• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 5 Desember 2022

Keislaman

Wudhu sebagai Sarana Menghapus Dosa

Wudhu sebagai Sarana Menghapus Dosa
Salah satu ibadah yang bisa menggugurkan dosa adalah wudhu. (Foto: NOJ/Muslimah)
Salah satu ibadah yang bisa menggugurkan dosa adalah wudhu. (Foto: NOJ/Muslimah)

Setiap orang pasti tidak luput dari kesalahan atau dosa. Entah disengaja atau tidak, kesalahan hampir setiap hari dilakukan. Untuk itu sudah sepantasnya seorang mukmin berusaha tidak melakukan dosa. Tetapi jika itu terlanjur terjadi, maka sebaiknya bertobat dan memohon ampunan kepada Allah SWT dengan melakukan berbagai ibadah yang bisa menghapus kesalahan.


Salah satu ibadah yang bisa menggugurkan dosa adalah wudhu. Mungkin terdengar tidak ada hubungannya antara wudhu dengan gugurnya dosa. Tetapi itulah salah satu rahasia dari ibadah. Terkadang terlihat hanya berhubungan dengan fisik, tetapi hakikatnya juga berhubungan secara non fisik, karena setiap ibadah pasti memiliki dimensi lahir dan batin.


Wudhu yang merupakan salah satu jenis taharah (bersuci) pada dasarnya adalah ibadah untuk menghilangkan hadas atau kotoran. Tetapi, Imam al-Ghazali berpendapat bahwa taharah bukan hanya soal membersihkan kotoran, tetapi juga membersihkan sesuatu yang bersifat batin. Menurutnya, taharah memiliki empat tingkatan.


والطهارة لها أربع مراتب المرتبة الأولى تطهير الظاهر عن الأحداث وعن الأخباث والفضلات المرتبة الثانية تطهير الجوارح عن الجرائم والآثام المرتبة الثالثة تطهير القلب عن الأخلاق المذمومة والرذائل الممقوتة المرتبة الرابعة تطهير السر عما سوى الله تعالى وهي طهارة الأنبياء صلوات الله عليهم والصديقين

 

Artinya: Taharah memiliki empat tingkatan. Tingkatan pertama, membersihkan anggota badan yang tampak dari hadas, dan kotoran. Tingkatan kedua, membersihkan anggota badan dari maksiat dan dosa. Tingkatan ketiga, membersihkan hati dari akhlak tercela dan perbuatan buruk yang dibenci. Tingkatan keempat, membersihkan sirr dari selain Allah SWT. Tingkatan yang keempat ini adalah taharahnya para nabi dan siddiqin. (Ihya Ulumuddin, Dar Ibn Hazm, halaman: 148)

 

Penjelasan hujjatul Islam di atas, setidaknya memberikan pemahaman bahwa terkadang ibadah yang terlihat hanya membersihkan sesuatu yang bersifat lahir, tetapi pada dasarnya akan berdampak pada batin. Hikmah ini juga yang terkandung dalam wudhu.

 

Rasulullah bersabda:


عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ألا أخبرُكُم بما يَمحو اللَّهُ بِهِ الخطايا، ويرفعُ بِهِ الدَّرجاتِ:قالوا بلي إسباغُ الوضوءِ على المَكارِهِ، وَكَثرةُ الخُطا إلى المساجِدِ، وانتظارُ الصَّلاةِ بعدَ الصَّلاةِ، فذلِكُمُ الرِّباطُ، فذلِكُمُ الرِّباطُ، فذلِكُمُ الرِّباطُ   .أخرجه مسلم (٢٥١) 

 

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah menghapuskan kesalahan-kesalahn dan mengangkat derajat? Mereka menjawab: Ttentu, wahai Rasulullah. Rasulullah bersabda: Menyempurnakan wudhu pada saat yang dibenci, banyak berjalan ke masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat. Maka itulah ribat. (Shahih Muslim, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, halaman: 219)


