• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 1 Desember 2022

Malang Raya

Penuh Liku, Ning Begum Selesaikan Gelar Doktoral Bidang Farmasi

Penuh Liku, Ning Begum Selesaikan Gelar Doktoral Bidang Farmasi
Begum Fauziyah bersama suami. (Foto: NOJ/Dokumen Pribadi)
Begum Fauziyah bersama suami. (Foto: NOJ/Dokumen Pribadi)

Malang, NU Online Jatim

Membagi waktu antara mengajar, sekolah ke jenjang lebih tinggi, sekaligus menjadi ibu rumah tangga dengan segala kesibukannya mampu dilalui oleh Ning Begum Fauziyah yang baru menyelesaikan gelar doktoralnya di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Senin (05/04/2021).

 

Mengawali karir menjadi Dosen Farmasi di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang pada awal 2010 dengan pulang pergi Jombang-Malang. Kemudian ia melanjutkan studi farmasi ke Unair pada tahun 2016 agar bisa sering berkumpul keluarga, pasalnya di Malang hanya saat mengajar, selebihnya di rumah Jombang bersama sang suami dan dua buah hatinya.

 

“Saya mengawali sekolah itu dengan niatan supaya lebih banyak kesempatan di Jombang. Saya berproses mengatur tiga tempat, otak saya mengatur rumah di Jombang, Malang dan kampus (Unair),” kata Ning Begum Fauziyah, Rabu (07/04/2021).

 

Kepada NU Online Jatim, ia menjelaskan di awal-awal semester hingga semester dua di Surabaya dilalui dengan baik. Saat itu perkuliahan masih menggunakan by cource tatap muka, kemudian kebijakan baru dengan menggunakan by research.

 

“Saya harus manut (ikut, red) kalau dosen menjadwalkan masuk, pernah sudah masuk tol, tiba-tiba ada kuliah balik ke kampus,” ungkap ibu dari Muhammad Ammar Abdurobbihi dan Aizar Sabagh El-Fatih itu.

 

Ibu Begum sapaan akrabnya di kampus mengungkapkan sudah sampai pada seminar hasil dan uji kelayakan. Penelitian yang diambil adalah penelitian experimental laboratory, praktis banyak data yang harus dikumpulkan, jika belum berhasil atau belum puas harus mengulanginya lagi. Kendati demikian, ia bersyukur dibantu oleh teman-teman mahasiswanya, namun tetap yang mengeksekusi penelitian adalah dirinya sendiri.

 

“Saat itu sudah mulai merasakan sakit asam lambung. Sudah sakit dari kecil kalau tidak maag atau tifus. Saya maknai itu sakit biasa asam lambung dan sudah pernah berobat ke dokter spesialis di Surabaya,” terang istri dari Awaluddin Susanto.

 

Ning Begum bolak balik keluar masuk opname karena keluhannya di perut tersebut membuat pikiran terhambat dalam penyelesaian disertasi. Ditambah abahnya meninggal pada pertengahan Oktober 2020, sontak membuatnya kembali fokus pada urusan keluarga. Ia menyentuh naskah disertasi di bulan Desember. 

 

Ada keluhan lain yang dirasakan, sehingga ia mencoba ke dokter psikiater yang sebelumnya pernah berkonsultasi. Didiagnosa ada beberapa faktor selain wafatnya sang Abah, yaitu faktor musim. Tipikal tubuhnya, menurut dokter tidak bisa terkena cuaca dingin, apalagi bulan Desember sudah mulai hujan. 

 

“Menurut dokter psikiater, saya terkena musim depresion, karena pengaruh musim dingin. Kemudian dia mengatakan kalau sudah seperti ini, Desember sampai Februari harus mengurangi kerja,” ujarnya.

 

Menuju Ujian Terbuka

Masuk tahun baru 2021, bulan Januari mendapat surat dari ketua progam studi perihal pengarahan akademik. Diumumkanlah nama-nama dengan status mahasiswa strata-III termasuk dirinya untuk segera menyelesaikan persyaratan menuju ujian terbuka hingga tenggat 08 April 2021. Jika tidak bisa, maka harus mengulang ujian tertutup, namun tidak disebutkan tanggalnya.

 

“Saya tidak mengerti, setelah meeting itu saya programkan Februari ujian terbuka,” jelas ibu yang juga Pengurus Pimpinan Wilayah (PW) Fatayat Nahdlatul Ulama bidang kesehatan tersebut.

