• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 3 Juli 2022

Metropolis

Bupati Sidoarjo Ajak Santri Optimalkan Dakwah Digital

Bupati Sidoarjo Ajak Santri Optimalkan Dakwah Digital
Ahmad Muhdlor Ali, Bupati Sidoarjo saat memberi sambutan pada salah satu acara Ansor di Sidoarjo. Foto: Istimewa
Ahmad Muhdlor Ali, Bupati Sidoarjo saat memberi sambutan pada salah satu acara Ansor di Sidoarjo. Foto: Istimewa

Sidoarjo, NU Online Jatim

Bupati Sidoarjo, Ahmad Muhdlor Ali mengajak seluruh Nahdliyin untuk mengubah  pola piker dengan memulai dan mendukung dakwah digital. Hal itu disampaikan saat mengisi sarasehan “Inovasi Dalam Literasi Dakwah Digital” dalam rangka launcing di Pondok Pesantren Bumi Sholawat, Tulangan, Sidoarjo, Ahad (20/02/2022).

 

“Jika itu digerakkan, saya yakin akan muncul Lirboyo Channel, Denanyar Channel dan lainya dengan subscribe. Yang saya yakin ketika kita satu padu mendukung bersama dakwah digital pesantren yang mengajarkan pemikiran salafus shalah ini akan masuk ke masyarakat luas,” kata Gus Muhdlor.

 

Putra Wakil Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim KH Agus Ali Mashuri tersebut menuturkan bahwa ulama dulu merawat pemikirannya melalui menulis kitab. Sehingga selama kitab itu masih ada, pemikirannya akan awet dan terus akan dibaca serta dipelajari oleh masyarakat.

 

“Yang jadi masalah adalah saat ini minat baca berkurang dan bergeser. Salah satu yang masih efektif dan awet saat ini adalah dakwah digital.  Oleh karena itu mindset harus diubah yakni dimulai dakwah dengan cara digital,” ungkapnya.  

 

Gus Muhdlor memaparkan, sejumlah data menyebutkan bahwa 8 jam warga Indonesia mengakses handphone. Kemudian 80 persen handphone digunakan sebagai alat komunikasi. Namun data lain menyebutkan bahwa 63 persen mengunakan handphone untuk mengisi waktu luang.

 

“Jika media tidak dipenuhi konten dakwah digital, tinggal menunggu waktu radikalisme akan masuk, pornografi akan masuk,” terangnya.

 

Untuk mengatasi masalah ini, Gus Muhdlor mengajak untuk bersama-sama menggerakkan dakwah digital pesantren. Jika ini berjalan, maka yang mendapat jutaan subscriber tidak hanya para artis.

 

“Yang saya sampaikan ini otokritik bagi kita semua. Bahwa NU, Muslimat, Ansor, Fatayat dan sebagainya punya massa yang sangat besar. Ini harus dipastikan bisa relevan dengan zamannya,” ucapnya.

  

Ia yakin para santri adalah penggerak utama untuk dakwah digital. Karena menurutnya, setiap orang merupakan dai. Tinggal melihat kapasitasnya di mana. “Otokritik dari saya ini jadikan sebagai semangat bahwa seluruh warga NU selamat dan relevan dengan zamannya,” tandasnya.


Editor:

Metropolis Terbaru