• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 3 Maret 2024

Madura

Mapaba Ke-5, Ketua PMII di Sumenep Sebut Pesantren Kiblat Warga Pergerakan

Mapaba Ke-5, Ketua PMII di Sumenep Sebut Pesantren Kiblat Warga Pergerakan
Ketua PK PMII Guluk-Guluk, Sumenep, Khairul Jazil Al-Faizi saat memberikan sambutan kepada peserta Mapaba. (Foto: NOJ/Firdausi)
Ketua PK PMII Guluk-Guluk, Sumenep, Khairul Jazil Al-Faizi saat memberikan sambutan kepada peserta Mapaba. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Ketua Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Guluk-Guluk, Sumenep, Khairul Jazil Al-Faizi menegaskan, warga pergerakan harus merapat ke pesantren. Karena pesantren adalah kiblat, ruh, jejaring ideologis, kebudayaan yang merawat tradisi intelektual dan nilai-nilai kebangsaan.


"Kalian berangkat dari pesantren dan akan kembali ke pesantren. Ingat, warga pergerakan Guluk-Guluk berlatar belakang pesantren," ujarnya saat memberi sambutan di acara penutupan Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) ke-5 yang dihelat oleh Rayon Khalid Mawardi PMII Guluk-Guluk, Senin (12/02/2024) dini hari.


Menurutnya, banyak pesantren melatih kader yang berkualitas. Hari ini, kata dia, PMII Guluk-Guluk tidak butuh kuantitas, yang dibutuhkan adalah kualitas dan akuntabilitas kader yang kelak menentukan arah lajunya organisasi.


"Kita buktikan bahwa PMII Guluk-Guluk tidak melupakan pesantren. Buktinya hari ini Mapaba dilaksanakan di Pondok Pesantren Al-Hikmah Pragaan Daya, Kecamatan Pragaan, Sumenep," ucapnya dengan lantang di hadapan kader baru.


Santri Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa ini menyatakan, pola kaderisasi dan ruh organisasi ditentukan oleh kader agar arah organisasi tetap berjalan di atas relnya, nilai-nilai yang didapatkan dalam pendidikan ini harus diamalkan. 


“Adapun langkah dan gerak organisasi harus berkiblat kepada pesantren. Bila ingin buktinya di usia yang sudah menua, pengasuh pesantren Al-Hikmah tetap berkhidmah di PMII,” terangnya.


Ia menegaskan, umur tidak bisa dijadikan tolak ukur dalam sebuah pergerakan dan perjuangan. Perjuangan tidak menyoal modal atau materi, tapi bagaimana seorang kader istiqamah mengabdi, memberikan konstribusi terhadap organisasi.


Selain itu, ia berpesan kepada kader baru agar tidak melupakan materi yang diperoleh saat digembleng di Mapaba. Yang terpenting, ilmu yang diperoleh harus dikembangkan. Karena teori yang disampaikan oleh pemateri tidak hanya satu ilmu, tapi ragam rumpun teori yang diberikan kepada kader.


Baginya, Mapaba bukan akhir dari pendidikan, tetapi simbol seorang kader yang sedang berproses di organisasi. Karena esensi dari Mapaba adalah seorang kader dididik dan digerakkan untuk menguatkan nilai-nilai agama Islam dan memupuknya dengan nilai-nilai kemanusiaan serta kebangsaan. 


Sementara itu, Ketua Rayon Khalid Mawardi PMII Guluk-Guluk, Abul Ma'arif mengucapkan banyak terima kasih kepada keluarga besar pesantren Al-Hikmah yang berkenan menerima kepanitiaan dan memfasilitasi ragam rentetan acara.


"Semoga Allah SWT memberikan balasan yang lebih besar lagi atas amal yang diberikan kepada kami," doanya.


Madura Terbaru