• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 1 Oktober 2022

Matraman

Napak Tilas Romusha di Tulungagung Bangun Terowongan Niyama

Napak Tilas Romusha di Tulungagung Bangun Terowongan Niyama
Suasana romusa kala itu membangun Terowongan Niyama. (Foto: NOJ/Istimewa)
Suasana romusa kala itu membangun Terowongan Niyama. (Foto: NOJ/Istimewa)

Tulungagung, NU Online Jatim
Banyak bangunan peninggalan penjajah yang berdiri kokoh hingga saat ini. Seperti proyek Terowongan Niyama yang tidak lepas dari romusha, bentukan pemerintahan Jepang saat menjajah Republik Indonesia kala itu. Ini adalah bukti perjuangan pribumi yang ikut membangun negeri.

Sejarawan asli Tulungagung yang saat ini menjadi Dosen Sejarah Peradaban Islam UIN Raden Mas Said Surakarta, Latif Kusairi mengungkapkan, sekitar tahun 1942-1944 akhir, proyek besar Terowongan Niyama dimulai namun tidak untuk mengalirkan genangan air.

"Munculnya Terowongan Niyama adalah akibat adanya pendudukan pada masa Jepang sebelumnya pada masa Belanda. Latif menyebutkan, sebenarnya sudah ada kanal-kanal untuk pematusan banjir di Tulungagung. Akan tetapi, belum ada terowongan yang memasukkan banjir sampai ke laut selatan," ungkapnya

Baru pada tahun 1942, ketika Jepang berhasil mengalahkan Belanda, dan kemudian Jepang melihat kondisi Tulungagung yang berawa-rawa ketika musim hujan besar. Belanda ini sangat kasihan dan heran, untuk di wilayah residen Kediri proyek pembangunannya diarahkan ke wilayah selatan yaitu ke wilayah Tulungagung. Ditambah lagi, dirinya mengaku ketika menuju wilayah selatan, terbentur oleh Gunung Tumpak Oyot. Sehingga Jepang berinisiatif membuat terowongan.
 

"Proyek pembangunan tersebut sebagai upaya pematusan banjir Tulungagung, caranya membuat kanal yang waktu itu ada dua kanal," terangnya.
 

Kedua kanal itu adalah Parit Agung dan Parit Raya. Parit raya menghubungkan antar sungai Brantas yang sekarang berada di Ngujang, ke selatan sampai menuju ke terowongan Niyama. Sedangkan parit Agung dari Trenggalek diarahkan menuju ke Terowongan Niyama.
 

Sejarawan yang asli Desa Batokan Kecamatan Ngantru Kabupaten Tulungagung ini menceritakan, proses pembuatan parit dilakukan menggunakan tenaga romusha. Terdiri berbagai wilayah ada dari Nganjuk, Trenggalek, ada dari Kediri, Blitar dan sebagainya.
 

Selanjutnya, yang menarik ketika terowongan diresmikan. Semua pejabat hadir, termasuk Kolonel Ichihara dari pusat tentara Jepang, datang langsung untuk meresmikan itu. Kemudian Terowongan Niyama selain sebagai pematusan air juga sebagai kawasan pertahanan selatan di Jawa.
 

"Karena terowongan itu untuk menanggulangi Australia memblok sekutu," jelasnya.
 

Pria yang hobi jalan-jalan ini mengungkapkan, pada masa Jepang dengan romusha, masyarakat desa mengikuti apa yang diperintahkan oleh pamong desa ini kemudian membuat pencarian tenaga romusa sangat mudah. Namun, menyusul kabar tentang perilaku kejam dari Jepang serta kondisi yang buruk  di Niyama, menyebabkan banyak yang merasa bahwa kerja bakti di Niyama adalah pertaruhan hidup.   
 

Pada saat bekerja kondisi yang sangat kejam juga diperlihatkan oleh para mandor Jepang. Bagi pekerja yang malas sudah barang tentu akan dipukul oleh Pengawas  Kelompok (Buten Chok). Meskipun lama, pekerjaan sama dengan seperti ketika para petani bekerja di sawah, tapi pengawasan dan perilaku yang tidak manusiawi dari Jepang.
 

"Dari situ, menyebabkan banyak yang sakit, sedangkan makanan yang diberikan sangat tidak wajar dari makanan yang biasa dimakan oleh keseharian petani," jelasnya.
 

Latif menambahkan, pemberian makanan tidak serta merta diberikan kepada romusa yang telah bekerja. Namun harus bekerja keras agar masuk dalam daftar penerima makanan. Bagi yang tidak bekerja, sudah pasti tidak akan mendapat  jatah makanan, sehingga yang kondisinya sakitpun tidak mendapat makan dan menyebabkan kondisinya bertambah parah.
 

"Waktu malam penduduk harus tidur di barak-barak yang dibangun oleh romusa. Gubuk-gubuk tersebut tanpa dinding dan hanya beratap jerami yang berasal dari sekitar proyek. Keadaan tersebut menyebabkan banyak yang terkena berbagai penyakit," tambahnya.
 

Penderitaan romusa di daerah proyek, diperparah kemunculan wabah malaria yang waktu itu sedang melanda hampir seluruh Jawa. Penderitaan itu mengakibatkan banyak yang terkena malaria, dan mati di Niyama.
 

"Hampir tiap hari ada romusa yang meninggal karena diserang oleh nyamuk malaria. Agaknya tentara Jepang tidak mau ambil pusing terhadap romusa yang meninggal, sehingga tentara Jepang menyuruh para romusa yang masih hidup untuk menguburkan romusa yang meninggal di sekitar pembangunan terowongan," ulasnya.
 

Pria alumnus Ilmu Sejarah Universitas Gajah Mada ini mengatakan, dari pihak Jepang tidak ada upaya pengobatan bagi yang terserang malaria. Para mandor yang mengawasi kerja romusa juga tidak mau tahu tentang kondisi romusa yang sakit dan tetap menyuruh untuk bekerja.
 

"Sehingga orang-orang yang merasa badannya agak sakit memilih untuk bersembunyi di hutan dan banyak diantara mereka yang meninggal di dalam hutan sampai membusuk. Mayat yang berada di hutan itu kemudian telah banyak yang dikubur oleh warga sekitar hutan di daerah hutan. Namun banyak juga yang akhirnya hilang dimakan binatang ataupun tertimbun oleh dedaunan," tandasnya.


Matraman Terbaru