• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 11 Agustus 2022

Madura

Ulas Pendidikan Wasathiyah, Ketua ISNU Sumenep Raih Gelar Doktor

Ulas Pendidikan Wasathiyah, Ketua ISNU Sumenep Raih Gelar Doktor
KH Mohammad Hosnan Nafi, Ketua PC ISNU Sumenep. (Foto: NOJ/ Istimewa)
KH Mohammad Hosnan Nafi, Ketua PC ISNU Sumenep. (Foto: NOJ/ Istimewa)

Sumenep, NU Online Jatim
Ketua Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Sumenep, KH Mohammad Hosnan Nafi' berhasil meraih gelar doktor dengan disertasi yang mengulas pendidikan wasathiyah. Hal itu setelah mempertahankan disertasinya di hadapan penguji di Aula Gedung A Lantai IV Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Rabu (08/06/2022).


Pada sidang promosi doktor Program Studi Pendidikan Agama Islam berbasis Interdisiplener itu, ia mengangkat judul 'Pendidikan Islam Wasathiyah dalam Pesantren Online (Studi Multi Situs di Pondok Pesantren Annuqayah dan Pondok Pesantren Nurul Islam Sumenep, Jawa Timur)'.


"Pendidikan Wasathiyah penting bagi warga Indonesia. Apalagi dengan munculnya gerakan dan aksi radikalisme di beberapa negara yang membuat resah masyarakat di akar rumput," tutur Kiai Hosnan dilansir instika.ac.id, Kamis (09/06/2022).


Rektor Institut Sains dan Teknologi (IST) Annuqayah Guluk-Guluk itu menegaskan, bahwa pendidikan Islam wasathiyah menjadi alternatif dan pilihan yang paling tepat bagi masyarakat guna menjaga 4 pilar negara.


"Almaghfurlah KH Maimun Zubair menyingkat 4 pilar negara itu dengan sebutan PBNU, yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945," terangnya.


Dijelaskan, tidak hanya pemerintah yang menggalakkan program moderasi di lingkungan kampus. Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) pun memassifkan program moderasinya lewat berbagai media, seperti radio, youtube, dan sebagainya.


"Di sini kami memastikan bahwa sejak dulu hingga sekarang, seluruh pondok pesantren, khususnya di Sumenep mengajarkan Islam wasathiyah yang dikenal Islam Ahlussunnah wal Jamaah," ungkap Wakil Rektor II Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk itu.


Menurut Kiai Hosnan, pendidikan Islam wasathiyah yang ada di pesantren mengembangkan sejumlah prinsip dasar, yaitu moderat, tawasut, tasamuh, i'tidal, al-ishlahiyah, manhajiyah, dan tathowwuriyah.


"Arus digitalisasi yang merambah ke pelosok pedesaan memberi efek negatif pada masyarakat. Sehingga sebagian warga tidak bisa memfilter beberapa konten dan berujung pada pemikiran yang non Pancasilais," ujarnya.


Berangkat dari problem ini, lanjutnya, pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah daerah Kusuma Bangsa itu tergerak untuk menunaikan tanggung jawabnya, yakni terlibat dalam media online.


Guna memperjelas fokus penelitian, Kiai Hosnan membedakan antara pesantren virtual dan online. Karena pada umumnya pesantren terdiri dari unsur kiai dan santri yang menetap di pesantren.


"Pesantren virtual dan online memiliki kesamaan. Artinya, adanya kiai, santri, dan kitab, namun bersifat maya. Jadi, kiai, santri, kitab, pondok, masjid, dan madrasahnya tidak berbentuk fisik," tuturnya.


Dari hasil penelitiannya, ternyata efektivitas penggunaan media online di kalangan pesantren sangat berpengaruh pada santri dan masyarakat. Terbukti viewersnya banyak.


"Oleh karena itu, kami mengajak kepada seluruh pesantren untuk mengembangkan media dakwah digital, sehingga kita bisa membendung radikalisme secara bertahap lewat berbagai media online," tandasnya.


Madura Terbaru