• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 19 Agustus 2022

Madura

Perpecahan Umat Islam Berasal dari Kepentingan Politik, Begini Penjelasan Islah Bahrawi

Perpecahan Umat Islam Berasal dari Kepentingan Politik, Begini Penjelasan Islah Bahrawi
Islah Bahrawi (kanan) menjelaskan materi. (Foto: NOJ/Firdausi)
Islah Bahrawi (kanan) menjelaskan materi. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim
Salah satu yang membuat perpecahan di dalam Islam adalah kepentingan-kepentingan politik. Masalah besar ini tidak hanya terjadi pada Islam, tetapi pada semua agama. Ketika agama berkelindan dengan kepentingan politk, yang akan terjadi adalah gerakan-gerakan kekerasan yang mendegradasi nilai dasar ajaran agama.

 

Penegasan ini disampaikan oleh Islah Bahrawi saat mengisi Halaqah Islam Wasathiyah dengan tajuk ‘Mari Kembalikan Madura yang Rendah Hati dan Penuh Toleran’. Acara ini diselenggarakan oleh Pengurus Cabang (PC) Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Sumenep, Senin (27/06/2022) di Hotel Azmi Pajagalan, Kota, Sumenep.

 

“Jika gerakan tersebut digalakkan, maka akan terjadi pertempuran dan pembunuhan antar sesama muslim atau sesama anak bangsa. Persoalan politik adalah perilaku manusia yang terjadi berabad-abad, bukan hanya terjadi di zaman Islam, tetapi sejak zaman pra Islam yang menggelorakan pertarungan politik atas nama agama,” ungkap Tenaga Ahli Pencegahan Radikalisme, Ekstremisme dan Terorisme Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia (Mabes Polri) itu.

 

Pria kalahiran Bangkalan itu menceritakan, ketika Nabi Muhammad SAW wafat dan jenazahnya dikebumikan, orang Islam di Madinah berseteru. Contohnya, keributan antara Sayyidina Umar bin Khattab dan Sa’ad bin Ubadah. Juga kaum Muhajirin dan Ansor yang sudah berhadap-hadapan ingin berperang. Gejolak ini disebabkan persoalan-persoalan politik yang menciptakan instabilitas.

 

“Ketika itu belum ada aliran-aliran, tafsir-tafsir, dan rededominasi, bahkan belum ada Syiah dan Sunni. Jika ada orang yang mengaku nabi, pasti diperangi. Artinya, belum ada perpecahan di dalam Islam secara tafsir,” ujar alumni Pondok Pesantren Syaichona Moh Cholil Bangkalan ini.

 

Islah Bahrawi menyitir tulisan Simon Sebag Montefiore yang menceritakan sejarah Yerussalem di Palestina. Ia mengatakan, sebenarnya Yarussalem dibangun di atas banjir darah. Terbukti, tragedi berdarah antara umat Islam, Kristen dan Yahudi saling membunuh. Menurut kacamatanya, brutalitas ini menggejala pada semua pemeluk agama hingga hari ini.

 

“Pembukaan wilayah dari Semenanjung Liberia sampai ke pinggiran Kota Tunisia di Prancis, membuat Islam berkuasa di Eropa kurang lebih 700 tahun di seluruh daratan Andalusia. Mulai dari Cordoba, Teledo, sampai ke Portugal,” urai Direktur Eksekutif Jaringan Moderasi Beragama Indonesia ini.

 

Sebaliknya, peperangan antar sesama Kristen juga terjadi selama kurang lebih 30 tahun di Eropa. Juga orang-orang Hindu yang saling baku hantam di bawah bendera aliran garis keras, bahkan umat Budha di Myanmar seling berperang, hingga mengintimidasi orang-orang Rohingya atas supremasi agama.

 

“Dari beberapa fenomena ini, titik kuncinya adalah kepentingan supremasi politik. Manusia selalu ingin menguasai manusia lainnya yang mengatasnamakan agama atau kelompok korporasi yang ada di belakang. Termsauk yang dilakukan oleh oknum yang mengatasnamakan ideologi, seperti Komunis, Anarkis, Fasisme, dan sebagainya. Itu semua adalah perilaku manusia pada umumnya,” tandasnya.


Madura Terbaru