 

Saat mengurus administrasi, ia terkejut karena masih ada beberapa persyaratan yang belum diselesaikan. Karena perpindahan dahulu saat perkuliahan by cource tatap muka dialihkan ke by research membuat beberapa persyaratan tidak sama. Kurang dalam hal publikasi ilmiah, termasuk ada salah satu mata kuliah yang tidak terinput di KRS (Kartu Rencana Studi) dengan jumlah dua SKS (Satuan Kredit Semester).

 

“Jadi saya kekurangan dua SKS, proses pendaftaran dari bulan Februari ke tanggal 5 April ujian terbuka itu, saya nambah dua mata kuliah lagi. Mata kuliah yang sudah saya tempuh tapi tidak muncul di KRS,” kenang lulusan FMIP/Kimia Universitas Jember 2001-2005 tersebut.

 

Ia menuturkan transisi bulan Februari menuju April ujian terbuka memakan energi dan perhatian banyak, hingga yang dipikirkan melebihi yang sebelumnya. Tak jarang terpaksa harus meminum obat tidur sebagai penenang. Belum lagi harus bolak-balik ke dokter untuk kontrol. Semenjak saat itu ia tidak diperbolehkan untuk mengendarai mobil sendiri.

 

“Itulah drama saya menyelesaikan disertasi terbuka,” beber Program Pascasarjana (S2) Fakultas Farmasi/Kimia Analisis Farmasi Universitas Airlangga tahun 2006-2009 tersebut.

 

Akhirnya, Begum Fauziyah dapat menyelesaikan progam doktoralnya dengan sebuah cerita yang sangat berliku, jalan terjal mampu dihadapi. Ia mengingatkan bahwa jangan malu apapun kondisi yang kita alami. Ajaklah keluarga atau yang berkonsultasikanlah pada ahlinya. Ia menambahkan terkadang kita tidak menyadari bahwa sebenarnya kondisi stres, stres kerjaan atau yang harus kita selesaikan. Padahal kita baik-baik saja, tetap bermain, tetap beraktivitas, tapi sebenarnya ada yang tidak kita inginkan.

 

Lebih lanjut, menurutnya bagi teman-teman mahasiswa yang sedang menempuh ujian skripsi, tesis maupun disertasi. Jangan malu menceritakan kondisi tersebut, bukan berarti orang gila, namun memang membutuhkan pertolongan dalam kondisi seperti ini.

 

“Benar-benar membuka mata saya bahwa dokter psikiater bukan dokter-dokter yang hanya mengurusi berkebutuhan khusus atau gangguan mental,” terangnya.

 

Pandemi dan Menata Niat

Dosen UIN Maliki Malang itu mengungkapkan, selama pandemi dirinya sangat terbantu dalam membagi waktu. Hingga urusan rumah tangga, mengajar, dan studinya sedikit lebih ringan bila dibanding diawal perkuliahan harus pulang-pergi Malang-Jombang-Surabaya. Pernah ingin mengajukan cuti sampai pengunduran diri di instansinya bekerja, namun tidak diperbolehkan oleh ketua program studi.

 

“Jangan pernah merasa bahwa kesulitan adalah punya kalian sendiri. Semuanya itu memang harus kita bagi. Tidak ada yang kemudian kesulitan yang tidak bisa dibagi,” pesannya.

 

Begum mengingatkan apa yang menjadi niat dalam mencari ilmu selama ini harus ditata. Seperti yang dialami meniatkan mencari ilmu hanya untuk mendekatkan diri dengan keluarga. Innamal a’malu binniat (sesungguhnya setiap amal tergantung niat).

 

Kemudian, ia menjelaskan ilmu yang kita peroleh saat ini belum apa-apa bila dibanding ilmu-Nya yang sangat luas di muka bumi. Hematnya, seharusnya semakin tinggi ilmu seseorang lebih tahu diri kita siapa, dimana, bagaimana, dan lebih mendekatkan kita kepada Allah. Bukan malah sombong dan jumawa kepada orang lain yang tidak kuliah misalnya. 

 

“Harusnya semakin tinggi menuntut ilmu istilahnya kita merasa rendah hati kepada orang lain, lebih bisa dekat dengan yang lain,” pungkas putri almaghfurlah KH Mohammad Faruq selaku Pengasuh Asrama Al-Bishri, Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif Denanyar Jombang tersebut. 

 

Editor: Risma Savhira


Malang Raya Terbaru