• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 7 Juli 2022

Matraman

Rencana Festival Santet di Banyuwangi, Begini Pandangan Wakil Ketua NU Jatim

Rencana Festival Santet di Banyuwangi, Begini Pandangan Wakil Ketua NU Jatim
KH Abdussalam Sohib, Wakil Ketua PWNU Jatim. (Foto: NOJ/ Syarif Abdurrahman).
KH Abdussalam Sohib, Wakil Ketua PWNU Jatim. (Foto: NOJ/ Syarif Abdurrahman).

Jombang, NU Online Jatim

Bukan hanya pendirian Persatuan Dukun Nusantara (Perdunu) di Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Rabu (03/02/2021) lalu yang heboh. Ternyata ada rencana pagelaran atau festival santet yang membuat banyak kalangan tercengang.

 

Festival santet ini merupakan rencana atau sebatas wacana dari Perdunu yang belum pasti pelaksanaannya. Namun, wacana atau rencana ini sudah menjadi perhatian banyak orang. Sehingga tidak sedikit yang ingin mengetahui seputar festival santet atau santet itu sendiri.

 

Menyikapi hal itu, Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Abdussalam Sohib tak mempermasalahkan munculnya ide festival santet dari kelompok yang mengatas namakan Perdunu di Kabupaten Banyuwangi tersebut.

 

“Kita anggap festival santet ini kekayaan budaya bangsa. Perdunu kita respon dengan sederhana saja. Kan tidak salah orang buat perkumpulan. Ini tidak ada kaitan secara organisasi dengan Nahdlatul Ulama. Hanya secara personal ada kader NU yang di sana,” katanya kepada NU Online Jatim, Sabtu (06/02/2021).

 

Baginya, santet dalam festival itu jika tujuannya baik yaitu agar orang bisa mempelajari cara menangkal sihir berupa santet maka tidak masalah. Meskipun begitu, pihaknya tetap memantau terus agar tidak melenceng dari kaidah Islam.


“Kita tidak boleh terlalu sensitif. Biasa saja. Kita sudah minta pengurus PCNU setempat untuk tetap melihat dan melaporkan perkembangannya,” ungkap Gus Salam.

 

Menurutnya, masalah dukun atau sejenis sihir bukan hal baru dalam sejarah Islam. Hal ini dikarenakan Nabi Muhammad SAW pernah dikirimi sihir oleh Labid bin al-A’sham. Cerita tersebut bersumber dari hadis yang diriwayatkan Aisyah Ra.

 

Berangkat dari hadis ini, kalangan ahlussunnah wal jamaah memiliki keyakinan bahwa dalam pengobatan ada dua cara. Yaitu cara yang logis dan tidak logis. Di Al-Quran juga ada cerita terkait sihir yaitu ketika Nabi Musa mengalahkan ahli sihir Fir’aun.

 

Oleh karenanya, Gus Salam menjelaskan bahwa di kalangan santri dan kaum nahdliyin hal ini sudah populer. Ia juga sudah membahas masalah dukun dalam pandangan fikih sejak lama, tepatnya saat belajar di Ploso Kediri.

 

”Di Fikih, sihir bisa masuk ke jinayat. Bisa masuk ke pidana bila memang bisa dibuktikan oleh orang yang ahli di bidangnya. Prinsipnya dukun itu kan bahasa Indonesia ya, kalau bahasa arabnya tabib. Kalau dalam literasi klasik ada yang bilang tabib, pengobatan, rukyah, suwuk dan sihir,” imbuhnya.

 

Dikatakannya, praktek dukun di kalangan kaum nahdliyin juga ada. Hanya saja tujuannya untuk kebaikan seperti mengobati orang sakit dan mantra yang dilafadzkan berasal dari ayat-ayat Al-Quran. Ada juga yang digunakan untuk menolak santet dan sihir lainnya.

 

“Kalau di NU sebenarnya sudah ada komunitas yang menyelidiki dan mendalami seperti itu, tepatnya di Pagar Nusa,” beber Gus Salam.

 

Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar ini mengingatkan meskipun Islam mengakui keberadaan sihir. Namun, Islam memberikan batasan bahwa dukun atau sihir ini tidak dibenarkan untuk tujuan yang salah atau merugikan orang lain. Tujuannya harus untuk kemashlatan umat dan caranya juga baik.

 

Ia memberikan contoh, mantranya menggunakan ayat Al-Quran dan tujuan untuk menyembuhkan penyakit. Bisa juga untuk melahirkan atau meminta doa dan bacaan tertentu ke kiai agar sembuh dari sakit.

 

Praktek dukun yang dilarang di Islam yaitu memuat unsure syirik atau menyekutukan Allah. Bahkan boleh merawat khodam jin bagi orang baik. Bahkan orang model begini boleh mempelajari sihir yang tidak boleh dipelajari umumnya orang untuk antisipasi atau melawan serangan sihir. Semisal belajar santet agar tahu cara mengobati santet.

 

 

“Dalam fikih tidak ada masalah. Terpenting itu tidak menyalahi aturan. Selama orang itu baik, karakternya baik dan berpedoman dengan aturan agama maka diperbolehkan meminta bantuan jin. Ini ada di catatan pinggir kitab Fathul Wahab,” tutup Gus Salam.

 

Penulis: Syarif Abdurrahman

Editor: Romza


Editor:

Matraman Terbaru