• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 4 Desember 2022

Keislaman

Ramai Pasangan Memilih Childfree, Begini Catatan Imam al-Ghazali 

Ramai Pasangan Memilih Childfree, Begini Catatan Imam al-Ghazali 
Childfree jadi tren pasangan saat ini. (Foto: NOJ/LKo)
Childfree jadi tren pasangan saat ini. (Foto: NOJ/LKo)

Childfree, satu istilah yang akhir-akhir ini viral di media sosial gegara seorang influencer dalam sebuah wawancaraa menyatakan untuk tidak memiliki anak setelah menikah. Istilah Childfree sendiri berarti keputusan yang diambil oleh pasangan suami dan istri untuk tidak memiliki anak dengan berbagai pertimbangan dan alasan. 

 

Alasan tersebut bisa karena alasan finansial, psikologis atau kesiapan mental orang tua. Khususnya sang perempuan untuk menjalani proses kehamilan, melahirkan, merawat bayi, dan masih banyak lagi alasan lain sesuai keadaan pasangan.

 

Jika mau melihat realitas kehidupan keluarga lebih dalam, maka akan menemukan bahwa memiliki anak memang bukan perkara mudah. Banyak hal yang harus dipersiapkan, dan beragam pula permasalahan yang dihadapi khusunya bagi perempuan yang mengalami langsung proses tersebut.

 

Mengandung selama sembilan bulan bukanlah proses mudah. Setelah itu harus melalui proses melahirkan yang menjadikan seorang ibu dalam situasi antara hidup dan mati. Tidak hanya itu, setelah bayi lahir harus menyusui setidaknya dua tahun, merawat, mendidik dan mendampingi sekitar 6 tahun, sampai sang buah hati masuk usia sekolah. 

 

Secara fisik, psikis, dan materi semua proses itu sangat melelahkan bagi seorang perempuan. Oleh karena wajar jika hari ini di saat wacana gender telah banyak dipahami oleh perempuan, keputusan untuk childfree mulai banyak diikuti mereka.

 

Tapi, sebelum memutuskan untuk memilih memiliki anak atau tidak, sebaiknya kita menelaah lebih dalam terkait dengan keuntungan atau kerugiannya, khususnya kerugian dalam sudut pandang agama.

 

Melihat Untung dan Rugi
Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam al-Ghazali membuat menjelaskan bahwa manfaat atau keuntungan pernikahan itu ada 5, yaitu memiliki anak, meredam syahwat, mengatur urusan rumah, memperbanyak anggota keluarga, dan mendapatkan pahala dari usaha menghidupi keluarga. 

Dari lima manfaat tersebut, yang paling utama adalah memiliki anak. Imam al-Ghazali menjelaskan:


الفائدة الأولى الولد وهو الأصل وله وضع النكاح والمقصود إبقاء النسل وأن لا يخلو العالم عن جنس الأنس

 

Artinya: Manfaat pertama (dari pernikahan) adalah memiliki anak, dan ini manfaat utama/pokok, dan atas dasar anak itu pula pernikahan disyariatkan dengan maksud untuk menetapkan keturunan dan agar alam ini tidak sepi dari jenis manusia. (Ihya Ulumuddin, Dar Ibn Hazm, halaman: 459)


Hujjatul Islam ini juga menjelaskan bahwa memiliki anak merupakan sebuah bentuk ibadah kepada Allah SWT. Setidaknya ada empat alasan penting mengapa memiliki anak merupakan bagian dari ibadah.

 

الأول موافقة محبة الله بالسعي في تحصيل الولد لإبقاء جنس الإنسان 
والثاني طلب محبة رسول الله صلى الله عليه وسلم في تكثير من مباهاته 
والثالث طلب التبرك بدعاء الولد الصالح بعده 
والرابع طلب الشفاعة بموت الولد الصغير إذا مات قبله 

 

Artinya: Pertama, sesuai dengan kecintaan Allah SWT di dalam menghasilkan keturunan untuk berlangsungnya jenis manusia. Kedua, mencari mahabbah Nabi Muhammad SAW dalam hal memperbayak pengikut ajaran Nabi yang menjadi kebanggaan. Ketiga mencari keberkahan dari doa anak yang shalih. Keempat, mencari syafaat dari kematian anak dalam usia masih kecil dan meninggal sebelum orang tuanya.

