• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 6 Desember 2022

Keislaman

Ketentuan Shalat yang Lebih Didahulukan saat Jamak

Ketentuan Shalat yang Lebih Didahulukan saat Jamak
Saat dalam perjalanan dibolehkan menjamak shalat. (Foto: NOJ/IDN)
Saat dalam perjalanan dibolehkan menjamak shalat. (Foto: NOJ/IDN)

Akhir pekan seperti ini banyak yang mengisinya dengan pelesir atau silaturahim ke luar kota. Bila sesuai ketentuan, dibolehkan menjamak sekaligus mengqashar shalat. Masalahnya, mana yang harus didahulukan saat mengerjakan jamak dan qashar shalat? 
 

Jamak memiliki arti kumpul, lalu dijadikan istilah untuk makna mengumpulkan dua shalat dalam satu waktu, yang awalnya dilaksanakan di waktu yang berbeda. Menjamak shalat adalah salah satu bentuk keringanan (rukhsah) yang diberikan oleh syariat Islam kepada para pemeluknya dikarenakan wujudnya beberapa sebab yang melegalkan shalat untuk dapat dijamak. Sebab-sebab itu bermacam-macam seperti bepergian, hujan dan sakit, dengan berbagai ketentuan-ketentuan yang dijelaskan secara rinci dalam kitab fiqih.  
 

  

Dalil tentang bolehnya menjamak shalat salah satunya terdapat dalam hadits:
 


 كان رسول - ﷺ - يجمع بين صلاة الظهر والعصر إذا كان على ظهر سير، ويجمع بين المغرب والعشاء

 

Artinya: Rasulullah menjamak antara shalat dluhur dan asar ketika berada dalam perjalanan, ia juga menjamak antara shalat maghrib dan isya. (HR Bukhari) 
 

Jenis Jamak
Jenis jamak sendiri terbagi menjadi dua, yaitu jamak taqdim dan jamak ta’khir. Jamak taqdim adalah melaksanakan dua shalat yang dijamak pada waktu shalat yang pertama. Misalnya menjamak shalat dluhur dan ashar pada waktu dluhur. Sedangkan jamak ta’khir adalah melaksanakan dua shalat yang dijamak pada waktu shalat yang kedua, misalnya melaksanakan shalat dluhur dan asar pada waktu asar. 
 

Syarat Jamak Taqdim
Syarat-syarat jamak taqdim ada tiga. 
 

1. Mendahulukan shalat yang pertama (melaksanakan shalat dluhur dahulu, setelah itu shalat asar). 
 

2. Menyebutkan niat jamak taqdim pada shalat yang pertama. 
 

3. Muwalah (terus menerus) dalam artian antara shalat pertama dan kedua tidak terpisah oleh waktu yang lama. 
 

Sedangkan syarat pelaksanaan jamak ta’khir hanya ada satu yaitu melakukan niat jamak ta’khir pada saat waktu shalat yang pertama. Misalnya, saat masuk waktu maghrib, seseorang harus berniat bahwa shalat maghribnya akan dilaksanakan di waktu isya. 

  

Maka dalam jamak ta’khir ini tidak disyaratkan muwalah, mendahulukan shalat yang pertama ataupun kedua dan juga tidak disyaratkan niat jamak pada saat melaksanakan shalat. 
 

Penjelasan demikian tertera dalam kitab Fathul Qarib:
 


 وأما جمع التأخير، فيجب فيه أن يكون بنية الجمع، وتكون النية هذه في وقت الأولى، ويجوز تأخيرها إلى أن يبقى من وقت الأولى زمن لو ابتدئت فيه كانت أداء، ولا يجب في جمع التأخير ترتيب، ولا موالاة ولا نية جمع على الصحيح في الثلاثة


 

Artinya: Adapun (syarat) jamak ta’khir maka wajib untuk melaksanakan niat jamak di waktu shalat yang pertama. Boleh mengakhirkan niat jamak ini sampai masih tersisa zaman dari waktu shalat yang pertama yang mana jika shalat dimulai pada saat itu maka menjadi shalat ada’ (bukan qadha’). Tidak wajib dalam jamak ta’khir ini melakukan shalat secara tartib (berurutan), tidak wajib pula muwalah dan niat jamak menurut pendapat yang sahih dalam ketiganya. (Ibnu Qasim al-Ghazi, Fathul Qarib al-Mujib, halaman: 44) 


 

Berdasarkan referensi di atas kiranya dapat disimpulkan bahwa dalam jamak ta’khir tidak ada kewajiban shalat mana yang harus didahulukan. Sebab, dalam jamak ta’khir tidak disyaratkan pelaksanaan shalat harus tartib sebagaimana yang disyaratkan dalam jamak taqdim, sehingga orang yang menjamak ta’khir shalatnya bebas memilih antara mendahulukan shalat yang awal atau pun mendahulukan shalat yang kedua. 


Keislaman Terbaru