• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 9 Agustus 2022

Matraman

Santri Al-Manar Nganjuk Diminta Semangat dan Telaten Belajar

Santri Al-Manar Nganjuk Diminta Semangat dan Telaten Belajar
KH Abu Bakar Abdul Jalil atau Gus Ab meminta santri Al-Manar Nganjuk semangat dan telaten belajar. (Foto: NOJ/M Nazar Afandi)
KH Abu Bakar Abdul Jalil atau Gus Ab meminta santri Al-Manar Nganjuk semangat dan telaten belajar. (Foto: NOJ/M Nazar Afandi)

Nganjuk, NU Online Jatim

Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyyah, Bandar Kidul, Kota Kediri, KH Abu Bakar Abdul Jalil atau Gus Ab menyampaikan sejumlah pesan kepada para santri, salah satunya meminta agar terus semangat belajar dan telaten.

 

Hal tersebut disampaikan saat Majelis Ta’lim, Dzikir dan Sholawat Junuudul Mustofa sekaligus peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul Masyayikh Alil Karim. Kegiatan dipusatkan di Pondok Pesantren Fathul Mubtadi’in atau Al-Manar, Dusun Grompol, Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk, Jumat (10/12/2021).

 

“Saya berpesan agar kalian semuanya benar-benar telaten, istiqomah, taat, tunduk dengan aturan pesantren dan pesan pengasuh. Mugo-mugo ilmune barokah,” ujar Gus Ab.

 

Ia menyebutkan, bahwa kunci ilmu barokah dan kesuksesan santri ialah telaten dan tidak bosan belajar di pesantren. “Jangan bosan-bosan belajar di Madrasah Al-Manar. Teruslah semangat mencari wawasan keagamaan yang luas,” ungkapnya.

 

Selain itu, santri hendaknya saling menerapkan nilai Bhinneka Tunggal Ika. Karena tipikal santri itu beragam, begitu pula di masyarakat. Artinya nilai budaya, suku hingga keyakinan di Indonesia itu beragam.

 

“Dengan demikian, santri jadinya tidak kaku dalam menghadapi perbedaan dan tidak serta merta menyalahkan yang berbeda dengan dirinya,” tegasnya.

 

Tak hanya itu, ia meminta agar santri semangat mencintai tanah air. Hal itu karena santri dilahirkan, dibesarkan, dan mencari penghidupan di tanah air Indonesia. Yaitu dengan menjaga keutuhan nilai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

 

“Kita dibesarkan, hidup, dan mencari penghidupan di Indonesia. Maka prinsipnya Nadlatul Ulama (NU), santri, pondok pesantren itu NKRI harga mati,” lanjutnya.

 

Dirinya pun mengajak agar santri bisa saling mencintai antar sesama manusia, lebih luasnya juga pada sesama makhluk hidup. Karena semuanya adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang patut dihargai dan dihormati.

 

“Ayo memanusiakan manusia, meskipun (bertemu orang) bodoh. Meski demikian kita tetap harus menghargai dan menghormati,” tandasnya.

 

Editor: A Habiburrahman


Matraman Terbaru