• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 1 Desember 2022

Metropolis

Kader PMII Asal Bangkalan Bicara Santri Mendunia di Samarinda

Kader PMII Asal Bangkalan Bicara Santri Mendunia di Samarinda
Muqaffi Ahmad (baju putih) saat bicara Santri Mendunia di Samarinda. (Foto: NOJ/ Boy Ardiansyah)
Muqaffi Ahmad (baju putih) saat bicara Santri Mendunia di Samarinda. (Foto: NOJ/ Boy Ardiansyah)

Sidoarjo, NU Online Jatim

Anggota Pengurus Besar (PB) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bidang Hubungan Internasional Muqaffi Ahmad menuturkan, santri tidak hanya seseorang yang mengenyam pendidikan di lingkungan pesantren. Namun santri adalah semua orang yang belajar dan berkhidmat untuk pesantren.

 

Hal itu disampaikan saat mengisi acara Sharing Session bertajuk ‘Santri Mendunia? Siapa Takut?’ oleh Pengurus Cabang (PC) PMII Kota Samarinda. Kegiatan tersebut dipusatkan di Kafe Kopi Jadi, Jalan Rumbia kabupaten setempat, Selasa (19/01/2022).

 

‘’Siapapun yang sudah dibaiat di PMII, maka sudah pasti dikatakan sebagai santri. Karena amaliyah yang dijalankan oleh santri juga dijalankan di PMII,’ ucap Muqaffi.

 

Muqaffi menyampaikan, bahwa kader PMII harus tuntas dengan narasi ‘ikhlas’ untuk berkhidmat di NU, Islam, bangsa, dan negara melalui PMII. Selain itu, ia mengingatkan untuk merefleksikan kembali tujuan ber-PMII sebelum melangkah pada aspek lain.

 

“Sehingga nantinya kita di PMII bergerak atas nama keumatan dan mampu berperan sebagai problem solver. Dengan demikian, maka terwujud santri yang menjadi generasi emas,” ujar mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Sunan Sunan Ampel (UINSA) Surabaya tersebut.

 

Pria yang menamatkan pendidikan sarjana di International University of Africa, Sudan tersebut menambahkan, bahwa potret santri mendunia di era society 5.0 harus mampu bergerak searah dengan kemajuan teknologi yang sarat akan karakteristik humanis. 

 

Namun demikian, hal tersebut perlu dibarengi dengan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM). Serta ditunjang dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah di Indonesia.

 

“Dengan modal itu, kader-kader PMII yang merupakan santri pergerakan tidak hanya menyaksikan tapi mampu berperan dan turut andil dalam membangun peradaban,” jelasnya.

 

Alumni Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep itu juga menyampaikan, untuk menjadi santri mendunia yang kaffah, harus tuntas pada empat hal. Pertama, skill bahasa. Yang merupakan alat komunikasi untuk membangun jaringan dari berbagai negara.

  

“Kedua, analisa global, sehingga terbitlah pribadi yang adaptif, kreatif, inovatif, problem solver. Ketiga melek digital, dan keempat berkolaborasi,” pungkasnya.


Metropolis Terbaru