• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 15 Agustus 2022

Madura

Jagung sebagai Ketahanan Pangan Orang Madura

Jagung sebagai Ketahanan Pangan Orang Madura
Jagung hasil panen warga Madura. Foto: Istimewa
Jagung hasil panen warga Madura. Foto: Istimewa

Sumenep, NU Online Jatim
Saat musim kemarau, mayoritas orang Madura terbiasa bertani tembakau. Sebaliknya di musim penghujan, petani Madura lebih banyak yang menanam padi dan jagung. Hal itu dilakukan guna ketahanan pangan, sehingga mereka tak kebingungan saat memenuhi kebutuhan dapur. 
 

Menurut Bunawi, warga Desa Pragaan Laok, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, bertani jagung menjadi kewajiban warga Nahdlatul Ulama (NU) di akar rumput. Karena nasi jagung alias nasi merah putih merupakan menu yang wajib disajikan di meja makan, terlebih disantap di tengah sawah.
 

Alumni Pondok Pesantren Al-Muqri Karang Kapoh Prenduan itu menegaskan, jagung lokal memiliki rasa yang lebih gurih dan lebih lama untuk keperluan ketahanan pangan. Ketika panen, jagung bisa disimpan di atas jurung (tempat khusus yang diletakkan di atas lumbung dapur). 
 

"Kebiasaan pendahulu, untuk menghindari krisis ekonomi, mereka biasa menyimpan jagung lokal di dapur. Ada yang disimpan besama kulitnya, ada pula yang digantung di dapur sambil mengeringkannya. Ada juga yang sudah disisihkan dari tongkolnya, kemudian dijemur di taneyan lanjhang atau di depan halaman rumah," terangnya. 
 

Setelah kering atau dipisahkan dari kulit dan bulunya, lanjutnya, jagung akan dibawa ke mesin giling jagung. Kemudian oleh ibu-ibu yang berjibaku di dapur dicampur dengan beras saat memasak (setelah disucikan). 
 

"Untuk ampasnya, masyarakat menggunakannya untuk makanan ternak. Bagi jagung yang kualitasnya jelek, warga menggunakannya untuk keperluan ternak juga. Sedangkan kulitnya dijadikan sebagai bahan bakar saat memasak api di kompor tradisional yang terbuat dari tanah liat," ungkap Bunawi. 
 

Orang dulu, curahnya, sering menjadikan jagung untuk keperluan adat. Seperti, alalabat atau takziyah kepada kerabat atau tetannga yang tertimpa musibah kematian, aqiqah (kelahiran sanak famili atau teman), disumbangkan untuk keperluan masjid atau mushala (acara keagamaan) dan sejenisnya.
 

 

"Sayangnya hari ini bergeser ke padi atau beras. Jagung mulai tersingkir berganti beras, buah-buahan, amplop berisi uang, dan parcel atau hantara," pungkasnya. 


Editor:

Madura Terbaru