baik juga terkait dengan kesempatan dan waktu. Artinya, manusia jangan menunda kebaikan, apalagi ketika orang lain sangat membutuhkan bantuan dan kebaikan tersebut saat itu juga. Di situlah malam kemuliaan akan datang kepada manusia yang malaikat juga turut datang kepadanya.

 

Kedua, di malam qadar ada kedamaian sampai fajar (QS Al-Qadr: 5). Artinya, damai dengan diri dan damai dengan orang lain. Damai itu ada damai aktif dan ada damai pasif. Misal ketika manusia naik bus, banyak orang di bus, lalu hanya duduk diam, tidak menyapa samping kiri dan samping kanannya. Hal itu termasuk damai, tetapi damai pasif.

 

سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

 

Artinya: Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS Al-Qadr: 5)

 

Lain halnya dengan damai aktif yaitu ketika saling menyapa atau memberi sesuatu kepada orang lain dengan tujuan yang baik. Hal ini juga berlaku bahwa ketika manusia tidak bisa memuji orang lain, tidak perlu memakinya. Kalau tidak bisa memberi sesuatu kepada orang lain, jangan lalu mengambil haknya. Kalau tidak bisa membantunya, jangan menjerumuskannya. Ini prinsip kedamaian yang dapat mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin. Di saat itulah manusia mendapat malam kemuliaan, yaitu lailatul qadar.

 

Secara singkat, bisa ditarik simpul bahwa pertanda orang yang mendapatkan lailatul qadar ialah pertama, kebaikannya terus meningkat dalam kehidupan sehari-hari setelah Ramadlan. Kedua, hati dan perilakunya penuh dengan kedamaian.

 


Editor:

Keislaman Terbaru