• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 25 Mei 2022

Malang Raya

Gus Reza Ungkap Peluang dan Tantangan Realisasi Dana Abadi Pesantren

Gus Reza Ungkap Peluang dan Tantangan Realisasi Dana Abadi Pesantren
KH Reza Ahmad Zahid atau Gus Reza jelaskan peluang dan tantangan realisasi Dana Abadi Pesantren. (Foto: NOJ)
KH Reza Ahmad Zahid atau Gus Reza jelaskan peluang dan tantangan realisasi Dana Abadi Pesantren. (Foto: NOJ)

Malang, NU Online Jatim

Pakar kepesantrenan, KH Reza Ahmad Zahid atau Gus Reza menilai bahwa dana abadi pesantren merupakan angin segar bagi pesantren. Hal ini sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap kemajuan sistem pendidikan agama tertua di Indonesia tersebut. Ia pun menyebutkan sejumlah peluang dan realisasi dana tersebut.

 

Penegasan tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur tersebut saat webinar yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, Jumat (01/10/2021) malam. Webinar tersebut mengusung tema ‘Pesantren Pasca Pandemi dan Perpres Dana Abadi Pesantren; Peluang dan Tantangan’.

 

Disebutkan oleh Gus Reza, terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) No.82 Tahun 2021 tentang Pendanaan Penyelenggaraan Pesantren sebagai amanat dari Undang-Undang (UU) No.18 Tahun 2019 pasal 49 ayat (1) dan (2) ini diharapkan akan meningkatkan kualitas pendidikan pesantren di Indonesia. Serta untuk menjaga keharmonisan antara pihak pemerintah dengan pesantren.

 

"Namun, tak dapat dipungkiri realisasi perpres yang melibatkan pihak pemerintah dan pesantren ini juga menjadi  tantangan tersendiri bagi keduanya," kata Pengasuh Pondok Pesantren Al Mahrusiyah, Kota Kediri ini.

 

Menurut Gus Reza, terdapat tiga karakter unik yang melekat dalam setiap pesantren, di antaranya adanya proses transformasi keilmuan, tradisi yang dijaga turun temurun, dan cara mempersiapkan generasi berwawasan keagamaan baik di masa depan.

 

Sehingga, ini adalah tantangan bagi pemerintah agar bagaimana sosialisasi yang tepat dan merata menghadapi keberagaman lebih dari tiga puluh ribu pesantren di seluruh penjuru Indonesia

 

“Sebab, jika sosialisasi tidak tepat dan merata, lanjut Gus Reza, dikhawatirkan akan muncul fitnah diskriminasi dan kesalahpahaman," tegas pria yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Dakwah MUI Jatim tersebut.

 

Selain itu, pemerintah harus dapat meyakinkan pesantren bahwa hal ini murni bentuk kepedulian pemerintah dan tidak dibubuhi kepentingan politik yang dapat mengancam reputasi pesantren. “Namun demikian, pihak pesantren tetap harus berprasangka baik atas upaya-upaya tersebut,” saran Gus Reza.

 

 

Menurut Gus Reza, realisasi program ini juga memunculkan berbagai pertanyaan. Di antaranya adakah intervensi pemerintah terkait kurikulum yang harus diterapkan di pesantren, sedangkan beberapa pesantren memiliki kurikulum mutlak yang disakralkan.

 

"Oleh karenanya, dalam hal ini pemerintah harus mengimbangi ritme karakter pesantren dengan menggandeng komponen yang ada di organisasi kemasyarakatan maupun sosial keagamaan," tambah Gus Reza.

 

Terakhir, Gus Reza menjelaskan tantangan yang harus siap dihadapi pihak pesantren, di antaranya mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni dalam proses prosedural dan administratif. “Sejak dari proses sosialisasi hingga laporan pertanggung jawabannya nanti,” tegasnya.

 

Sebab, menurut Gus Reza, tidak semua pesantren dapat menyerap program ini. “Jadi, interaksi antara pemerintah dan pesantren harus tetap fleksibel dan harmonis, serta ada pendampingan untuk pesantren," pungkasnya.


Malang Raya Terbaru