• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 1 Oktober 2022

Malang Raya

Kader PKPT IPNU-IPPNU adalah Lumbung Cendekiawan NU

Kader PKPT IPNU-IPPNU adalah Lumbung Cendekiawan NU
Kader PKPT IPNU IPPNU. (Foto: NOJ/nuo)
Kader PKPT IPNU IPPNU. (Foto: NOJ/nuo)

Malang, NU Online Jatim
Kongres Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) sudah di depan mata. Sesuai jadwal kegiatan tersebut akan digelar di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, 12-15 Agustus 2022. Salah satu isu hangat saat ini ialah penghapusan Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) IPNU-IPPNU dan memangkas usia kader untuk memfokuskan di tingkat pelajar.

 

Hal tersebut diungkapkan salah satu alumni kader PKPT IPNU-IPPNU Universitas Islam Malang, sekaligus mengemban amanah  sebagai anggota LKPT PW IPNU Jatim, Febi Akbar Rizky. Dirinya mengungkapkan, sejak dahulu sampai sekarang melalui rumah besar PKPT IPNU IPPNU, berbagai kampus telah melahirkan kader-kader yang berkualitas dan berintegrasi. 

 

"Artinya memang washilah hadirnya IPNU-IPNU di kampus menjadi lumbung cendekiawan. Andaikan lulus usia muda mereka masih bisa mengabdi menjadi aset investasi yang sangat besar untuk kemajuan IPNU-IPPNU di daerah baik di PC, PW bahkan di Pimpinan Pusat,” ungkap Febi saat dikonfirmasi, Kamis (11/08/2022).   

 

Pemuda yang juga salah satu penulis buku Urgensi Kehadiran IPNU IPPNU di Kampus ini menambahkan, penggodokan intregritas kader-kader ada di PKPT. Kemudian, banyak mahasiwa belum mengenal Aswaja an-Nahdliyah dan NU saat masih pelajar lalu sudah masuk dunia kampus. Melalui washilah IPNU-IPPNU menjadi kenal, sehingga menjadi manifestasi dari perkembangan progress kader.

 

"Tidak usah jauh-jauh, saya sendiri tadinya tidak kenal Aswaja dan NU. Dengan adanya PKPT di kampus, saya sendiri merasa evolusi yang awalnya menjadi simpatisan  NU kemudian jamaah, ikut Makesta menjadi anggota, serta LAKMUD menjadi kader,” paparnya.

 

Febi yang juga menjadi editor di Literasi Nusantara (Litnus) di Kota Malang ini menyebutkan, mengenalkan ajaran Aswaja an-Nahdliyah penting di lingkugan kampus. 

 

"Contohnya, di Universitas Brawijaya yang tiap fakultas memiliki masjid. Masjid tersebut disinyalir di bawah kendali aliran yang tidak sepaham dengan Pancasila, kendati tidak keseluruhan," terangnya.

 

Ia juga menegaskan, belum ada organisasi ekstra kampus manapun yang sejatinya sangat peduli pada Aswaja an-Nahdliyah. Oleh karena itu, Febi menuturkan, tugas IPNU-IPPNU yaitu menjaga akidah di masjid-masjid sebisa mungkin.  Karena aliran yang anti Pancasila tidak jarang mengadakan amaliyah di masjid kampus tersebut.

 

“Supaya ini menjadi langkah preventif agar kader-kader tidak tikut-ikutan dengan ajaran yang aneh-aneh,” imbuhnya.

 

Pemuda asal Lampung ini tetap menghormati dan patuh terhadap keputusan. Terlebih usulan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut demi kebaikan kader-kader NU,  demi menjaga marwah organisasi dan ulama.

 

"Terlepas dari itu semua, kami sebagai  santri tetap sami'na wa atho'na kepada PBNU. Bagaimana pun pengurus PBNU hari ini adalan orang tua kita bersama," ujarnya.

 

Febi yang juga santri KH Marzuki Mustamar berharap sekaligus memberikan jalan tengah ketika usia memang digeser, harus ada wadah baru atau ada gerbong lokomotif baru untuk mewadahi rekan-rekanita di kampus.

 

"Alasannya karena tidak semua mahasiswa yang senang berada di birokrasi kampus. Juga tidak semua mahasiswa senang melakukan demo, serta tidak senang dengan gerakan yang lebih mengarah anarkis. Sehingga butuh wadah yang lebih adem, mampu menjaga akidah, fokus pada amaliah dan dekat dengan ulama," pungkasnya.


Malang Raya Terbaru