Dalam kitab Syarah Shahih Muslim dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan  يَمحو اللَّهُ  adalah  يَغفِر ويَستُر mengampuni dan menutupi. Sedangkan arti dari بِهِ الخطايا adalah ما كان من ذُنوبٍ ومعاصٍ artinya sebagian dari dosa dan maksiat. Sedangkan makna dari ويَرفع به الدَّرجات adalah ويكون سببًا في عُلُوِّ المَنزِلة في الدُّنيا والآخِرة dihaspuskannya dosa itu bisa menjadi sebab tingginya derajat di dunia dan akhirat. (Syarah Shahih Muslim li-Nawawi, Muasasah al-Qurtubah, juz 3, halaman: 179) 

 

Sehingga dapat dipahami dari hadits tersebut bahwa ada tiga hal yang bisa menghapuskan dosa dan meningkatkan derajat seseorang. 


1. Menyempurnakan wudhu pada saat udara sangat dingin, atau pada ada anggota tubuh yang sedang sakit. 

2. Memperbanyak berjalan ke masjid untuk menjalankan shalat jamaah, dan 

3. Tetap berada di masjid untuk menunggu menjalankan shalat fardhu berikutnya.

 

Di dalam riwayat lain juga ditemukan hadits yang menguatkan keterangan di atas. 


عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إِذا تَوَضَّأَ العَبْدُ المُسْلِمُ، أَوِ المُؤْمِنُ، فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِن وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْها بعَيْنَيْهِ مع الماءِ، أَوْ مع آخِرِ قَطْرِ الماءِ، فَإِذا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِن يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ كانَ بَطَشَتْها يَداهُ مع الماءِ، أَوْ مع آخِرِ قَطْرِ الماءِ، فَإِذا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْها رِجْلاهُ مع الماءِ، أَوْ مع آخِرِ قَطْرِ الماءِ، حتّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنَ الذُّنُوبِ. صحيح مسلم ٢٤٤  

 

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah Rasulullah SAW bersabda: Ketika seorang muslim atau mukmin berwudlu, kemudian membasuh mukanya, maka keluar dari wajahnya setiap kesalahan yang ia lihat dari kedua matanya bersama dengan air wudhunya, atau bersama dengan tetesan air terakhir. Dan ketika ia membasuh kedua tangannya, maka keluar dari kedua tangannya setiap kesalahan yang dilakukan oleh tangannya bersama dengan air, atau tetesan air terakhir. Ketika ia membasuh kedua kakinya, maka keluar dari kedua kakinya kesalahan yang ia datangi dengan kakinya bersama dengan jatuhnya air, atau tetesan air terakhir. Sehingga ia keluar dalam keadaan bersih dari dosa. (Shahih Muslim, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, halaman: 215)

 

Hadits yang kedua ini memperjelas bahwa fadilah wudhu adalah bisa menggugurkan dosa. Bahkan Imam Muslim dalam hadits tersebut memberikan judul bab dengan "باب خروج الخطايا مع ماء الوضوء" yang artinya bab keluarnya kesalahan beserta air wudhu. Imam Ghazali juga mengutip pendapat Umar ibn Khattab dalam Ihya-nya bahwa wudhunya orang shalih bisa mengusir setan.


Dengan demikian wudhu merupakan ibadah untuk membersihkan anggota badan dari hadas agar bisa melaksanakan ibadah yang lain seperti shalat. Tetapi secara batin, wudhu juga merupakan media untuk menghapuskan dosa yang telah dilakukan seseorang. Maka sangat dianjurkan jika seseorang melanggengkan wudhu, agar selalu mendapat ampunan dari Allah SWT. 

 

Ustadz Mustaufikin adalah Wakil Kepala Madrasah Aliyah Unggulan KH Abdul Wahab Hasbulloh (MAUWH), Tambakberas, Jombang.
 


Editor:

Keislaman Terbaru