 

Dari penjelasan  Imam al-Ghazali di atas, setidaknya kita tahu bahwa anak adalah tujuan utama dari sebuah pernikahan. Bahkan bisa dikatakan bahwa pernikahan itu sendiri disyariatkan oleh Allah SWT untuk tujuan terwujudnya keturunan, agar keberlangsungan hidup manusia akan tetap berkesinambungan. 

 

Saat ini mungkin ada yang berpendapat bahwa dunia sudah kelebihan populasi sehingga memiliki anak bukanlah suatu yang penting lagi. Karena memiliki anak atau tidak tidak akan berpengaruh pada keberlangsungan hidup manusia, bahkan malah akan menjadikan bumi tempat tinggal kita semakin penuh dan rusak akibat ulah manusia.

 

Pendapat seperti itu seakan-akan benar dan dapat diterima akal. Tetapi ada hal penting yang terlewatkan. Pendapat di atas seakan-akan menafikan kekuasaan Allah SWT dalam menjaga keseimbangan alam semesta. Meskipun secara dlahir mungkin bisa dilihat dan rasakan kerusakan bumi akibat ulah manusia, kita tidak boleh kehilangan keyakinan bahwa Allah yang sesungguhnya mengelola kelestarian alam semesta ini termasuk bumi.

 

Di luar asumsi di atas, Imam al-Ghazali juga mejelaskan bahwa memiliki anak selain menjadi tujuan utama pernikahan, juga menyimpan empat keuntungan bagi orang tua yang melahirkan dan merawat anak tersebut.

 

Ketika seseorang memiliki anak, maka ia telah melakukan sesuatu yang bersesuaian dengan kehendak bahkan kecintaan Allah SWT. Jika ada niat untuk tidak memiliki anak, maka adalah wujud penentangan terhadap kehendak-Nya. Ada sebuah perumpamaan yang sangat indah dari Imam al-Ghazali tentang orang yang tidak mau memiliki anak.


أن السيد إذا سلم إلى عبده البذر وآلات الحرث وهيأ له أرضا مهيأة للحراثة وكان العبد قادرا على الحراثة ووكل به من يتقاضاه عليها فإن تكاسل وعطل آلة الحرث وترك البذر ضائعا حتى فسد ودفع الموكل عن نفسه بنوع من الحيلة كان مستحقا للمقت والعتاب من سيده

 

Artinya: Sesungguhnya seorang raja ketika memberikan kepada hambanya bibit, dan alat-alat pertanian, kemudian disediakan bagi dia sebidang tanah untuk pertanian. Dan hamba itu mampu untuk bercocok tanam, dan kemudian diserahkan kepada orang yang mengerjakan pertanian itu. Maka jika ia bermalas-malasan, menyia-nyiakan alat pertanian, dan membiarkan bibit-bibit itu sia-sia sehingga rusak, dan ia juga menolak orang yang mewakilkan dengan berbagai alasan, maka wajib baginya kemurkaan dan kemarahan rajanya. (Ihya Ulumuddin, Dar Ibnu Hazm halaman: 459)


Perumpamaan di atas kiranya cukup memberikan pelajaran bahwa memiliki anak adalah kehendak dari Allah SWT, dan jangan sampai menentang kehendak tersebut. Selain itu, memiliki keturunan juga merupakan usaha untuk mendapatkan cita dari baginda Nabi Muhammad SAW. Mengapa demikian? Karena akan bangga jika pengikut ajarannya memiliki kuantitas yang lebih banyak dari para nabi sebelumnya. Dengan demikian memiliki anak juga merupakan wujud rasa cinta kita kepada Rasulullah, dan berharap kelak akan bangga karena memiliki keturunan shalih dan setia kepada ajarannya.

 

Tidak hanya itu, dengan memiliki anak, kelak akan ada yang mendoakan jika sudah meninggal dunia. Doa anak shalih adalah salah satu amal jariyah yang ditunggu setiap orang. Jangan sampai timbul penyesalan jika suatu saat tidak ada seorang pun yang mendoakan. Dan yang paling akhir adalah ketika seorang anak meninggal mendahului orang tuanya pada usia masih kecil, maka bisa memberi syafaat. 

 

 

Dari penjelasan Imam al-Ghazali di atas, setidaknya bisa memiliki pertimbangan ketika memutuskan untuk mengikuti tren childfree atau tidak. Sehingga bisa memutuskan dengan bijak dan tidak rugi di kemudian hari.


Editor:

Keislaman Terbaru