• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 1 Oktober 2022

Malang Raya

Perempuan Hari Ini di Mata Pengurus Fatayat NU Jatim

Perempuan Hari Ini di Mata Pengurus Fatayat NU Jatim
Umi Khorirotin Nasichah bersama buah hatinya (21/04). (Foto: NOJ/Istimewa)
Umi Khorirotin Nasichah bersama buah hatinya (21/04). (Foto: NOJ/Istimewa)

Malang, NU Online Jatim

Tepat tanggal 21 April 2021 diperingati sebagai Hari Kartini. Berkat kegigihan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak perempuan kala itu, tidak sedikit perempuan zaman sekarang yang menempati posisi strategis dalam berbagai lini baik formal maupun informal.

 

Sekretaris Komunitas Perlindungan Perempuan dan Anak Nusantara (Kopatara) sekaligus Bendahara Umum Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kabupaten Malang, Umi Khorirotin Nasichah mengatakan anak-anak sekarang khususnya perempuan harus mengenyam pendidikan yang tinggi dan memiliki peluang yang sama. Ketika sudah menjadi tokoh atau pun menempati jabatan fungsional baik di pemerintah maupun di masyarakat harus bisa berkontribusi yang sedemikian rupa untuk kemaslahatan.

 

"Perempuan-perempuan khususnya kami yang menempati posisi-posisi strategis dapat berjuang di lininya masing-masing," kata Umi Khorirotin Nasichah melalui sambungan telepon, Rabu (21/04/2021).

 

Misalnya ketika perempuan menjadi guru harus bagaimana, ketika perempuan menjadi aktivis harus seperti apa, dan ketika duduk di ranah politik harus mengerti pula apa yang dilakukan dan bagaimana.

 

"Di level-level strategis itu perempuan bisa bermanfaat khususnya bisa perempuan sendiri," ungkap perempuan yang juga masuk Pengurus Wilayah (PW) Fatayat Jawa Timur Anggota Bidang Advokasi Hukum dan HAM.

 

Masih menurut Umi Khorirotin Nasichah atau Oyiek sapaan akrabnya menjelaskan, selama ini memang dirinya berkutat di dunia perempuan dan anak. Refleksi Hari Kartini hari inimasih banyak sekali yang menjadi korban kekerasan dan ketidakadilan. Walaupun juga berimbang juga banyak wanita yang menempati posisi-posisi strategis dimana pun itu. Namun tidak serta merta mendukung kaum perempuan melalui kebijakan.

 

"Di posisi-posisi strategis tidak semua perempuan itu kemudian bisa sama-sama memperjuangkan kaumnya. Terkadang yang duduk di parlemen tidak semuanya mengawal kebijakan yang pro terhadap perempuan," terangnya kepada NU Online Jatim.

 

Melalui Kopatara, menurutnya lumayan banyak terjadi kekerasan seksual, maupun Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) selama pandemi. 

 

"Banyaknya itu ketika akhir tahun kemarin  2020 kepada kami, karena sudah bisa bertatap muka," imbuhnya.

 

Lebih jauh, pendampingan dalam Kopatara meliputi pelaporan kasus, sidang rehabilitasi reintegrasi, trauma healing, korban pasca trauma. Jika sampai misalnya ada perempuan yang mengandung, ketika anak ini melahirkan harus kemana, sampai psikologisnya.

 

"Misal proses trauma healingnya, psikologisnya kita konseling, sampai proses sidang hukumnya selesai," beber alumni Prodi Matematika UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tersebut.

 

Oyiek berharap, semua perempuan setara seperti RA Kartini perjuangannya melalui emansipasi perempuan khususnya di pendidikan. Kalau perempuan sekarang juga sama dalam hal pendidikan harus memperoleh pendidikan yang layak seperti progam dari pemerintah 'wajib belajar 9 tahun'.

 

"Semua perempuan, umumnya anak punya kesempatan belajar yang sama. Karena ternyata saya melihat di Kabupaten Malang ini masih banyak sekali anak-anak yang hanya sampai SD SMP," pungkas Ibu yang sehari-hari menjadi juga menjadi Konselor di Kopatara ini.

 

Editor: Risma Savhira


Malang Raya Terbaru