• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 7 Oktober 2022

Madura

Sejarah dan Kiprah NU di Indonesia Ala Ketua LDNU Sumenep

Sejarah dan Kiprah NU di Indonesia Ala Ketua LDNU Sumenep
Kiai Imam Sutaji, Ketua LDNU Sumenep (baju putih). (Foto: NOJ/ Firdausi)
Kiai Imam Sutaji, Ketua LDNU Sumenep (baju putih). (Foto: NOJ/ Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim
Ketua Pengurus Cabang (PC) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sumenep, Kiai Imam Sutaji menyampaikan ulasan terkait dengan sejarah dan kiprah NU di Indonesia. Disebutkan, bahwa Sayyid Alwi Aziz az-Zamadghon atau KH Mas Alwi adalah sosok yang memberi nama jam’iyah Nahdlatul Ulama.


“Itu karena karena ulama-ulama yang berdakwah sambil merawat pesantren, dan mereka memiliki sifat dan karakter Nahdlah atau bangkit,” ujarnya saat Halaqah yang digelar oleh Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Prenduan, Pragaan, Sumenep, Kamis (28/04/2022). Kegiatan dalam rangka Hari Lahir (Harlah) ke-88 GP Ansor ini dipusatkan di Sekretariat PR GP Ansor Prenduan.


Kiai Imam Sutaji meyakinkan, bahwa sekali masuk ke rumah besar NU, maka selamanya ada di NU hingga akhir hayat. Karena NU dijaga oleh para auliya.


“Ketika kita meyakini NU dijaga oleh para auliya rijalul ghaib, maka para auliya berkata kepada kader yang berada di jam’iyah; Kami adalah orang yang tahu balas budi. Orang yang cinta kepadanya dengan merawat warisannya, maka akan berada di bawah benderanya,” ujarnya menyitir perkataan Al-Habib Abdul Qodir bin Zaid Ba'abud.


Ia mengatakan, bahwa ada banyak kebaikan dan balasan yang tidak diketahui dan dipersiapkan oleh Allah. Karena rijalul ghaib yang menjaga NU tahu pada seseorang yang menjadikan jalan pengabdiannya pada jam’iyah.


Dirinya pun mengutip perkataan Habib Husein Ja'far Al-Hadar, bahwa saat hidup seseorang hanya dilakukan untuk membahagiakan orang lain, maka Allah akan mengurus seseorang yang datang secara khusus untuk membahagiakannya.


“Artinya, jangan ragu berkhidmat di NU. Sebagaimana dikatakan oleh KH Ridwan Abdullah, jangan takut tidak makan kalau berjuang mengurus NU. Yakinlah! Kalau sampai tidak makan, komplain jika masih hidup. Tapi kalau sudah mati, maka tagihlah ke batu nisanku,” ujarnya.


Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk itu mengatakan, bahwa saat Indonesia merdeka, NU tidak pernah makar pada negara. Hanya satu kali makar pada negara di saat dikuasai oleh orang non pribumi atau penjajah.


“Selama negara dipimpin oleh pribumi apalagi sesama Islam, para ulama akan merangkul. Karena tugas ulama adalah merangkul dan mengayomi,” sebutnya.


Dosen Institut Sains dan Teknologi (IST) Annuqayah itu menyatakan, secara historis tahun 1935 mars Syubbanul Wathan diciptakan. Namun dalam Riwayat lain, tahun 1912, berbarengan dengan berdirinya Muhammadiyah atau sebelum lagu Indonesia Raya.


“Mengapa memakai bahasa Arab? Khawatir penjajah atau Belanda memahami arti dari lagu tersebut,” curahnya.


Tak hanya itu, setelah Proklamasi, pada Jum’at 17 Agustus 1945, dibentuklah tim 9 yang terdiri dari, Soekarno, Mohammad Hatta, Muhammad Yamin, AA Maramis, Mr Achmad Soebardjo, KH Abdul Wahid Hasyim, Abdul Kahar Muzakkir, KH Agus Salim, dan Raden Abikusno Tjokrosoejoso.


“Mereka bermusyawarah guna menentukan apakah Indonesia menjadi negara federal Islam atau kesatuan. Kala itu tim pecah menjadi dua dan memilih pilihannya, hanya 1 orang yang tidak menentukan jawabannya, yaitu KH Abdul Wahid Hasyim,” tuturnya.


Sebelum memberikan jawaban, lanjutnya, Kiai Wahid beristikharah dan mengkhatamkan Al-Qur’an 41 kali, hingga pada akhirnya Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari rawuh dan berkata, bahwa Mbah Hasyim ridha Pancasila menjadi ideologi negara, karena didalamnya terdapat ajaran Islam yang dapat dijalankan walaupun bentuk negaranya bukan negara Islam.


“Makanya, Pancasila adalah milik kita bersama. Kendati ada segelintir orang yang menolak Pancasila, bagi kami itu penghianatan. Andai kata tidak terlalu banyak penghianat negara kala itu, kami yakin ratusan tahun Indonesia tidak dijajah oleh Belanda,” ujarnya.


Dirinya mengaku tidak menemukan data dalam sejarah bahwa Indonesia kalah dengan penjajah. Menurutnya, Indonesia tidak pernah kalah dalam peperangan, tetapi kalah dengan perundingan. Para pejuang selalu dijebak oleh pengkhianatan.


“Ini tugas berat GP Ansor menjaga NKRI yang di dalamnya ada ajaran Islam yang murni menegakkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah ala Rasulullah yang tidak kasar dengan budaya dan tradisi yang ramah dengan beragam perbedaan,” pungkasnya.


Madura Terbaru