• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 9 Desember 2022

Malang Raya

Zuhairi Misrawi: Menulis Menaikkan Kedudukan Manusia

Zuhairi Misrawi: Menulis Menaikkan Kedudukan Manusia
Zuhairi Misrawi atau Gus Mis menjelaskan manfaat menulis. (Foto: NOJ/Hilyatul M)
Zuhairi Misrawi atau Gus Mis menjelaskan manfaat menulis. (Foto: NOJ/Hilyatul M)

Malang, NU Online Jatim
Zuhairi Misrawi atau yang akrab disapa Gus Mis yang merupakan penulis dan tokoh intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU) membagikan pandangan tentang pentingnya menulis. Apalagi di era digital saat ini.
 

"Era digital menjadi peluang yang baik bagi penulis, maka belajarlah ilmunya agar tidak salah menyampaikan," katanya. Hal itu disampaikan saat pelatihan menulis artikel keislaman populer yang diselenggarakan secara daring oleh Islamramah.co pada Ahad (02/01/2022).
 

Menulis, lanjut Gus Mis merupakan salah satu cara meningkatkan makam atau kedudukan seorang manusia.
 

"Menulis adalah mengasah kita menjadi manusia yang lebih berkualitas, sebab di dalamnya ada proses berpikir, mulai dari belajar, membaca, menuangkan ide hingga merangkai kalimat yang damai dan tidak menyakiti," papar Duta Besar Indonesia untuk Tunisia itu.
 

Selain itu, menurut alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir tersebut, menulis juga dapat bernilai pahala jariyah terlebih apabila yang ditulis adalah sesuatu yang memiliki nilai dan manfaat bagi banyak orang. 
 

Mengingat pesan yang pernah disampaikan (alm) KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Gus Mis menyebutkan bahwa ilmu harus disebarkan kepada para pemuda salah satu caranya dengan menulis.
 

"Sebab merekalah para pemuda itu pemegang estafet peradaban bangsa," ungkapnya.
 

Dirinya juga memberikan beberapa tips agar penulis dapat meningkatkan kemampuan. Di antaranya banyak membaca buku, jurnal, berita, kemudian memperhatikan fenomena aktual di sekitar. Juga gagasan arus utama keislaman, dan mencari isu aktual di media sosial.
 

"Setiap penulis ulung, memiliki karakter tulisan masing-masing. Nah, apabila banyak membaca, maka kita bisa menerapkan teknik meniru gaya tulisan orang lain," lanjut pengagum penulis Kompas, Trias Kuncahyono itu.
 

Di akhir paparan, Gus Mis menegaskan bahwa tulisan yang baik adalah tulisan yang solutif.
 

"Jangan menulis hanya menyuguhkan persoalan, tapi baiknya disertai solusi," pungkasnya.


Editor:

Malang Raya Terbaru