• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 3 Juli 2022

Madura

Banser dan GP Ansor di Sampang Bersihkan Sampah di Pulau Mandangin

Banser dan GP Ansor di Sampang Bersihkan Sampah di Pulau Mandangin
Tumpukan sampah di Pulau Mandangin. (Foto: NOJ/Matari)
Tumpukan sampah di Pulau Mandangin. (Foto: NOJ/Matari)

Sampang, NU Online Jatim

Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Sampang bersama Gerakan Pemuda (GP) Ansor Desa Pulau Mandangin, Sampang terus bergerak menjaga kebersihan lingkungan. Dalam dua hari terakhir, badan otonom (Banom) organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) itu berhasil mengumpulkan dua ton sampah dari semua jenis.

 

Kepala Satuan Khusus (Kasatsus) Banser Tanggap Bencana (Bagana). Agus Hendra Purnomo mengaku prihatin saat menyikapi masalah sampah di Pulau Mandangin tersebut. Karena itu, pihaknya membersihkan sampah yang berserakan di sekitar bibir pantai.

 

"Selama dua hari di Mandangin, dua ton sampah kami angkut," kata pria yang akrab disapa Hendra tersebut, Jumat (08/01/2021).

 

Menurutnya, sampah menjadi masalah kebersihan di Kabupaten Sampang, khususnya di Desa Pulau Mandangin. Kondisi sampah itu menjadi atensi tersendiri bagi pihaknya.

 

"Kepedulian terhadap lingkungan hidup itu penting. Apalagi urusan sampah menjadi persoalan di Kabupaten Sampang, salah satunya di Pulau Mandangin," ujarnya.

 

Sambung Hendra, kebanyakan masyarakat beranggapan bahwa sampah tidak ada gunanya. Dia menepis anggapan tersebut dengan cara memanfaatkan sampah anorganik. Bersama anggota Banser, pihaknya bersedia membeli sampah-sampah anorganik dari masyarakat setempat dengan harga kiloan.

 

Langkah tersebut, selain untuk mengedukasi masyarakat akan pentingnya kebersihan lingkungan juga untuk menyadarkan masyarakat bahwa sampah juga bisa diperjual belikan.

 

"Kami langsung beli sampah itu, supaya masyarakat tidak lagi membuang sampah sembarangan, karena sampah bisa diperjual belikan," ungkapnya.

 

Hendra menjelaskan, semua sampah anorganik bisa dijual. Pihaknya membeli dari masyarakat dengan harga Rp 1.500 per kilogram.

 

"Namun ada beberapa sampah yang tidak saya ambil, seperti kayu, kaca, batu, ban, daun-daunan dan bekas popok bayi," jelasnya.

 

Sampah yang sudah dibeli tersebut kemudian dikirim ke pabrik untuk diolah.

 

"Sudah ada gudang dan alat pengolahannya sebelum kami kirim ke pabrik, karena tujuan utamanya untuk pengurangan sampah," terangnya.

 

Hendar berpendapat, bahwa persoalan sampah tidak bisa ditangani secara maksimal oleh pemerintah. Karena itu, pemerintah harus menjalin kerja sama atau bermitra dengan masyarakat. Oleh karena itu, pihaknya berharap lembaga pemerintah yang menangani persoalan sampah bisa melihat dan mendengar aspirasi dari elemen masyarakat.

 

"Kami siap bantu pemerintah setempat, soal sampah kita basmi bersama-sama," pungkasnya.

 

 

Penulis: Matari

Editor: Risma Savhira


Madura Terbaru