• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 6 Desember 2022

Madura

Jadi Rais di PBNU, Kiai A’la Niatkan Mengabdi untuk Jam’iyah

Jadi Rais di PBNU, Kiai A’la Niatkan Mengabdi untuk Jam’iyah
KH Abd A'la, Rais PBNU. (Foto: NOJ/Firdausi)
KH Abd A'la, Rais PBNU. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

KH Abd A’la Basyir satu di antara kiai di Jawa Timur yang ditunjuk untuk berkhidmat menjadi Rais PBNU. Mendapatkan amanah yang baru, Pengasuh Pesantren Annuqayah daerah Latee, Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Madura, itu berniat untuk mengabdikan diri bagi NU dan dan kemaslahatan umat di posisinya yang baru tersebut.

 

Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur tersebut menceritakan bahwa pada Selasa (11/01/2022) mendapat undangan dari PBNU dalam rangka ta'aruf. “Kami hanya mengira diundang saja, karena Rais Aam KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum (Ketum) KH Yahya Cholil Staquf, dan Sekretaris Jenderal H Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, kenal baik pada kami,” katanya saat dikonfirmasi NU Online Jatim, Rabu (12/01/2022).

 

Saat tiba di PBNU, Kiai A'la baru tahu bahwa ternyata dia masuk dalam jajaran syuriyah hingga membuat kaget dan geleng-geleng kepala. “Apa ini tidak salah tempat. Padahal kami ingin menghadiri undangan ta'aruf saja,” imbuhnya.

 

Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya itu mengatakan, amanah baru itu tentu sangat berat. Namun, kalau bukan saat ini, kapan lagi dirinya mengabdi di jam’iyah.

 

“Selain tanggung jawab, kami benar-benar ikhlas dan diniatkan untuk berkhidmah. Bahkan kami harus pintar membagi waktu sebaik mungkin. Karena posisi kami saat ini merangkap jabatan. Baik di pesantren, perguruan tinggi, PWNU, PBNU dan lainnya. Doakan, mudah-mudahan kami diberikan kesehatan agar terus berkhidmat di NU,” harapnya,

 

Tak hanya itu, dirinya memiliki keinginan bagaimana NU sebagai pesantren besar dapat menjadi simpul peradaban Islam yang mampu menjadi rujukan keilmuan Islam dan menebarkan akhlak karimah kepada seluruh umat manusia.

 

“Untuk menyambut kebangkitan NU atau An-Nahdlah Ats-Tsaniyah, pengurus dan Nahdliyin perlu menjadi teladan dalam bidang keagamaan, kebangsaan, keilmuan, dan etik moralitas luhur, sebagaimana dicontohkan oleh para ulama pendahulu,” ujarnya.

 

Kiai A’la mengutarakan, saat mencermati Muktamar ke-34 NU di Lampung, dirinya melihat proses dan pelaksanaannya berjalan baik. “Saat kami lihat figur-figur yang ada di dalam Ahlul Halli wal Aqdi dan calon Ketum PBNU, mereka adalah tokoh dari kalangan pesantren yang memiliki akhlak karimah dan ideologinya tidak diragukan lagi, yakni berideologi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Bahkan proses pemilihan dan prosesnya sesuai tata tertib,” tegasnya.

 

Dengan ini, tambahnya, tak ada kata lain selain mendukung kepengurusan ini. Jika warga NU tidak puas dan sekadar mencari kekurangan, menurutnya kurang baik dan tidak mencerminkan akhlak santri. “Doakan kami, mohon dukungan dan masukannya untuk NU dan pesantren,” pungkasnya.


Madura Terbaru